Chapter 16

2.6K 54 0
                                        

"HAPPY READING, SORRY UNTUK TYPO YANG TIDAK KU LIHAT"

Vallen tersenyum ketika dia melihat pria yang masih mengenakan seragam tugasnya itu datang menghampiri dirinya yang saat ini tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Vallen tersenyum ketika dia melihat pria yang masih mengenakan seragam tugasnya itu datang menghampiri dirinya yang saat ini tengah terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.

"Chris-," Vallen dapat melihat pria itu kini datang dengan membawa sebuket bunga di tangan kananya.

"Hei__ kau tidak perlu bergerak, tetaplah berbaring." Vallen mengangguk, Christopher lalu segera membantu wanita itu untuk kembali membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, Christhoper tahu jika keadaan wanita itu saat ini tidaklah baik-baik saja, wajahnya masih terlihat pucat, dahi dan juga tanganya bahkan masih berkeringat dingin ketika dia menyentuh tangan wanita itu.

Christopher terdiam dia memperhatikan lekat raut wajah Vallen. Mata coklat wanita itu terlihat berkilau ketika cahaya matahari pagi menelusuk masuk melalui jendela kaca hingga menerpa wajah pucatnya itu.

"Vallen, kau lihat__ aku membawakan bunga untuk dirimu. Ini adalah bunga wollfia. Apa kau menyukainya?" Christopher sengaja membawakan Vallen bunga Wollfia. Pria itu seketika teringat dengan Vallen ketika dia melihat bunga kecil berwarna putih itu terpajang di etalase toko bunga yang dia kunjungi pagi ini.

Kecil dan juga indah, bunga itu tidak memiliki daun dan juga akar pada batangnya dan bunga itu terlihat sederhana karena hanya memiliki beberapa kelopak kecil dan bagian putik kecil berwarna kuning di bagian kepala bunga tersebut. Ya, bunga itu terlihat tak ubahnya seperti seorang Vallen yang sekarang hidup tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Namun di mata Christopher, wanita itu tetaplah terlihat indah dengan segala kekurangan yang dia miliki di dalam hidupnya kini.

"Aku juga membawakanmu cheesecake dengan toping selai strawberry di atasnya. Aku sengaja membelikan ini untukmu ketika aku melihat kue ini di perjalanan menuju kemari tadi." Gadis itu menyambut bunga dan makanan itu dengan antusias, karena kebutulan__ saat ini perutnya belum terisi, bahkan sedari kemarin. Rumah sakit memang telah mengantarkan makanan untuknya. Tetapi selera makannya terasa hilang, setelah dia melihat menu makanan yang rumah sakit sediakan. Dan karena Christopher yang membawakannya, tentu saja dia tidak akan menolak makanan tersebut.

"Tentu aku menyukainya, Chris. Terimakasih." Vallen tersenyum, dia lalu menerima bunga itu lalu menciumnya sembari memejamkan kedua matanya erat.

Gadis itu tersenyum. "Terimakasih, Chris, karena kau selalu tahu bagaimana cara membuatku senang."

Vallen kini terdiam. Dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada Christopher saat ini. Semburat kesedihan bahkan masih terlihat jelas pada raut wajah wanita itu. Setelah mengonsumsi obat untuk merangsang peluruhan kandungan yang dia dapatkan dari salah satu teman kuliahnya yang baru saja dia kenal, Vallen justru mengalami pendarahan hebat yang pada akhirnya membuat dirinya harus dilarikan ke sebuah rumah sakit dan menjalani perawatan intensif setelah menjalani kuretase untuk mengeluarkan jaringan pada rahimnya itu.

OBSESSEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang