🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
(Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante Petterson...
Area dewasa! Kalian yang belum cukup umur bisa skip chapter pedas dengan kata-kata yang cukup eksplisit ini.
Makasih dan jangan lupa votenya. Karena menulis tidak semudah seperti membaca. Apa lagi mengeditnya🥴
Vallen Cooper
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vallen membenamkan diri dalam keindahan pemandangan alam Kolombia, menikmati area hijau dari bangunan rumah yang didominasi oleh dinding-dinding kaca dan dikelilingi oleh pemandangan panorama yang sangat menakjubkan di kota Olaya Antioquia.
Dari kamarnya, Vallen bisa melihat sekaligus menikmati pemandangan sungai yang mengalir pelan dan hijaunya bukit-bukit megah nan tinggi sebagai view di sekeliling kamarnya.
Masih di wilayah Kolombia, setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, Dante memutuskan untuk beristirahat semalam di sebuah villa di daerah pegunungan sekitar Olaya Antioquia, hanya sekitar dua jam dari wilayah Olaya Herrera.
Vallen terpaku ketika dia melihat pemandangan sore hari nan indah di hadapannya tersebut. Rasa-rasanya kelelahannya kali ini sedikit terobati dengan memandangi bukit-bukit hijau di sekitar villa tersebut.
"Di mana, Dante?" Vallen bergumam, dia tidak tahu apa yang terjadi kepada dirinya sehingga dia mempertanyakan sendiri keberadaan pria itu saat ini. Vallen yang seolah tersadar kembali dia pun lantas segera mengerjapkan kedua matanya dan menggelengkan pelan kepalanya.
Wanita itu membuang napasnya kasar, napas yang terdengar seperti sumpah serapah tertahan.
Sial! Aku pasti sudah gila! Tentu saja, apa peduliku tentangnya. Vallen membatin, bibirnya mengeras menahan luka yang tak bernama.
Wanita itu terdiam. Ingatannya tiba-tiba saja kembali tertuju kepada Christopher.
Chris. Kau pasti sedang berperang mempertaruhkan hidup dan mati mu sekarang di sana. Saat ini mungkin aku, aku, telah menjadi bagian dari seorang Dante Petterson, tanpa aku sadari, Chris. Even though I know your father is guilty, namun aku tidak bisa membencimu begitu saja. Karena kesalahan ayahmu tentu saja bukanlah kesalahanmu.
Vallen menelan ludahnya, merasakan berbagai perasaan berkecamuk di dalam batinnya. Betapa saat ini dia begitu merindukan sosok hangat itu.
Christopher Back, I hope you will be okay. Vallen kembali bergumam.
Dari teras balkon kamarnya wanita itu tetap termenung, memandang lurus ke arah depan, meski pun dia tahu seseorang kini datang ke dalam kamarnya lalu berjalan mendekatinya. Karena siapa lagi jika bukan Dante yang berani keluar masuk ke dalam kamar yang dia tiduri.