Chapter 4

8.9K 161 26
                                        

"Gabrielle! Vallen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Gabrielle! Vallen... Vallen anakku... dia belum juga pulang sedari siang! Aku menyuruhnya pergi untuk membelikan buah-buahan di pasar," Ratap Mia, suaranya pecah diselimuti isak tangis yang histeris.

"Tapi putriku tak kunjung pulang, Gabrielle! Aku dan Pellin sudah lelah mencarinya ke mana-mana. Dan sekarang hari bahkan sudah berganti malam. Aku sangat mengkhawatirkan keselamatannya, Gabrielle! Bagaimana jika orang-orang kejam itu benar-benar membawa paksa putriku, hm? Aku tidak mau sampai hal buruk itu terjadi! Mereka semua adalah penjahat, Gabrielle! Mereka semua monster penjahat!"

Isak tangis Mia semakin pecah seketika.

Perempuan itu menangis sejadi-jadinya, meratapi nasib Vallen yang tak kunjung kembali ke rumah hingga detik ini.

"Brengsek!" Umpat pria tua itu. "Mia... apa kau sudah mencoba menghubungi teman-teman dekat Vallen di sekitar desa ini?"

Profesor Gabrielle terpaksa menelan ludahnya dengan susah payah sembari memijat pelipisnya yang mulai berdenyut kasar. Ia didera rasa frustrasi yang luar biasa hingga mencengkeram kepalanya kuat-kuat. Jantungnya terasa seperti dihantam oleh gelombang ketakutan yang membuncah hebat. Terutama ketika ia mendengar kabar bahwa putri pertamanya hingga sampai detik ini belum juga kembali ke rumah mereka.

"Mia, sebaiknya sekarang juga kau kemasi barang-barang penting kita. Kita harus segera pergi angkat kaki dari rumah ini, sebelum mereka semua datang menyergap kemari."

"Gabrielle, kenapa kita harus melarikan diri dari rumah ini?! Bagaimana jika nanti Vallen pulang dan kita sudah tidak berada di rumah ini lagi?!" Mia meremas jari jemarinya dengan sangat gelisah.
Ia lantas menjatuhkan bokongnya di atas sofa sembari terus terisak. Napasnya tersengal-sengal oleh rasa panik yang menghujam telak dadanya.

"Mia, maafkan aku... tapi kita benar-benar harus segera pergi dari tempat ini. Aku bersumpah dan berjanji kepadamu, aku akan segera memerintahkan para anak buahku untuk mencari keberadaan Vallen," Profesor Gabrielle memijat pangkal hidungnya dengan gelisah.

Gabrielle merasa jika dirinya kali ini benar-benar didera ketakutan yang teramat sangat. Ia teramat menyesal karena telah nekat mengkhianati outfit dan memilih bekerja sama dengan para agen federal. Hinggs pada akhirnya, perbuatannya itu kini memberikan dampak yang sangat buruk bagi keselamatan keluarganya sendiri.

Di lain sisi, pria tua itu sebenarnya tidak memiliki kuasa untuk menolak permintaan dari pihak para penegak hukum. Mereka mendesak dan menjadikannya seorang mata-mata rahasia untuk mengawasi Dante Petterson—seorang pemimpin tertinggi kelompok kriminal terbesar di wilayah Kolombia dan juga di Amerika Serikat.

Namun nasib buruk menimpanya, organisasi mafia milik Dante justru bergerak jauh lebih taktis. Mereka terlebih dahulu mengetahui dan menyadari jika selama ini Profesor Gabrielle telah bekerja sama dengan para agen FBI. Jaringan intelijen Dante mendeteksi bahwa pria itu telah menjadi mata-mata di dalam kartel mereka. Gabrielle bergerak bersama dengan agen federal bernama Ted Bundy.

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang