Chapter 3

10.2K 172 11
                                        

Aku meringis pedih ketika perlahan terbangun dari ketidaksadaranku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Aku meringis pedih ketika perlahan terbangun dari ketidaksadaranku. Kepalaku berdenyut sangat hebat hingga rasa nyerinya menjalar sampai ke pelipis.

Rasa mual yang pekat menggulung di dalam perut, membuat kondisi tubuhku semakin tidak nyaman.

Aku mengerjapkan mata dengan susah payah. Sebuah ruangan redup kini menyambut kesadaranku. Lampu temaram menggantung seadanya di atas kepala, memberikan pencahayaan yang cukup untuk membuatku tersadar sepenuhnya.

Memori buruk itu seketika menghantam otakku—aku ingat dengan sangat jelas, beberapa waktu lalu, sekelompok pria misterius telah menculikku secara paksa di pasar.

Efek samping dari obat bius itu ternyata masih menempel erat di tubuhku. Terasa berat. Lambat. Efek itu bahkan membuat napasku sempat tercekat di tenggorokan.

"Kau sudah bangun?"

Suara bariton yang serak dan berat tiba-tiba saja meledak memecah kesunyian di dekat telingaku. Aku tersentak kaget. Refleks, aku menegakkan posisi tubuhku dan memasang sikap siaga penuh.

Seluruh tubuhku mendadak membeku. Ketika sepasang mataku mendapati sosok pria asing kini sedang duduk tenang di atas sofa, tepat di seberang tempat tidur tempatku terbaring. Penampilannya serba hitam dari ujung kepala hingga sepatu bot yang dikenakannya. Wajah pria itu masih tertutup rapat oleh sebuah masker full face hitam yang pekat. Ia hanya menyisakan sepasang mata tajam yang menatapku tanpa berkedip.

Dan sepasang mata itu...

Berwarna perak. Terasa sangat dingin dan tajam. Sorotnya persis seperti sebilah pisau taktis yang baru saja diasah di bawah cahaya nan redup, memantulkan kilat berbahaya yang membuatku lumpuh dan tidak bisa berkedip sedikit pun.

Jantungku terasa melambat dalam satu ketukan yang menyakitkan. Logikanya, aku seharusnya berteriak histeris karena takut. Namun, untuk beberapa saat, aku justru hanya bisa menatapnya. Terpaku pasrah. Tersihir oleh aura mistis yang mematikan dari tubuhnya.

"Vallen Cooper."

Suaranya terdengar sangat rendah dan tenang, namun sanggup merayap masuk memicu hawa dingin hingga ke tulang belakangku. Aku langsung tersadar sepenuhnya dari keterpakuanku.

Aku terduduk tegak, merangkak mundur dengan panik, lalu menarik selimut tebal ke dada untuk menutupi tubuhku tepat saat pria misterius itu bangkit berdiri dan mulai melangkah mendekat.

"S-siapa kau sebenarnya?!" Aku mendongak berani, menatap lurus ke arah kedua mata kelabu yang tidak berkedip sedetik pun mengunci posisiku. "Kenapa kau tega menculikku?!"

Pria itu tidak menjawab.

Masker hitam yang menutupi wajahnya tidak bergerak sedikit pun. Namun, gurat di tepi matanya menyiratkan bahwa sudut bibirnya sedang tertarik ke atas—seolah pria itu sedang menyunggingkan senyuman sinis yang sama sekali tidak sampai ke matanya. Terlihat teramat mengerikan. Mematikan.

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang