Chapter 34

3.3K 50 11
                                        

Vallen meringis pelan merasakan kepalanya yang masih berdenyut nyeri. Wanita itu pun berjalan ke arah pintu kamarnya dan mendapati banyak sekali pengawal berbaju hitam yang berjaga di sekitar area kamarnya.

Haruskah dia berlebihan seperti ini? Batinnya.

Bahkan jumlah antek-antek peliharaan Dante lebih banyak dari pada pelayan yang bekerja di dalam rumahnya yang hanya memiliki empat orang pelayan saja. Tidak lebih dari itu.

Dante memang sengaja tidak ingin memiliki banyak pembantu atau pelayan di dalam rumahnya. Jelas alasan pria itu hanya tidak ingin mengambil risiko kebocoran informasi tentang organisasinya hingga bisa saja dapat mempersulit kinerja manajemen kelempoknya. Karena Dante benar-benar menekankan kerahasiaan dan kesetiaan pada setiap anggotanya untuk tetap menjaga keamanan operasi mereka dari para penegak hukum dan para saingan mereka.

Karena menurut Dante terlalu banyak pekerja pribadi hanya akan dapat mengacaukan struktur dalam kelompoknya, terutama jika mereka tidak sepenuhnya terintegrasi di dalam struktur borgata mafianya.

Vallen berjalan menuruni tangga dia lalu berdiri di tengah-tengah rumah sambil menyapu pandangannya ke seluruh penjuru rumah itu. Sudah beberapa hari ini Vallen bahkan tidak melihat keberadaan Dante di dalam rumah itu. Bahkan setelah malam di mana pria itu telah memberinya sebuah cincin berlian Vallen tidak lagi melihat wajah pria itu.

Dan entah kenapa itu justru membuat hatinya kini terasa sangat kosong dan hampa. Perasaannya bercampur aduk. Bosan, marah, kesal itu semua terasa campur aduk di dalam hatinya.

Vallen bahkan tidak tahu harus melakukan apa sekarang, dia merasa sangat bosan hanya berdiam diri di dalam rumah sebesar ini. Dan itu membuatnya kini benar-benar sangat muak. Hingga wanita itu pun pada akhirnya memutuskan untuk berjalan dan mengelilingi rumah Dante sambil membawa Meggi salah satu kucing peliharaan milik Abigail.

Sekitar lima belas menit, Vallen pun berjalan melangkahkan pelan kedua kakinya di dalam rumah yang terasa sangat sepi baginya itu sambil membawa Meggi dalam gendongannya. Karena memang tidak adanya teman yang bisa dia ajak bicara selain kucing-kucing dan anjing-anjing manis peliharaan Abigail.

Saat Vallen berbelok ke arah ruangan lain, hanya ada kesunyian yang dia temukan ketika dia melewati satu demi persatu ruangan-ruangan besar yang ada di dalam rumah Dante. Dan beberapa penjaga bersenjata yang Vallen lihat kini tengah diam berdiri layaknya seperti patung manusia tepat di depan ruangan-ruangan besar yang tadi ia lewati.

Vallen pun terus berjalan setelah dia melewati pria-pria besar itu, hingga wanita itu kini tiba di salah satu pintu besar yang terhubung langsung dengan taman terbuka yang letaknya berada tepat di area samping rumah tersebut. Setidaknya dia bisa sedikit mendapatkan udara segar di sekitar area hijau tersebut untuk mengusir segala kegelisahandi dalam hatinya. Namun langkahnya tiba-tiba saja terhenti ketika tidak sengaja kedua matanya menangkap sosok Dante kini sedang asik mengobrol dengan seorang pria di kursi taman tersebut.

Tak ingin jika Dante sampai melihatnya detik itu juga Vallen langsung menyembunyikan tubuhnya di balik sebuah pilar tinggi sebelum dia benar-benar memancing perhatian pria itu.

Vallen pun melepaskan Meggi ke arah bawah dan berbalik menghadap ke arah Dante. Jantungnya berdebar begitu saja. Wanita itu diam-diam terus mengamati Dante di balik pilar yang kini menyembunyikan tubuh mungilnya. Persetan! Karena mendadak dia merasakan perasaan senang yang luar biasa saat dia melihat pria itu ternyata kini sudah pulang dan berada di dalam rumah ini. Perasaan itu datang begitu saja. Meskipun sialnya, perasaan itu selalu tiba-tiba saja datang tanpa mengetuk terlebih dahulu dan selalu membuat dirinya gelisah tidak menentu seperti sekarang.

Kedua matanya bahkan tidak mau berhenti melirik ke arah pria itu hingga tanpa sadar Vallen pun mengulas senyum hangat sambil tersipu malu. Dia pun merasakan gugup luar biasa hingga membuat kedua kakinya lemas saat dia menguntit Dante yang kini tengah mengobrol dengan salah satu rekan bisnisnya.

OBSESSEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang