Chapter 20

3.4K 61 7
                                        

"Dante, apa yang kau lakukan pada gadis itu? apa kau ingin menjadi seperti papa yang_, "

"Diam, Abigail! tugasmu sekarang hanyalah menjadi teman bermain gadis itu bukan untuk mengatur kehidupanku!" Dante mendengkus marah, kali ini tangannya yang hendak membakar sebatang rokok itu terhenti. "Dan tutup mulutmu Abi, karena aku tidak sama dengan Pablo Patterson, pria bajingan itu!" Hardik Dante sembari menunjuki wajah adik perempuannya itu.

"Kenapa kau berbicara seperti itu?! PABLO PETTERSON TETAPLAH AYAH KITA!"

Mata Dante tiba-tiba berubah memerah ketika Abigail menyebutkan nama mendiang ayah mereka. Nama yang selalu memicu wujud lain dari seorang Dante Petterson.

"Beraninya kau!" Giginya merapat erat dan kedua matanya melebar tajam, di detik itu juga Abigail memekik ketika tiba-tiba saja Dante menarik kuat lengannya dan menghempaskan tubuhnya kasar ke arah dinding.

"Dante, Hentikan!" Bentak Billy tajam, sontak pria itu langsung meraih tubuh Abigail yang hampir saja terhempas jatuh ke atas lantai. "Apa kau gila, dia adikmu!"

Namun sepertinya Dante benar-benar telah di kuasi oleh amarah sehingga dia tidak menyadari tindakan kasar yang telah dia lakukan kepada adik perempuannya itu.

"Aku akan membunuhmu jika kau berbicara tentang bajingan itu lagi!" Dada Dante naik turun dengan tempo tidak menentu.

"TAPI AKU YANG AKAN MEMBUNUHMU TERLEBIH DAHULU!"Balas Abigail dengan napas memburu cepat.

Bahkan setelah Pablo Petterson mati pun Dante tidak juga bisa melepaskan kebenciannya terhadap mendiang ayah kandungnya tersebut. Lebih baik saat ini Abigail berhenti untuk berbicara tentang ayahnya, Pablo. Karena Abigail tahu membahas tentang ayahnya hanya akan menekan titik-titik emosi Dante yang pastinya akan kembali memancing kemarahan dari pria itu.

Abigail terdiam, dia balas menatap sinis kedua mata kelabu yang terlihat sama dengannya itu. Dan dia merasa sangat muak mendengar semua kata-kata beserta umpatan yang Dante tujukan terhadap ayahnya tersebut.

Dan ini bukan kali pertama Abigail melihat Dante bersikap kejam, licik, dan juga egois seperti itu terhadap seseorang. Sudah tidak heran jika pria itu akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa pun yang dia inginkan, sekali pun dengan cara terlicik dan terkejam, Dante akan tetap melakukan tindakan keji itu.

"Kau memuakan, Dante! Aku bahkan tidak mendapatkan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sikap menjijikanmu ini." Dante hanya terkekeh sinis sembari menyelipkan sebuah glock ke balik punggungnya. Tidak lupa dia juga memasukan sebuah pisau lipat ke dalam saku  celana yang dia kenakan saat ini.

"Billy, we're leaving now." Saut Dante tanpa mengalihkan tatapan sinisnya pada adik perempuanya itu.

"Kau yakin ingin pergi malam ini juga?" Billy menjawab.

"Aku tidak bisa menundanya lagi." Timpal Dante, dan di detik itu juga Dante langsung melangkahkan kedua kakinya untuk pergi melewati tubuh Abigail yang berdiri tegang di hadapannya itu.

"Aku yakin dia akan meninggalkanmu sama seperti, Anna."

Langkah Dante terhenti ketika dia mendengar ungkapan adiknya itu.

Abigail tahu jika pria itu mendengarkan ucapanya, namun Dante sama sekali tidak lagi menanggapi dan langsung kembali berjalan untuk keluar dari mansion tanpa menoleh lagi kepada wanita itu.

Napasnya terasa tercekat, dan seluruh saraf di dalam tubuhnya terasa seperti berhenti bekerja.

Semua yang Abigail miliki seperti tidak ada gunanya, kebahagiaan seolah hanya sebuah mimpi indah bagi dirinya. Terlahir di dalam kelurga mafia yang bergelimang harta tanpa seorang ibu dan ayah tidaklah serta merta bisa membuat hidup Abigail merasa bahagia. Entah sudah berapa kali Abigail menyaksikan kekerasan dan juga pembunuhan yang telah di lakukan oleh Pablo dan juga saudara laki-lakinya Dante Petterson di dalam mansion yang mereka tinggali ini.

OBSESSEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang