🚫 •WARNING• 🚫
MATURE CONTENT, 21+
Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper)
Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas.
•••
Dante...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
• • •
"Vallen Pov"
"Kau masih tidak ingin berbicara padaku?"
Dante menekan ujung rokoknya ke dalam asbak sebelum bangkit dari atas sofa tunggal dan berjalan menuju ke arahku yang kini tengah berbaring memunggunginya di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi tubuh ini.
Dia lalu mendekat hingga aku dapat merasakan jika tangannya kini telah melingkari perutku. Dante berusaha mencumbu leherku ini kemudian berbisik. "Bisakah kau tidak mengabaikanku ketika aku berada di dekatmu, hm?"
Rasanya aku sudah sangat muak untuk menimpali semua ucapannya. Karena aku tahu, setiap kali aku dan Dante berbicara, pembicaraan kami hanya akan berakhir dengan sebuah pertengkaran dan umpatan yang tidak akan pernah ada ujungnya.
"Vallen." Aku memutar tubuhku ke arah Dante hingga kini wajah kami saling berhadapan dengan kedua bola mata kami yang saling bertemu dan bertatapan untuk waktu yang cukup lama. Untuk sesaat aku melihat pada tubuh kekarnya yang kini hanya terbalutkan oleh sehelai handuk yang melilit pada pinggangnya, juga pada rambut setengah basahnya usai mandi yang sialnya kini benar-benar begitu mengancam pertahanan harga diriku. Tapi tidak! sebisa mungkin aku akan menahannya dan tidak akan membiarkan dia meruntuhkan kembali pertahanan harga diriku ini.
"Jika tidak ada kata lain yang ingin kau katakan, lebih baik kau pergi dari kamar ini dan menjauh dariku."
Dante terkekeh pelan. "Cih, keras kepala."
"Kau bilang aku keras kepala? kenapa kau sangat bodoh?! aku masih sangat marah padamu!" Aku mendorong dadanya untuk menjauh dan segera beranjak dari tempat tidur namun tanpa aku duga jika dia akan menarik pergelangan tanganku sangat kuat sehingga membuat tubuhku yang mungil ini kembali terhempas dan terjatuh ke atas tempat tidur.
"Aaahkk__ what are you doing?" Brengsek! aku bahkan tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang saat ini berada di atasku sedangkan tangan kirinya menahan kuat kedua pergelangan tanganku tepat di atas kepalaku. "Kau ingin memperkosaku, heh?!"
"Yes I will fuck you again." Jawab Dante dengan nada tenangnya. "Aku ingin tahu apa kau masih bisa menolakku jika aku melakukan hal ini padamu, hmm." Dia mendaratkan sebuah kecupan singkat pada bahuku.
"Stop it, Dante!"
"Kenapa aku harus berhenti, hm? jika aku bisa melanjutkannya?" Tubuhku menegang ketika kedua manik kelabunya menatapku begitu dekat. Hembusan napasnya yang beraroma mint bercampur nikotin ini begitu hangat ketika menerpa kulit wajahku.