🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bisakah kau memberitahu diriku tentang mereka. Ku harap jika kau bisa segera membuka mulut tentang siapa kau dan kenapa kau bisa bersama mereka? Sebelum kepolisian benar-benar membawa dirimu pergi dari sini." Aku mendongak dan menatapnya kembali, haruskah aku membuka mulut dan mengatakan apa yang ku lihat selama ini kepada pria yang ada di hadapanku saat ini. Lalu bagaimana jika diriku di penjara setelah tertangkap tengah bersama dengan para penjahat itu?
"Apa kau mendengarku?" Suara pria itu sontak mengembalikan pikiranku pada dunia nyata.
Dia tersenyum padaku lalu menghela napas dalam karena tak kunjung mendengar diriku mengeluarkan sepatah katapun padanya.
"Baiklah istirhatlah." Hingga pada akhirnya dia pun memutuskan memutar badannya dan ingin keluar dari dalam ruangan ini.
Aku berusaha menguatkan hatiku untuk bisa berbicara dengannya. Ya, aku tidak bisa berdiam diri seperti ini. Aku harus bisa membuka mulutku untuk berbicara tentang apa yang aku lihat selama ini padanya, mungkin saja saat ini dia bisa membantu diriku untuk keluar dari dunia hitam yang telah Dante ciptakan dalam kehidupanku ini.
Kejadian demi kejadian yang ku lalui ketika bersama Dante seolah bagai mimpi buruk yang telah terpatri jelas di dalam jiwa dan juga benakku hingga sampai detik ini. Maka dari itu, aku harus segera menghentikan mimpi buruk ini, aku tidak ingin kembali lagi ke rumah itu dan mengalami kembali kejadian yang lebih buruk lagi menimpa diriku.
Aku menatap punggung lebarnya, senjata jelas masih tersampir pada punggung lebarnya itu. Pria itu terlihat sangat berani dan memiliki tubuh tinggi dan juga tegap seperti tubuh yang di mikiki Dante. Dengan beberapa tato yang terlukis indah di beberapa sudut leher dan juga kedua tangannya membuat dia terlihat berbeda dengan tentara lainnya.
Aku meremas tanganku sebelum aku mengeluarkan suaraku pelan.
"Vallen Cooper. " Bibirku bergetar
Pria itu menghentikan langkahnya dan berdiri membelakangiku. Dia nampak diam sesaat sebelum akhirnya dia kembali membalikan tubuhnya dan menatapku lagi. Kedua mata kami kini kembali saling bertemu.
Tanpa sadar air mata ini kembali menetes dari kedua ujung mataku.
Dia kembali mendekat lalu berlutut di hadapanku. "Jadi kau anak dari__"
Aku mengangguk. "Ya, aku__ Aku adalah putri dari Profesor Gabrielle."
Dia menatap kedua bola mataku lalu menghapus air mataku ini dengan menggunakan tangannya. "Ceritakan padaku bagaimana kau bisa bersama dengan seorang Dante Petterson?"
"A-aku__ " Aku tidak bisa melanjutkan ucapanku dan kembali terisak, pria itu mencoba menenangkan diriku dengan mengusap bahuku pelan. Aku hanya tidak bisa mengingat kembali memori menyakitkan ketika Dante menculik diriku, aku hanya tidak ingin membangunkan kembali memori itu. Kematian keluargaku yang di sebabkan oleh Dante bahkan bagai sebuah luka tusukan belati yang masih sangat menyakitkan, yang tidak akan pernah bisa terobati oleh apapun.