🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
(Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante Petterson...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vallen Cooper
"SONG : CHRIS GREY - RUN"
Setelah dua puluh menit berlalu, Vallen kini telah selesai berpakaian. Dia mengenakan dress merah muda bermotif bunga kecil yang dilapisi cardigan putih tebal. Rambut panjangnya yang masih setengah basah dibiarkan tergerai begitu saja, membingkai wajah polosnya yang tampak pucat tanpa sentuhan riasan.
Sejujurnya, Vallen merasa sangat muak karena lagi-lagi dia terjebak dalam situasi mencekam yang tidak bisa ia hindari. Ancaman Dante terasa seperti jerat yang semakin kencang melilit lehernya. Setiap kata yang meluncur dari bibir pria itu terus terngiang, melumpuhkan seketika keberaniannya. Sungguh, ini adalah saat-saat yang paling sulit bagi dirinya.
Dengan langkah ragu, Vallen melewati pintu rumah kayu tersebut. Dia mencoba menghela napas dalam, namun dadanya terasa sesak saat melihat Dante sudah menunggunya dengan sorot mata penuh ketidaksabaran di luar sana. Langkahnya seolah terhenti, sepasang kakinya terasa berat untuk bergerak. Hatinya semakin perih ketika melihat Kakek Vasly dan Nenek Zofia yang menatapnya dengan pandangan penuh kesedihan.
Kedatangan Vallen membuat Dante terdiam sejenak. Sorot matanya yang tajam seolah memindai setiap detail wajah istrinya itu. Di balik tatapan itu, tersimpan obsesi yang mendalam dan keinginan kuat untuk memiliki Vallen seutuhnya, memastikan bahwa wanita itu tidak akan pernah bisa lepas lagi dari jangkauannya. Dante menatap Vallen seolah dia kini sedang mengklaim kembali hak miliknya yang sempat hilang selama beberapa tahun terakhir.
Setiap gerak-gerik canggung Vallen tidak luput dari pengamatan Dante. Bagi Dante, kecantikan alami Vallen justru terlihat semakin menawan saat wanita itu tampak rapuh dan terdesak. Ada kepuasan tersendiri bagi Dante melihat bagaimana pipi Vallen merona karena amarah atau ketakutan saat dia terus menatapnya. Dante sangat menikmati kendali yang dia miliki atas emosi dan nasib wanita itu.
Vallen ingin sekali berbalik dan lari sejauh mungkin. Namun, tatapan dingin dan mendominasi yang dilemparkan Dante seolah mengunci pergerakannya. Keberaniannya luruh begitu saja di bawah intimidasi pria itu. Dia tidak bisa membiarkan dua orang tua yang telah sangat baik padanya menderita. Dante adalah sosok yang dingin dan tak segan-segan melakukan apa pun untuk mendapatkan keinginannya. Hingga Vallen terpaksa menyerah pada kehendak Dante demi melindungi orang-orang yang dia sayangi. Ancaman pria itu benar-benar mengikatnya, membuatnya merasa seolah hidupnya kini sepenuhnya berada di bawah kendali penuh Dante.
Dante menghisap rokoknya dalam-dalam sebelum membuangnya dan menginjaknya dengan ujung sepatu. Dia melangkah mendekat ke arah Vallen yang masih berusaha menjaga jarak.
"Kau sudah siap?" Tanyanya dingin.
Vallen menghindar saat tangan Dante hendak menyentuh wajahnya. Dia membuang muka, menatap ke arah lain dengan geram tanpa mau membalas ucapan pria itu. Dante hanya menyeringai kecil, sebuah ekspresi yang sangat dibenci oleh Vallen. "Aku tidak punya banyak waktu. Kuberi kau waktu lima menit untuk berpamitan pada mereka sebelum kita benar-benar pergi dari sini," Ujar Dante sambil melipat tangan di depan dada.