Chapter 3

6.8K 111 4
                                        

Aku meringis ketika terbangun dari ketidaksadaranku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku meringis ketika terbangun dari ketidaksadaranku. Kepalaku terasa pusing dan juga sakit. Belum lagi rasa gejolak mual yang ku rasakan saat ini hingga membuat diriku kini semakin merasa tidak nyaman.

Kedua mataku mengerjap dan mendapati jika saat ini diriku tengah berada di dalam sebuah ruangan kamar bercahaya redup. Di saat itu juga aku langsung tersadar dan mengingat jika beberapa waktu yang lalu beberapa pria telah menculik diriku.

Kepalaku rasanya semakin berdenyut nyeri dan perutku terasa sangat mual.  Efek obat bius yang mereka pakai untuk membekapku.

"Kau sudah bangun?" Tiba-tiba saja suara bariton nan serak terdengar hingga membuatku terlonjat dan sigap mencoba untuk waspada.

Aku terkesiap ketika diriku melihat sosok pria tengah duduk di atas sofa di sebrang tempat tidurku kini.

"Vallen Cooper." Spontan aku mendudukan dan memundurkan tubuhku seraya menutupi seluruh tubuhku menggunakan selimut ketika pria itu mendekat dan berdiri di hadapanku kini.

"S-siapa kau sebenarnya?" Aku mendongakan kepalaku untuk bisa menatap wajah pria itu "Kenapa kau menculikku?" Sontak aku semakin memundurkan tubuhku ketika pria itu semakin mendekatiku. Tetapi dia hanya diam dan malah memberiku sebuah seringaian mengerikan dari bibirnya.

"Brengsek!" Umpatku, mencoba ingin bangun dari tempat tidur ini, tapi sialnya pria itu justru menarik kasar lenganku sehingga membuat tubuhku kini terjatuh di atas tempat tidur ini.

"Kau tidak bisa pergi, Vallen." Pria itu memerangkap tubuhku dengan posisi  diriku kini berada di bawah tubuhnya.

"Dante, panggil aku Dante." Bisiknya tepat di hadapan bibirku. Napasku tersengal-sengal, jantungku berdetak begitu hebat ketika pria bermata kelabu itu menatapku dengan jarak yang begitu dekat.

"Menyingkir!" Aku meronta ketika pria itu kini mencengkram kedua pergelangan tanganku ke atas.

"Kau tidak akan bisa lepas dariku, Mi amor. "

"Bajingan, aku tidak tahu siapa dirimu! Dan kenapa kau mencilikku?!" Aku berteriak nyaring, meluapkan kekesalanku kepada pria gila di hadapanku ini.

"Kau harus bertanggung jawab atas apa yang telah ayahmu lakukan!" Pria itu berkata lagi dengan aksen Amerikanya yang kental. Aku berusaha menahan napasku yang naik turun tidak beraturan ini ketika pria itu terus menatapku seperti ini. Dan ayahku? Sebenarnya apa yang telah dia lakukan? Sehingga membuat pria ini tega menculik diriku seperti ini.

"Aku tidak peduli dengan apa yang kau katakan, dan lepaskan aku! Apa kau tuli, heh?!" Aku menajamkan tatapan mataku kepada pria itu, melihatnya seolah-olah pria itu adalah pria paling gila yang pernah ku temui selama ini.

"Kau beruntung, karena aku tidak membunuh ayahmu. Dan sebagai gantinya kau lah yang harus bertanggung jawab atas kerugian dan kegaduhan yang telah di sebabkan oleh ayahmu itu." Pria itu menggeram, dengan menggertakan kuat gigi-giginya.

OBSESSEDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang