Lima tahun kemudian.
Dari balik jendela dapur yang terbuka lebar, Vallen melayangkan senyum hangat. Matanya lamat-lamat menatap sang kakek, nenek, dan putra kecilnya yang sedang asyik bersenda gurau dengan anak-anak anjing peliharaan mereka. Sembari menikmati pemandangan itu, tangan Vallen cekatan menyiapkan segelas susu hangat, bersanding dengan roti dan sosis panggang—sarapan sederhana untuk putranya yang kini telah menginjak usia empat tahun.
Vallen menghela napas panjang. Ada rasa tak percaya yang menyelinap di dadanya, waktu bergulir begitu cepat. Tanpa terasa, ia telah melewati gelombang badai dan pelangi di dalam hidupnya. Namun, lentera semangat hidupnya memancar semakin terang setelah ia berhasil mempertahankan kehamilan dan melahirkan malaikat kecil yang begitu tampan, cerdas, dan sehat.
Kini, Vallen telah membuka lembaran baru. Ia membangun kehidupannya dari nol bersama Vasly dan Zofia, serta putra tercintanya yang ia beri nama Nate. Mereka memilih hidup bersahaja, memeluk kebahagiaan di pedalaman pegunungan Ukraina yang jauh dari bisingnya peradaban—sebuah tempat tersembunyi yang bahkan tak terjamak oleh radar GPS. Setiap pagi, kesunyian mereka ditemani oleh simfoni alam, desir angin yang membelai pohon-pohon cemara dan kicau burung yang mendamaikan jiwa.
Hari ini, Vallen mengawali perannya sebagai seorang ibu dengan menyatu bersama alam. Ia merawat tanaman dan memanen hasil kebun seperti memetik wortel, bit, dan kubis segar untuk disulap menjadi salad segar. Setibanya di rumah, ia bergegas menyalakan tungku kayu tua milik mereka.
Asap mengepul seiring jemarinya yang lincah mengolah acar kubis, mentimun, dan paprika—persediaan pangan yang sengaja ia awetkan demi menyambut musim dingin yang menggigit nanti. Meski raganya lelah oleh peluh kerja keras, kasih sayang dan cinta tanpa batas untuk Nate tak pernah sedetik pun luntur.
Vallen sengaja tidak menyematkan nama keluarga di belakang nama putranya. Ia hanya ingin memanggil malaikat kecilnya dengan satu nama NATE. Ya, Vallen sangat sadar, seandainya takdir berbeda, Nate seharusnya menyandang nama 'Patterson' di belakangnya.
Namun, entahlah...
Ia hanya tidak ingin hatinya kembali terkoyak dan sesak setiap kali nama itu terucap atau terlintas di benak. Vallen ingin mengubur rapat semua memori tentang Dante. Walau kenyatannya, menghapus jejak pria itu dari hidupnya ibarat mengukir di atas air—terlebih saat ia menatap paras mungil Nate yang bagai pinang dibelah dua dengan Dante. Namun, sekuat tenaga Vallen selalu mengenyahkan riak cinta dan rindu yang mencoba bangkit. Seberapa pun perih yang menghantam, Vallen memilih menelannya sendiri dalam sepi.
Nate benar-benar replika sempurna dari Dante. Bocah itu mewarisi sepasang iris mata berwarna abu-abu yang tajam namun teduh, rambut hitam pekat yang lebat, serta guratan alis dan bulu mata yang tebal. Garis wajahnya seolah menegaskan bahwa seluruh pesona Dante mengalir deras di dalam darahnya.
Mengusir kepenatan yang sempat mampir, Vallen mengembuskan napas berat. Ia segera menata gelas susu hangat serta piring berisi sosis dan roti panggang di atas meja makan. Langkah kakinya kemudian terayun menuju halaman belakang untuk memanggil buah hatinya.
"Nate..." Panggil Vallen lembut, menyunggingkan senyum terbaiknya.
"Mommy...!" Lengkingan suara Nate menyahut riang. Kaki-kaki kecilnya berlari menyongsong sang ibu yang tengah berjalan ke arahnya.
Vallen merendahkan tubuhnya, lalu mencolek gemas hidung mungil Nate. "Anak Mommy sudah selesai memberi makan kelinci dan anak anjingnya, hmm?"
Nate mengangguk antusias. Ia langsung mengalungkan lengan mungilnya di leher Vallen, memeluk ibunya erat-erat. "Yes, Mom! Aku juga sudah membantu Kakek memberi makan anak domba dan anak ayam milik Kakek yang baaaanyakk sekali!"
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romansa🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
