Chapter 25

4.2K 83 6
                                        


Mohon maaf tuk typo

Jangan lupa vote

Dante memandangi wajah istrinya lekat-lekat, menelan habis setiap inci kecantikan dari wajah istrinya di pagi hari ini. Namun sayangnya wanita itu justru hanya diam membatu, menatap kosong ke arah makanan yang ada di hadapannya, menusuk-nusuk pancake berlumur saus madu dengan beberapa potongan buah strawberry di atas piringnya itu hingga hancur berantakan seperti hatinya sendiri.

"Vallen, makanlah." Dante mengambil gelas alkohol miliknya, memutarnya pelan lalu menyesapnya tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya yang tajam dari wajah Vallen. "Sampai kapan kau akan membisu seperti mayat hidup seperti ini?"

Vallen mengerutkan wajahnya kesal, bibirnya bergetar menahan amarah. "Aku tidak lapar!" Vallen berkata, membanting pisau dan garpu di tangannya dengan kasar hingga berdenting tajam.

Dante tersenyum tipis, dengan senyum iblisnya yang tak pernah sampai ke matanya, lalu menjilat bibirnya perlahan dan berkata. "Apa sekarang kau sedang meratapi kepergian pria itu?"

"Brengsek kau, Dante! Jika memang benar aku meratapinya, itu semua bukan urusanmu!"

Dante tertawa rendah, getarannya merayap dingin hingga ke tulang belakang. "Aku tahu, Vallen. Aku tahu sekarang kau semakin membenci diriku hingga ke sumsum tulangmu. Tapi harus kau tahu, tidak semua yang kau anggap baik itu benar-benar baik untukmu, begitu pun dengan sebaliknya, princessa."

Dante tahu seberapa besar rasa benci yang wanita itu goreskan kini untuk dirinya yang telah lancang merenggut paksa wanita itu untuk kembali lagi masuk ke dalam mansion miliknya demi bisa memiliki wanita itu hanya untuk dirinya seorang, dengan cara mengurung wanita itu di dalam mansion besar tersebut dengan penjagaan yang sangat ketat seperti burung di dalam sangkar emas.

Bukan hanya itu, Dante juga telah menambah lagi beberapa CCTV di setiap penjuru mansion itu untuk mengawasi setiap hela napas dan aktivitas yang wanita itu lakukan di dalam sana.

"Dante." Vallen menelan ludahnya paksa, tenggorokannya perih, lalu menolehkan kedua matanya yang basah pada Dante. "Bukankah aku sudah berada di sini. Dan aku sudah menjadi istrimu... di dalam genggamanmu yang mencekik ini. Maka dari itu bisakah kau tidak mengganggunya lagi, Dante?!" Kata Vallen dengan nada gemetar retak dan mata berkaca-kaca nyaris jatuh. "Biarkan dia menjalani hidupnya dengan tenang dan bahagia."

Dante terdiam beberapa detik, keheningan seolah mencekik menggantung di antara mereka sebelum dia akhirnya menjawab perkataan Vallen dengan suara berbisa. "Jika ku beritahu kau fakta tentang kematian keluargamu, apa kau akan tetap ingin melindunginya, hm?" Tatapan Dante kini tiba-tiba berubah, berubah tajam dan mengintimidasi seperti pisau yang siap menebas.

"Apa maksudmu?" Tanya Vallen, memandangi wajah Dante lewat kedua matanya yang mengkilap oleh air mata yang sedari tadi ia tahan mati-matian.

Dante tertawa kecil, tawa tanpa jiwa, lalu kembali menyesap alkohol di dalam gelasnya hingga tandas, cairan pahit itu mengalir membakar tenggorokannya. "Vallen, awalnya aku hanya ingin memasukkan mantan kekasih sialanmu itu ke dalam penjara dan membusukkannya di sana." Dante berdecak. "Tapi seperti apa yang kau dengar dan kau lihat kemarin, jika Adrian tiba-tiba saja datang padaku dan memberikan penawaran menarik yang tentunya sangat menguntungkan untuk diriku." Dante tersenyum miring, sudut bibirnya melengkung sinis. "Kau tahu maksud dari ucapan dan ancamanku pada Adrian Back jika dia berani melanggar janjinya padaku?"

Vallen masih terdiam membatu dan menunggu pria itu untuk melanjutkan ucapannya, jantungnya berdegup liar.

"Bahwa aku akan membongkar semua kebusukannya, membedahnya di depan dunia, saat dia berani membohongiku, Vallen. Apa kau masih ingin melindungi Christopher jika kau tahu bahwa sebenarnya Adrian Back lah yang telah membunuh keluargamu dengan tangannya sendiri? Bukan aku." Ucap Dante tenang, tapi setiap katanya seperti belati yang menghujam.

OBSESSEDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang