Nak, tepatnya beberapa hari yang lalu, aku telah mendapatkan kabar dari Markas Besar Pentagon, Amerika Serikat, jika dirimu beserta dengan timmu akan segera ditugaskan pergi ke Irak. Kau harus menyelamatkan setidaknya sekitar 50 sandera di sana. Mereka bahkan telah menggali kuburan massal untuk para sandera. Kami sangat khawatir, jikalau kalian tidak segera melakukan penggerebekan itu— kemungkinan besar para militan ISIS itu akan segera mengeksekusi para sandera.
Perkataan Adrian Back itu terus menggema, menghantam benaknya berulang kali. Mata hitam pekatnya meredup, diliputi pandangan kosong. Ia lalu menenggak kembali alkoholnya dari atas meja konter bar yang sedari sore ia datangi. Bagaimana bisa Christopher harus meninggalkan Amerika untuk waktu yang cukup lama, mengingat ia ingin sekali menyelamatkan Vallen dari jeratan tangan Dante. Tapi mau bagaimana lagi, tugasnya sebagai seorang tentara mengharuskannya selalu siap untuk melaksanakan tanggung jawab dan juga tugasnya dalam melindungi bangsa dan juga negaranya.
Christopher menenggak lagi alkoholnya hingga tandas. "Tambah lagi."
Bartender itu menggeleng-gelengkan kepalanya, menatap Christopher lelah. "Kau sudah menghabiskan berbotol-botol alkohol sedari tadi," jawabnya, seraya menuangkan kembali alkohol dari botol ke dalam gelas milik Christopher.
Namun Christopher tetap diam, enggan menyahuti ucapan pria itu, lalu menenggak lagi gelas berisi alkoholnya dengan tatapan kosong yang hampa.
"Again..."
Raut kesal nampak jelas terpahat pada wajah bartender yang tengah mengelap-elap gelas kaca itu. Ia memutar kedua bola matanya, menghembuskan napas gusar, lalu terpaksa menuangkan kembali cairan alkohol dari botol besar itu ke dalam gelas milik Christopher.
Kemudian ingatannya kembali melayang pada gadis itu. Kedua matanya terpejam, hingga kegelapan kini menariknya lagi ke dalam bayang-bayang wajah cantik Vallen. Bagai hampa dan mati rasa, setiap detik jarum jam terasa seperti membentuk simpul tajam nan menusuk jantung. Christopher mengira— mendatangi ayahnya adalah solusi tepat untuk membantunya membebaskan gadis pujaannya dari jeratan Dante Petterson. Ia mengira Adrian akan membantunya keluar dari semua rasa sakitnya. Namun nyatanya tidak, hingga Christopher terpaksa harus menelan kembali pil pahit yang seolah telah mematikan semua indera perasanya kini, mengingat Vallen yang masih berada di dalam genggaman pria lain.
Ia bahkan tidak memiliki waktu lagi untuk menyelamatkan Vallen. Karena dalam waktu empat puluh delapan jam, Markas Besar Pentagon akan mengirim Christopher dan juga para pasukannya menuju Irak hingga batas waktu yang tidak ditentukan. Mereka akan pergi untuk menjalankan misi pembebasan beberapa warga negara asli Somalia dan juga beberapa warga asli Amerika Serikat yang telah menjadi sandera para teroris di sebuah gereja Katolik di wilayah Baghdad, Irak.
Sial! Christopher meraup kasar wajahnya. Ia bahkan tidak bisa menghentikan bayang-bayang wajah gadis itu yang selalu terlintas di kepalanya. Kehilangan sosok Vallen seolah terus menarik dirinya ke dalam mimpi buruk yang terus menghantui tidurnya.
Karena tanpa Vallen— hidup bagai berjalan di atas hamparan bara api. Sakit dan juga pedih Christopher rasakan, bahkan di setiap detiknya. Dan Vallen, ia tidak akan terlupakan dan akan selalu menjadi kenangan indah yang tidak akan pernah pudar dari ingatannya.
"Pour me some more."
"Hai, man, sorry, tapi kau sudah duduk seharian tanpa membayar minumanmu ini. _I'm sorry_, aku sungguh tidak bisa menuangkan lagi minuman ini karena sekarang kau juga sudah sangat mabuk."
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
