Chapter 9

5.6K 99 7
                                        

Kartel besar itu telah didirikan oleh Pablo Petterson dan hingga kini tetap menjadi salah satu kartel paling kuat di Amerika Serikat. Dan kini, organisasi yang telah pria itu bangun telah jatuh ke tangan anak sulungnya-Dante Petterson.

Tentu saja, kesuksesan Pablo dan Dante tak lepas dari campur tangan keluarga mereka. Termasuk Arellano Felix Petterson, kakak kandung dari Pablo Petterson. Pria itu ikut andil besar dalam pembentukan _outfit_ pada awal tahun delapan puluhan. Bahkan sampai sekarang, Felix masih memegang kendali atas seluruh pengiriman kokain, heroin, dan metamfetamin senilai ratusan juta dolar ke setiap negara yang menjadi urat nadi pendapatan sindikat mereka.

Bukan hanya narkoba. Mereka juga menjalankan pemerasan dengan bunga yang sangat mencekik. Mereka tidak segan menggunakan kekerasan fisik saat menagih debitur yang menunggak pada mereka dengan melakukan-ancaman, pemukulan, penyiksaan. Dan semua keuntungan dari iuran darah itu diputar kembali untuk mendanai bisnis ilegal mereka yang lain.

Mereka juga memiliki beberapa bisnis yang berdiri sah secara hukum. Tapi sah di atas kertas tak membuat tangan mereka bersih. Sindikat yang dipimpin oleh Dante tetap bekerja dengan kejam. Mereka memaksa, mengintimidasi pesaing, bahkan tak ragu membunuh. Truk-truk milik lawan yang membawa barang berharga sering dibajak oleh mereka, dibuang begitu saja bersama dengan muatannya. Bagi para penjahat terorganisasi seperti mereka, itu hanya rutinitas lain yang sangat mereka nikmati.

Dante menatap gelas kristal berisi wiski di depannya. Jari jemarinya memainkan _signet ring_ yang melingkari kulit jari telunjuknya.

"Bagaimana kabarmu, paman?"
Pria tua di hadapannya tersenyum, memperlihatkan gigi palsunya yang putih bersih.

Pria tua itu adalah Arellano Felix Petterson-kakak dari Pablo Petterson.

"Paman." Dante menegakkan punggungnya yang bersandar di kursi, dia menjilat bibirnya yang kering. "Apa maksud kedatanganmu ke mansionku kemarin?"

Pria tua yang akrab disapa Felix itu menghela napas panjang. Ia kemudian menghentikan tangannya yang sedang mengelap barang antik miliknya dan menatap Dante kembali. Felix memang gila mengkoleksi barang antik. Bahkan sejak ia muda. Ia kini mengisi kekosongan masa tuanya dengan uang kuno, piring tua, jam pasir, dan ratusan perabotan lain yang usianya lebih dari seabad.

Ia bukan tipe pria tua yang betah duduk di ruangan mewah ber-AC dengan jas mahal. Felix memilih hidup sederhana. Rumah kecil dua lantai di pinggiran pantai, penuh debu dan kenangan. Tapi dari sanalah semua darah dan uang mengalir deras.

"Kau yang memberitahu gadis itu tentang kematian keluarganya, paman?"
Dante bangkit, berjalan ke arah jendela kayu yang terbuka lebar. Dari sana terbentang laut biru yang luas dan tenang-berbanding terbalik dengan badai yang ada di dadanya.

Pria tua itu tertawa kecil mendengar kegusaran ponakannya. "What's wrong with you, Dante?"

"Paman." Dante menarik napas. Tawa serak Felix menusuk telinganya. Ia berbalik, menatap Felix datar.

Felix membuka laci meja, lalu mengeluarkan beberapa lembar laporan keuangan milik _outfit_, lalu meletakkannya di atas meja. "Lihatlah, nak. Ini kerugian kita, karena ulah Professor Gabrielle dan juga Ted Bundy. Karena mereka, kita bahkan tidak bisa lagi memasok senjata ke wilayah konflik seperti Timur Tengah. Aku tidak mengerti, dengan kekacauan yang mereka sebabkan, kenapa kau masih membiarkan gadis itu hidup setelah pengkhianatan orang tuanya kepada kita?"

Dante maju, mengambil lembaran itu. Ia diam dan membaca setiap angka, setiap kerugian yang tertulis di sana.

"Paman, kita sudah sering menghadapi masalah seperti ini. Seharusnya kau tahu apa yang harus kita lakukan sekarang." Dante meletakkan kembali kertas itu. Kerugiannya memang tidak kecil. Sehingga mereka harus bekerja lebih keras untuk kembali menyuplai senjata ke Iran, Israel, Gaza, Turki, Arab Saudi-dan negara-negara Timur Tengah lain yang telah menjadi pelanggan setia mereka.

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang