19. Mengelabui Emil

56 13 0
                                        

Hidup itu sebuah pengalaman, maka pintar-pintarlah dalam menghadapi seorang. Namun, terkadang apa yang kita dapatkan adalah bagaimana cara kita memperlakukan seseorang.

~~~

Di sebuah toko bunga yang harum dan penuh warna, Elena datang dengan niat tersembunyi. Dia tahu Emil akan muncul di sini dan telah mengatur rencana licik untuk menugaskan seseorang memata-matai dan mencuri ponsel serta dompet Emil.

dia segera bergabung dalam antrean, merasa yakin rencananya akan berjalan mulus. Tinggal hitungan tiga detik pasti Emil akan merasa malu.

Tiga

Dua

Satu

"Totalnya lima ratus ribu kak. Silahkan mau bayar cash atau QR?" tanya kasir dengan senyum ramah.

Emil membuka tasnya, mencari dompetnya, namun panik melanda ketika dia menyadari bahwa ponsel dan dompetnya menghilang. Matanya berkilat dalam kebingungan, sementara antrean semakin memanjang.

"Loh, dompet gue sama ponsel gue kok gak ada?" Emil mengeluh, merasa tenggelam dalam laut kekacauan. Akan memalukan jika dia harus mengaku kehilangan di depan umum.

"Duh, rasanya gue udah taruh di tas deh," ucap Emil dengan suara bergetar. Bagaimana dia bisa membayar tanpa uang?

"Emil? Kenapa sama lo?" tanya Elena, muncul di belakang Emil dengan nada yang penuh kepedulian, seolah seorang pahlawan yang siap menyelamatkan.

Emil menoleh, melihat Elena dengan mata terbuka lebar. "Lo?"

Elena tersenyum lembut, seperti matahari pagi yang menghangatkan. "Ada apa? Perlu bantuan gue?"

Emil menelan salivanya, bergelut antara gengsi dan kebutuhan. 

"Halo, kak. Gimana mau bayar dengan apa?"

Emil memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, seperti menyiapkan diri untuk melawan badai. "El, gue bisa pinjam uang lo? Gue janji bakal balikin besok. Dompet sama ponsel gue hilang." Dia berbicara dengan nada rendah, seolah mengungkapkan rahasia gelap.

"It's okay, no problem." Dia kemudian mengeluarkan kartu debitnya yaitu black card.

Hal itu terlihat di pandangan Emil. "What? Black card? Bahkan sekelas Chloe aja enggak punya black card."

"Sekalian bunga ini kak bayarnya jadiin satu aja."

Setelah mereka keluar dari toko, Emil merasa canggung, seperti seekor anak anjing yang tertangkap basah. Dia sering mengusik Elena di sekolah, tapi kali ini Elena malah menolongnya. "Makasih lo udah mau pinjamin gue uang."

Elena mengangguk dengan senyuman yang tenang. "Santai aja lo gak perlu kembaliin juga."

Emil terperangah. Uang sebanyak itu sangat berharga, namun Elena dengan mudah mengatakan untuk tidak dikembalikan. "Lo yakin?"

"Yaelah, kayak sama siapa aja. Lo teman kelas gue," balas Elena dengan nada ringan, seolah menanggapi hal yang wajar.

"Kenapa lo mau bantuin gue? Padahal gue jelas-jelas suka ganggu lo di sekolah." Emil ingin tau alasan Elena membantunya.

Elena dengan mudah membalikkan perkataan Emil. "Memangnya bantu orang perlu alasan? Lo gangguin gue selama di sekolah emang alasannya apa?"

Emil terdiam, merasa seperti terperangkap dalam jaring kesalahannya. "Maaf, gue tahu gue salah. Gue cuma ikut-ikutan Chloe. Tapi, apakah lo mau temenan sama gue?"

Delano & ElenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang