"Bangun, princesa." Suara berat nan serak itu kini membuat diriku membuka kedua mataku perlahan. Hal pertama yang ku lihat saat ini adalah wajah seorang pria dengan ketampanan bak dewa yunani tengah tersenyum padaku.
"Bersiaplah, kita akan pergi." Katanya.
Aku hanya terdiam dan mematung melihat wajahnya yang hanya berjarak beberapa senti saja dengan wajahku. Aku terkesiap dan langsung tersadar lalu mendorong tubuh Dante yang berada di samping tubuhku, buru-buru aku menutupi seluruh tubuh telanjangku dengan menggunakan selimut dan duduk merapatkan punggungku pada kepala kasur di belakangku.
"Kenapa kau masih di sini, Dante?" Aku bergerak tidak nyaman ketika kedua mata Dante terus menatapku.
Pada akhirnya pria itu telah benar-benar memanfaatkan kenaifanku. Kenapa aku bodoh sekali hingga memberikan keperawananku pada bajingan itu dengan sangat mudahnya?
Sial! saat ini aku bahkan benar-benar terlihat seperti seorang pelacur yang tidak ada harga dirinya sama sekali di depan bajingan itu.
Dante menyunggingkan senyum tipis lalu bangkit berdiri dari atas tempat tidur memperlihatkan perut kotak-kotak serta dada bidang miliknya yang terpampang nyata di hadapanku.
"Apa yang kau lakukan, Dante?" Aku segera mengalihkan pandanganku ke arah lain meski saat ini pria itu tidak bertelanjang sepenuhnya dan hanya mengenakan boxer, tapi tetap saja bagiku itu adalah pemandangan yang tabu untukku saksikan.
"Kenapa, hm? Kau bahkan sudah melihatku bertelanjang bulat semalam." Dante menyunggingkan senyum mengejek tanpa mengalihkan pandangannya kepadaku lalu meraih pakaian miliknya yang tergeletak di atas lantai.
"Kau tidak perlu menutupi tubuh telanjangmu. Apa kau lupa? Aku bahkan sudah melihat seluruh tubuh telanjangmu itu, princessa."
"Sialan!" Aku lantas membuang muka kesal. Aku sangat yakin jika wajahku kini pasti terlihat memerah karena merasa malu sekaligus menahan marah pada pria itu.
Pria itu tertawa dengan dada bergetar.
"Sungguh? Tapi kurasa__ kau sangat hebat semalam, princessa."
"Shut up!" Kataku kesal.
Dante hanya terkekeh kemudian memakai kembali celana dan juga kemejanya itu lalu kembali berjalan mendekati diriku.
Aku bergerak tidak nyaman saat dia kini duduk di hadapanku, aku bersumpah aku akan menendang perutnya jika dia kembali melakukan hal seperti semalam lagi padaku.
"M-mau apa?" Dia mengangkat tangannya dan mengelus pelan pipiku, dia juga tidak segan untuk menyentuh kembali leherku yang telah di penuhi oleh bercak merah-merah ini. Kemudian beralih menyentuh bibirku yang terasa bengkak dan memerah karena ulahnya yang tidak mau berhenti terus menerus menciumku.
"Hentikan, Dante." Aku menangkis tangannya cepat. Namun Dante justru meraih kedua tanganku sembari melihat biru-biru bekas cengkraman tangannya yang tercetak jelas di kedua pergelangan tanganku.
"Apa ini sakit? Aku akan menyuruh pelayan untuk mengobati lukamu ini."
"Tidak perlu." Aku segera menarik kedua tanganku dari genggamanya, walau sebenarnya tidak bisa di bohongi jika pergelangan tanganku memang terasa pedih, bahkan bukan hanya pergelangan tanganku yang terasa sakit dan pedih. Tapi juga seluruh badanku yang kini terasa hancur dan ngilu setelah dia menyetubuhi diriku semalaman.
Dia bahkan terus menerkam diriku dengan berbagai gaya dan posisi yang terasa sulit untuk seorang perawan amatir seperti diriku ini. Dan dengan brengseknya, dia juga memaksa diriku untuk melakukan blowjob yang tidak pernah ku lakukan sebelumnya bersama pria manapun.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante...
