Chapter 18

3.8K 93 24
                                        

"Sayang, tenanglah. Jangan gugup seperti ini. Ini adalah hari bahagiamu bersama Christopher," Ujar Ellena. Wanita itu tersenyum hangat, sinar kelembutannya terpancar, sedangkan tangannya kini menggenggam tangan calon istri dari anaknya itu erat, seakan menyalurkan ketenangan yang meneduhkan untuk Vallen.

Vallen menarik napas dalam-dalam, membiarkan udara memenuhi paru-parunya untuk meredam rasa cemas dan gelombang gugup yang berkejaran di dadanya sebelum ia benar-benar melangkah anggun menuju altar pernikahannya bersama Christopher Back.

Tidak banyak tamu yang mereka undang, hanya segelintir sanak saudara terdekat dari Ellena dan lingkaran sahabat karib Christopher yang kehadirannya tulus dan bermakna.

"Aunty..." Vallen menatap aunty Ellena dengan mata berkaca-kaca, genangan air bening mengambang di pelupuknya. Tiba-tiba saja perasaannya terasa gamang, diliputi kesedihan yang menusuk, terutama ketika bayang keluarganya yang tiada kembali membayang, merintih dalam diam karena tak bisa menyaksikan hari bahagianya itu bersama Christopher.

"Mari, nak! Pendeta sudah menunggumu di dalam," Ucap Ellena lembut. Vallen mengangguk pelan, dadanya sesak, dan mereka berdua akhirnya memasuki gereja itu dengan langkah tertahan, berjalan pelan menyusuri lorong menuju altar pernikahan sakral antara dirinya bersama Christopher.

Kakinya terasa semakin gemetar, gemetar yang merambat hingga ke ujung jemari, terutama ketika sorot matanya menangkap sang pendeta dan juga Christopher yang kini sudah berdiri tegak, menunggunya dengan sabar di depan meja altar pernikahan mereka.

Tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun dari Vallen, Christopher tak henti mengulas senyum bahagianya yang tulus pada wanita itu. Christopher seolah terpaku, terpanah oleh pesona wanita itu, ketika melihat Vallen yang mengenakan gaun pernikahan pilihannya itu menjuntai anggun. Wanita itu terlihat anggun dan cantik memesona, dengan polesan riasan yang natural dan segar, memancarkan aura suci. Kali ini Vallen terlihat menawan, memesona, dan begitu spesial di matanya.

Christopher melangkah mendekati Vallen, jantungnya berdebar kencang. Ia lalu berlutut anggun di hadapan wanita itu, lalu mengulurkan tangan kanannya yang hangat pada calon mempelai wanitanya itu.

"You look so beautiful." Bisiknya serak, penuh kekaguman.

Vallen tersenyum, senyum gugup yang menggetarkan, seraya meraih uluran tangan Christopher dengan ragu namun pasti. Pria itu lalu menorehkan sebuah kecupan ringan bagai sayap kupu-kupu pada punggung tangan kanan Vallen sebelum ia menggandeng wanita itu untuk berdiri berdampingan di hadapan sang pendeta.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan sakral, dan upacara pemberkatan pernikahan pun akan segera dilangsungkan, menjadi saksi di hadapan pendeta dan juga para tamu undangan.

Brag!

Dan di saat itu juga, dentuman memecah khidmat, semua mata sontak menoleh ke arah suara gebrakan keras yang menggelegar dari arah pintu gereja tersebut.

Mereka semua memekik kaget, jerit panik pecah, ketika suara desingan peluru yang dingin terdengar menderu dari arah luar gereja. Sontak seluruh tamu undangan yang hadir pun berteriak histeris dan berhamburan kalang kabut untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing ketika puluhan pria-pria bersenjata lengkap dan bertopeng hitam tiba-tiba saja menerobos masuk ke dalam gereja tersebut dan dengan kasar menghentikan upacara pemberkatan pernikahan Vallen dan juga Christopher.

Kedua mata Vallen dan juga Christopher terbelalak lebar, pupilnya menyusut karena syok. "Chris, ada apa ini?" Serunya lirih tercekat. Tanpa berpikir panjang lagi, Christhoper segera menarik tubuh Vallen dan juga ibunya rapat ke arah belakang tubuhnya, menjadikannya perisai. Pria itu langsung menarik pistol yang terselip di balik tuxedonya dengan sigap dan waspada, rahangnya mengeras. "Aku tidak tahu, mom. Kalian tetaplah di belakangku," Perintahnya tegas, nadanya melindungi.

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang