Sepasang netra dengan iris hitam pekat itu meredup, menyisakan pandangan yang kosong.
Pria itu bergemih dalam senyap. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan embusan angin sejuk membelai lembut wajah dan permukaan kulit perunggunya. Bagaikan raga yang telah kehilangan remah-remah jiwa, ia berdiri mematung di tengah hamparan pemakaman luas yang bertumpu di kaki bukit. Di hadapannya, padang rumput hijau membentang tanpa batas, kontras dengan kekosongan di dadanya.
Hingga akhirnya, gumpalan memori membawanya melintasi waktu, kembali pada hari jahanam itu—
Kilas Balik (Flashback)
Christopher menatap lurus ke depan. Ia mengembuskan napas gusar, lalu terkekeh getir dengan rahang mengeras dan tatapan sedingin es. Sudah satu minggu penuh Christopher mendekam di dalam ruang isolasi yang tak ubahnya seperti neraka jahanam.
Bukan hanya dikurung, setiap hari Christopher harus menelan berbagai penyiksaan brutal yang menguras ketahanan fisik dan psikologisnya hingga ke batas ekstrem. Kini, ia ditempatkan di sebuah sel isolasi yang sempit dan terpencil. Ruangan itu menyatu dengan toilet serta wastafel kecil yang berkarat, tanpa ada seberkas pun cahaya yang diizinkan masuk menerangi kegelapannya.
Para sipir seolah memiliki pasokan tenaga yang tak habis-habis untuk menghajarnya secara fisik. Rutinitas kejam itu terus bergulir selama berhari-hari. Mirisnya, setelah dihantam badai kekerasan yang meremukkan mental dan fisiknya, Christopher hanya akan diberi sedikit jatah makanan serta perawatan ala kadarnya.
Christopher telah sepenuhnya kehilangan kontak sosial dengan dunia luar. Sebagian besar harinya habis di dalam jeruji besi yang pengap, memaksa dirinya hanya bisa berinteraksi dengan bayangannya sendiri. Di tengah gulita sel sempit itu, ia pun menghabiskan waktu dengan merapalkan doa demi doa kepada Tuhannya.
Seluruh hal yang pernah ia miliki telah dirampas tanpa sisa. Kebebasannya kini terkunci rapat di balik borgol besi yang melingkari pergelangan tangannya.
Dante Patterson telah berhasil mengendalikan garis takdirnya di dalam lubang penjara paling gelap—tempat terkutuk yang membuat Christopher harus menderita dengan mendapatkan dua belas luka tusukan di tubuhnya akibat ulah faksi geng bentukan Dante di dalam penjara militer paling mengerikan tersebut. Dante mungkin memegang kendali penuh atas kebebasan fisik Christopher, namun pria itu tidak akan pernah bisa menyentuh jiwa dan hati Christopher yang telah diserahkan sepenuhnya untuk Vallen Cooper, wanita yang teramat dicintainya segenap jiwa dan raga.
Pertemuan mereka terbilang singkat, namun goresan kenangannya terlampau dalam. Itu adalah memori abadi yang tidak akan pernah bisa Christopher lupakan sampai kapan pun, bahkan jika ia harus terlahir kembali di kehidupan kedua. Vallen akan selalu menduduki takhta tertinggi di palung hatinya yang terdalam. Walau kenyataannya Christopher sadar, mereka tidak akan pernah lagi bisa berjalan beriringan untuk merajut kembali kisah indah masa lalu. Ya, Christopher sudah merelakan wanita itu menjadi milik Dante. Ia menaruh percaya bahwa Dante sanggup menjaga Vallen dan tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti wanita itu, walau hanya seujung kuku.
Entahlah... Christopher sendiri tidak paham mengapa sudut bibirnya tiba-tiba menyunggingkan tawa. Mungkinkah ia sedang menertawakan nasibnya yang selalu akrab dengan kesialan? Isolasi ketat dari dunia luar selama berhari-hari perlahan merusak stabilitas psikologisnya, hingga tak jarang ia kehilangan kemampuan untuk membedakan antara realitas batin dan mimpi buruk.
Kendati demikian, Christopher terus memeras sisa-sisa kewarasannya, meski seluruh siksaan di tempat terkutuk itu telah menghantam kesehatan mental dan psikisnya secara brutal.
Christopher mungkin tampak tenang dari luar, tetapi siapa yang tahu jika isi kepalanya sudah tidak lagi berfungsi dengan baik? Saat malam menjemput, butuh waktu lama bagi Christopher untuk sekadar menenangkan diri dan memulihkan penglihatannya yang kerap mengabur akibat pekatnya kegelapan di dalam sel. Sementara di siang hari, satu-satunya pemandangan yang bisa ia saksikan hanyalah sosok manusia berpakaian serupa dengannya. Melalui celah kecil yang menjadi akses makanan dan minuman.
KAMU SEDANG MEMBACA
OBSESSED
Romance🚫 •WARNING• 🚫 MATURE CONTENT, 21+ (Dante Petterson dan Vallen Cooper) Cerita ini berlatar belakang kehidupan para Gengster atau para Mafia besar juga kejam yang menjurus dengan kekerasan, bahasa kasar, dan juga seksual bebas. ••• Dante Petterson...
