"MADRE...!!!"
Aku terlonjak bangun dari tidurku dengan sentakan hebat. Napas yang kuhirup terasa tersengal-sengal di tenggorokan. Sepasang mataku baru saja menyaksikan ibu kandungku tewas mengenaskan akibat tertembak tepat di hadapanku—sebuah kematian tragis di dalam mimpi yang rasanya jauh lebih nyata daripada kenyataan hidup itu sendiri.
Deru napasku berpacu memburu dengan sangat cepat. Degup jantung di dalam dada berdegap liar tak beraturan, persis seperti detak yang hendak merobek dinding dada ini hingga hancur.
Mimpi buruk itu mencengkeram kesadaranku dengan teramat kuat.
Visualnya mendadak menjelma menjadi sebuah ketakutan pekat yang membusuk di dalam hatiku. Aku benar-benar teramat takut. Aku takut jika suatu hari nanti, mimpi buruk yang merenggut warasku ini akan menampar hidupku menjadi sebuah kenyataan pahit yang tidak akan pernah bisa kubatalkan.
Beberapa waktu yang lalu aku pernah membaca sebaris kalimat di salah satu lembaran buku tua di perpustakaan sekolahku: Jika mimpi adalah alamat. Sebuah tanda-tanda buruk yang sengaja datang sebelum sesuatu hal buruk benar-benar terjadi di dunia nyata.
Mungkinkah kilasan darah dalam tidurku tadi merupakan sebuah pertanda buruk untukku? Untuk keselamatan mereka di luar sana?
Ouh, sialan!
Pertahananku runtuh, aku menangis terisak.
Aku menangis histeris sambil mati-matian menahan pasokan napas yang tercekat. Butiran keringat dingin mulai bercucuran deras di sepanjang pelipis dan tengkuk leherku. Cairan itu membasahi permukaan kulitku, rasanya dingin persis seperti racun yang melumpuhkan saraf.
Madre...
Belahan bibirku tidak kunjung berhenti memanggil nama hangat ibuku dalam kegelapan kamar. Bagaimana sebenarnya keadaanmu di sana sekarang, Madre? Bagaimana kondisi keselamatan mereka semua?
Dante Petterson—pria bajingan berdarah dingin itu—bahkan sama sekali tidak memberiku satu celah atau kelengahan sedikit pun untuk aku bisa mengetahui bagaimana kabar dan keadaan keluargaku di Kolombia. Sudah terhitung dua minggu lamanya aku terpenjara kaku di dalam mansion ini. Aku seolah telah sepenuhnya menjelma menjadi wanita sandera dan tawanan pribadinya.
Cemas, sedih, dan amarah yang bergejolak. Semua spektrum perasaan itu saling bertarung brutal di dalam dadaku setiap kali aku mencoba memejamkan kedua mata. Setiap kali mimpi buruk tentang kematian keluargaku datang merangsek, setiap kali itu pula rasa takut yang teramat sangat hadir merobek seluruh sisa ketenanganku.
"Vallen," Panggil sebuah suara.
Seseorang mendadak melangkah masuk ke dalam kamar tidurku tanpa repot-repot mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Kau rupanya sudah terbangun dari tidurmu?"
Wanita muda itu bergerak taktis membuka lebar kain tirai jendela kamar yang besar. Tindakan impulsifnya membuat berkas cahaya matahari pagi yang teramat terang sontak menusuk tajam ke dalam sepasang mataku yang bengkak. Ia membalikkan tubuhnya lalu mengulas senyuman lebar ke arahku. Sebuah senyuman ramah yang terasa terlalu terang untuk mengawali pagi yang teramat kelam ini.
"Abigail, ada apa lagi?" Tanyaku parau.
Aku segera bergerak menyembunyikan wajah pucatku di balik selimut tebal. Aku berusaha keras menyembunyikan sepasang mata sembab dan memerah karena tangisan ketakutan yang sejak tadi enggan untuk berhenti.
Abigail menarik kain selimut itu dengan gerakan perlahan. Ia lantas menggenggam erat pergelangan tangan kananku, memaksa tubuh lemas ini untuk bangkit dari atas tempat tidur.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
