🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Fuck!" Kondisi Christopher dan para pasukannya kini semakin genting. Di mana kondisi mereka saat ini tengah di kepung oleh para militen ISIS di setiap penjuru Baghdad.
Napas Christopher memburu cepat di dalam mobil baja anti peluru yang mereka kendarai. Kedua matanya yang menoleh ke arah luar kini beralih menatap nanar pada tiga pasukannya yang terluka setelah terkena ledakan bom mortir dari para teroris Irak tersebut. Di tambah, kini puluhan pasukannya yang banyak mengalami luka berat dan mengalami penurunan moral tempur. Sehingga, kini hanya menyisakan beberapa pasukan saja yang masih bisa bertahan untuk menghadapi para musuh yang terbilang sangat banyak di tengah-tengah stok amunisi mereka yang semakin menipis.
Apa lagi, posisi mereka yang terus di gempur secara habis-habisan oleh para pasukan musuh, membuat Christopher dan para pasukannya mau tidak mau harus terus menembakan amunisi mereka tanpa henti pada lawan yang seakan tidak pernah ada habisnya dan terus berdatangan menembaki mereka semua.
"Komandan, kita telah kekurangan amunisi dan juga logistik. Semua obat-obatan bahkan sudah hampir menipis." Ujar Troy salah satu pasukannya.
"Troy, aku sudah berusaha menghubungi markas untuk meminta bantuan tembakan dan juga tambahan pasukan pada mereka. Tetapi mereka belum memberi respon. Kita terpaksa harus menghadapi para musuh dengan senjata kita yang masih tersisa." Christopher akan berusaha melindungi beberapa pasukannya yang masih tersisa, dia tidak akan menyerah. Walau pun dia tahu jika posisi dan kekuatan mereka saat ini memang kalah jauh di bandingkan dengan para musuh mereka yang berjumlah sangat banyak itu. Karena bagi Christopher menyerah pada musuh sama saja merendahkan harga diri dan juga martabat mereka sebagai seorang navy SEAL.
Christopher tidak bisa lagi mundur meski pun amunisi yang mereka bawa kini semakin menipis dan hanya menyisakan beberapa SEAL saja. Sedangkan bantuan dan dukungan dari markas tidak bisa datang dengan tepat waktu, maka dari itu dia akan memakai senjata lain yang dia bawa seperti glock, pisau dan melee untuk melindungi dirinya dari serangan para musuh.
"Tapi, sir. Kita tidak bisa melakukan perlawanan lebih lama lagi. Kemungkinan besar kita semua akan tertangkap dan di jadikan tahanan oleh mereka, atau mungkin kita semua akan mati terbunuh di tempat oleh mereka semua, sir."
"Fucking shit!" Christopher mengumpat dengan gigi terpaut rapat.
Kedua tangannya mencengkram kuat senapan yang siap kapan saja bisa mereka tembakan pelurunya pada para musuh yang datang menyerang mereka.