Chapter 8

5.3K 114 11
                                        

Vallen tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kedua matanya memerah karena habis menangis, tapi ia tak berkedip menatapi wanita yang kini duduk di atas pangkuan Dante.

"Vallen__" Dante bergumam pelan, suaranya serak.

"Kalian semua pembunuh!"

Teriakan Vallen pecah, suaranya bergetar penuh amarah. Ia menatap satu per satu orang yang ada di ruangan itu, seolah dia ingin mengukir wajah mereka semua di dalam ingatannya.

"Apa yang kau katakan?" Evan mengangkat alisnya, bingung menatap Vallen.

"Siapa dia?" Sandra yang masih duduk di pangkuan Dante mengerutkan dahi, ia tidak suka dengan tatapan penuh kebencian wanita itu.

"Sandra, menyingkirlah." Dante bergerak tidak nyaman di bawah tatapan sinis Vallen. Ia mendorong tubuh Sandra agar wanita itu bangkit dari pangkuannya.

"You... All of you... Have killed my fucking family!" Vallen berteriak sekuat tenaganya. Air mata kembali jatuh, tapi ia buru-buru menyekanya sebelum akhirnya dia berbalik dan berlari keluar dari ruangan kerja Dante.

"Sial!" Dante mengumpat kasar. Ia mendorong Sandra agar wanita itu bangkit dari pangkuannya, pria itu lalu berdiri dan mengejar Vallen yang sudah berlari kembali ke kamarnya.

"Dante!" Sandra hendak mengejar pria itu, tapi Evan dengan cepat meraih pergelangan tangannya dan menggeleng pelan.

"Jangan, Sandra. Tunggu di sini. Biarkan aku yang menyusulnya."

"Tapi-" Sandra menatap Evan lama, lalu mengangguk kecil.

"Alright. I'll wait for you here." Evan tersenyum tipis, menghela napas dalam, lalu pergi mengikuti Dante. Meninggalkan Sandra sendirian di ruangan itu, diliputi rasa penasaran pada perempuan yang baru saja membuat Dante kehilangan kendali.

 Meninggalkan Sandra sendirian di ruangan itu, diliputi rasa penasaran pada perempuan yang baru saja membuat Dante kehilangan kendali

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

""Vallen berhenti!"

"Pergi!"

Dante terpaku sesaat ketika dia mendengar suara lirih itu. Pria itu kemudian mendorong pintu kamar dan menguncinya dari dalam.

"KATAKAN! Kau yang membunuh keluargaku bukan?!" Dante berjalan mendekat saat Vallen duduk di tepi ranjang dan menangis dengan tubuhnya yang gemetar hebat.

"Jawab!" Vallen mendongak. Tatapannya terlihat hancur, penuh kebencian. Ia tak pernah menyangka jika Dante sanggup melakukan kekejaman itu pada keluarganya. Seolah dia belum cukup telah menjadikannya sebagai tawanan.

"Siapa yang mengatakan itu padamu, hm?" Suara Dante rendah, berbahaya.

"Apa lagi yang kau inginkan dariku, Dante? Tidak cukupkah kau melenyapkan keluargaku?!" Vallen kembali menangis. Tidak ada kata yang cukup untuk menggambarkan rasa hancur di dadanya.

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang