MADRE!!! Aku terlonjat dari tidurku ketika melihat ibuku yang telah mati tertembak oleh seseorang di dalam mimpi itu.
Napasku memburu cepat dengan degub jantungku yang berpacu sangat cepat.
Mimpi itu bahkan terasa begitu sangat nyata dan berubah menjadi sebuah ketakutan untukku. Aku sangat takut, jika suatu saat nanti mimpi buruk itu bisa saja berubah menjadi sebuah kenyataan buruk untuk diriku.
Beberapa waktu yang lalu aku sempat membaca di dalam salah satu buku yang berada di sebuah perpustakaan sekolahku, bahwa mimpi merupakan sebuah alamat atau tanda-tanda yang akan terjadi kepada seseorang. Mungkinkah itu sebuah pertanda tidak baik untuk diriku?
Ouh sial!
Aku menangis, Aku menangis menahan napasku dengan keringat yang semakin bercucuran pada pelipis dan juga tengkukku.
Madre, aku bahkan tidak berhenti memanggil nama ibuku, memikirkan bagaimana keadaannya? bagaimana keadaan mereka? Dante, pria bajingan itu bahkan tidak mau memberiku kesempatan untuk aku tahu bagaimana keadaan keluargaku saat ini, dan sudah terhitung dua minggu ini aku sudah berada di dalam mansion ini, terpenjara dan menjadi seorang wanita tawanan dari pria itu.
Cemas, sedih, marah semua perasaan itu bercampur menjadi satu ketika aku tidak bisa lagi menghitung berapa kali aku bermimpi buruk tentang keluargaku ketika aku mencoba untuk memejamkan kedua mataku.
"Vallen." Seseorang masuk kedalam kamarku tanpa mengetuk lagi pintu kamar ini.
"Kau sudah bangun?" Wanita itu membuka tirai-tirai jendela kamar ini lalu berbalik tersenyum kepadaku.
"Abigail, ada apa?" Aku mencoba menyembunyikan wajahku di balik selimut untuk menyembunyikan mataku yang sembab dan juga memerah karena terus menangis ketika Abigail menatapku, wanita itu mencoba untuk menarik selimut yang menutupi tubuhku lalu menarik pelan pergelangan tanganku untuk bangkit dari tempat tidur.
"Kau harus segera bersiap, Vallen, Dante sudah menunggumu di meja makan." Abigail menarik napas panjang lalu menghembuskannya, wanita itu berdecak ketika lagi-lagi aku memilih untuk kembali membaringkan tubuhku.
"Aku tidak lapar, bilang kepadanya." Abigail berdecek, wanita itu kembali menarik lenganku untuk segera bangun.
"Apa kau ingin jika Dante yang membangunkanmu?" Aku menolehkan wajahku kesal kepada Abigail sebelum bangkit dan berusaha duduk kembali ketika melihat wanita itu membuka lemari dan memilihkan salah satu gaun yang telah Dante siapkan untukku. "Dante pasti sangat menyukai gaun ini, kau juga pasti akan begitu mirip dengan Anna saat__"
"Siapa Anna?" Aku mengerutkan keningku dan tidak mengerti dengan ucapan Abigail. Wanita itu spontan membekap mulutnya lalu menaruh kembali gaun itu kedalam lemari.
Dengan wajah malas aku berusaha untuk bangkit dari atas tempat tidur.
"T-tidak! Maksudku kau pasti akan cocok mengenakan gaun itu." Abigail mendorong pelan tubuhku yang tengah berdiri di hadapannya untuk segera masuk kedalam kamar mandi. Aku tidak tuli ketika Abigail mengucapkan nama Anna dengan gamblang beberapa detik yang lalu padaku.
Sebenarnya siapa Anna? apa dia seseorang yang begitu berharga untuk Dante? Entahlah.
Suara ketukan pintu membuat kami terlonjat kaget. Abigail menatapku sesaat sebelum dia berjalan untuk membuka pintu kamar ini dan mendapati Eldatan yang kini berdiri di depan pintu dengan wajah jengkelnya."Don menyuruhmu memanggilnya cepat untuk sarapan bukan untuk bergosip dengannya, kenapa kau lama sekali?"
"Ya, aku akan segera menyuruhnya untuk pergi menemui, Dante." Abigail mendorong tubuh pria itu dan kembali menutup pintu kamar ini, Wanita itu kembali melangkah masuk dan berdiri di hadapanku.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Любовные романы🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ Series #1 (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante...
