🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Billy." Dante, pria itu memanggilnya, sebuah rokok kini tersemat pada bibir pria itu. Billy menggeleng melihat Dante yang hampir seharian ini tidak berhenti untuk menghisap rokok atau pun menegak alkoholnya. Aroma rokok dan alkhol bahkan telah memenuhi seisi ruangan kerja milik pria itu. "Dimana Eldatan? Tanyakan padanya apa istri kecilku masih tidak mau memakan makanan yang telah di siapkan oleh para koki di rumah ini?" Dante tertawa, pria itu sudah dalam keadaan mabuk berat.
Billy berdecak, tubuhnya yang bersandar pada meja lalu bergerak dan berjalan pada sofa lalu duduk di hadapan Dante. "Dengar! kenapa kau harus menikahinya? Ada banyak perempuan di luar sana yang bisa kau nikahi, Dante. Apa kau tidak mendengar apa yang Evan katakan kemarin? Jika Christopher adalah anak dari Adrian Beck?" Billy mendengkus. "Bersiaplah karena ku yakin jika setelah ini kita semua akan mendapatkan dampak buruk dari tindakan konyolmu itu, Dante." Billy memperingatinya.
"Hm, I know." Dante meraih pistol yang berada di atas meja lalu membuka soket pelurunya untuk memeriksanya. "Kau tidak perlu untuk menasehatiku, di sini akulah don-mu."
"Cih__ sudahlah. Kita memang tidak bisa berbicara ketika kau dalam keadaan mabuk seperti ini."
Billy menatap meja yang kini terlihat berantakan oleh botol-botol alkohol serta puntung abu rokok dan juga bubuk-bubuk kokain yang berserakan di atasnya. Pria itu menarik napas panjang lalu menuangkan vodka ke dalam gelas kristal yang tersedia di atas meja sebelum dia kembali menatap Dante dan menyandrakan punggungnya pada kepala sofa.
"What makes you so fucking crazy about him?"
Dante lalu menarik pelatuk pistolnya beberapa kali.
"What the fuck!" Billy mengumpat ketika Dante tiba-tiba saja meletuskan tembakan miliknya tepat di samping kepalanya. Sontak dia menjatuhkan gelas dalam genggamannya itu begitu saja. Tembakan itu hampir saja mengenai kepalanya seandainya saja Billy bergerak sedikit saja dari tempatnya kini berada. "Sebaiknya kau diam! Karena kau benar-benar membuatku ingin meledakan kepalamu, Billy!"