"Apa yang kau inginkan dariku? Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Nate pasti akan mencariku," Ucap Vallen. Telapak tangannya menghantam dada Dante, menolak dengan sekuat tenaga yang tersisa.
"Stay here," Perintah Dante, dingin dan tanpa ruang untuk dibantah
Namun usaha Vallen nihil, dan gerakannya harus berhenti karena di detik berikutnya-- Dante menarik kedua pergelangan tangan Vallen dan membawanya ke belakang punggung, menahan dan mencengkram pergelangan tangan Vallen dengan begitu kuat.
"Dante! Suéltame! Por qué eres tan cabrón?!" Pekik Vallen. Suaranya serak, pecah antara marah dan putus asa. Tubuhnya meronta, sia-sia.
"Tentu saja aku tidak akan melepaskanmu." Dante berusaha mencium bibir Vallen, dia tidak peduli sama sekali dengan penolakan keras dari wanita itu.
Pria itu terus memaksa dan mencium bibir Vallen dengan tergesa-gesa, mendorong kembali tubuhnya ke arah dinding tanpa melepaskan pergelangan tangan wanita itu, mencengkramnya ke arah belakang dengan sangat keras. Sehingga Vallen tidak bisa melepaskan diri dari pria itu.
"Balas ciumanku." Sedangkan tangan kanan Dante kini berusaha menahan tengkuk Vallen, mencumbu dan mencium bibir wanita itu dengan sangat rakus dan ganas.
Hmmppphh.
Dante terus berusaha memainkan serta meneroboskan lidahnya ke dalam rongga mulut Vallen, dia bahkan melakukannya dengan tergesa-gesa, membuat Vallen sesak napas karena pria itu yang tidak mau memberinya kesempatan untuk berhenti sebentar.
Bercinta denganku di sini hm? Dante bergumam di sela-sela ciumannya yang membakar.
Sesak, Vallen merasakan jika jantungnya begitu meledak, membuat napasnya begitu tersengal-sengal oleh ciuman Dante yang terlampau ganas dan memabukan.
Dante terus mencium, melumat dengan sesekali menggigit bibir bawah Vallen dan menariknya secara perlahan.
"Dante! Aku-, aku tidak bisa bernapas sialan!" Kata Vallen dengan napas memburu cepat. Tapi Dante tidak mendengar dan semakin gila melumat bibir wanita itu.
Aakhh-,
Vallen terkesiap ketika tiba-tiba Dante mengangkat tubuhnya dengan mudah ke atas meja wastafel tanpa melepaskan ciumannya yang memabukkan.
"Hmmm... You are my wife, you are fucking mine too..." Gumam Dante sambil menyingkap dress yang Vallen kenakan, mengelus paha wanita itu perlahan-lahan dan mencumbui bibir, rahang serta leher dan berakhir mencium dan mengiggit kecil daun telinga Vallen kemudian berbisik. "Tidak ada yang boleh memiliki dirimu selain diriku. Siapapun itu... Tidak boleh, apa kau mengerti?"
Tatapan Dante menelusuri mata cokelat Vallen, dalam dan tanpa berkedip. Napas wanita itu berembus cepat, hangat, menerpa wajahnya yang hanya berjarak sejengkal.
"Apa kau gila?"
"Katakan saja jika aku memang gila." Dante tersenyum miring nyaris terlihat seperti menyeringai. "Sebab aku sudah tidak tahan lagi dan aku tidak bisa untuk menunggu lebih lama lagi untuk bisa menyentuh dirimu." Dante kemudian menyerukan wajahnya di dalam ceruk leher Vallen, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita itu sebelum kembali menyerang bibir Vallen dengan ciumannya yang lebih memabukkan.
"Stop it!" Vallen berusaha melepaskan tangannya, namun Dante semakin keras memegangi pergelangan tangan Vallen, menahannya tepat di sisi tubuh Vallen begitu kuat dan keras.
Dante menolak melepaskannya. Ia menahan tubuh Vallen rapat ke tubuhnya, menghapus jarak yang tersisa. Napasnya berat. Matanya gelap, menatap Vallen seperti predator mengincar mangsa.
Lidah pria itu dengan lancangnya terus mendorong bibir Vallen agar bisa masuk menyentuh rongga hangat wanita itu, semakin dalam dan semakin liar. Vallen pun mulai terbuai oleh setiap sentuhan dan cumbuan memabukkan yang pria itu lakukan padanya. Hingga wanita itu kini mulai membuka bibirnya dan mengijinkan lidah pria itu berliuk-liuk bermain-main di dalam rongga mulut hangatnya.
Dan kini lidah mereka berdua mulai sama-sama bergerak, bertarung dalam napsu gairah yang seolah semakin membakar. Sesekali Dante pun menggigit kecil bibir bawah Vallen, membuatnya tertarik dan kembali meneroboskan lidahnya dengan panas di dalam sana.
Hmmmpphh.
Tanpa Vallen sadari jika Dante semakin keras menahan kedua pergelangan tangannya di sana.
Setiap detik ciuman yang mereka lakukan semakin terasa menggebu-gebu. Mereka terlihat seperti dua insan yang baru saja menemukan sebuah oasis di tengah panasnya gurun pasir nan gersang.
Tidak segan, Vallen pun mengerang ketika Dante melepaskan cengkraman tangannya dan beralih menghisap, menggigit keras lehernya hingga meninggalkan beberapa bekas gigitan yang kemerahan di sana.
"Joder! Me vuelves loco! (Sial! Kau membuatku semakin gila!" Dante memamerkan senyum kemenangan, menyaksikan bagaimana napas wanita itu yang memburu cepat serta wajahnya yang terlihat memerah setelah ciuman yang cukup panjang yang telah mereka lakukan.
"We can't do that here. Orang-orang akan mendengar... kita..." Gumam Vallen. Wajahnya menunduk, pipinya memerah karena malu.
"Siapa peduli?" Dante lantas kembali menyambar leher wanita itu, menghisapnya dengan sangat kuat, melepaskan paksa Cardigan yang Vallen kenakan dengan gerakan cepat, kemudian menurunkan tali tipis yang ada di pundak wanita itu, menarik dressnya hingga membuat payudara yang masih terbungkus bra itu seketika terpampang jelas di hadapan Dante.
Tanpa Vallen sadari jika kedua tangannya kini meremas pinggang Dante. Matanya kembali terpejam saat Dante kembali melumat bibirnya, sedangkan tangan pria itu berusaha membuka kaitan bra Vallen hingga terlepas.
"Apa dulu kau memberikan ASI kepada Nathalio, hm?" Dante berbisik lagi sambil menggigit kecil telinga Vallen.
Vallen mendesah. Wanita itu seketika menggigit bibir bawahnya ketika Dante memilin puting payudaranya. "Jawab aku."
"Mmmphh... Tentu saja."
Vallen terpejam ketika dia merasakan sensasi yang pria itu berikan pada saat Dante dengan lancangnya kini menghisap kedua puting payudaranya secara bergantian.
A-ah
Ti be continued
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
