33. Sandiwara Delano

35 5 0
                                        


"Tidak ada pengorbanan yang gratis di dunia ini."

~~~~~

Ceklek

Delano melihat kedua temannya masuk langsung berkata lirih kepada Elena. "Bahas nanti aja." Ia juga tidak mau kalo hal ini diketahui oleh mereka.

Delano merasa harus menutupinya dari mereka berdua. Sedangkan Elena hanya diam tidak menjawab apapun. Pikirannya masih pada Delano yang tau tentang berlian merah delima.

"Ekhm! Kalian berdua ini kenapa malah diam-diaman gak jelas? Pada sariawan lo berdua?" Maxwel ketika masuk melihat mereka saling diam.

Duke yang baru saja masuk mendekati Delano dan memukul sedikit keras kepalanya. "Orang kayak lo masa masuk rumah sakit!"

"Arght!" Delano berteriak kesakitan dan Elena juga reflek ikut menyentuh kepala Delano.

"Lo gapapa El?" Elena menatap marah Duke. "Bercanda lo kelewatan banget! Kepala dia habis dijahit!"

Elena merasa marah karena pukulan yang diberikan oleh Duke tepat di sebelah kanannya.

Delano sendiri menatap Elena tidak menyangka kalo ia akan sekhawatir itu.

"Santai aja kali yang penting gak bikin dia sekarat." Duke malah tertawa dan Delano rasanya ingin membalas pukulan dari Duke. "Lagian khawatir banget lo sama El."

Elena terdiam untuk sesaat. Dia menjadi merasa malu lagian benar juga, dirinya ini terlihat khawatir yang ada dia malah kepedean. "Enggak, siapa yang khawatir sama dia. Gue cuma ngerasa bersalah aja!"

Tak!

Tiba-tiba Maxwel memukul kepala Duke dengan kasar. "Kenapa gak terima? Meskipun Delano gak balas lo tapi gue yang balas perbuatan lo! Lagian kalo aja Elena gak bawa nyokapnya, El tadi malam. Dia beneran udah sekarat beneran!"

"Iya juga yah," ucap Duke dan membuat Delano bingung.

"Gue nyampe sekarat?" Delano ingin tau lebih.

"Gollongan darah lo itu langka makanya kalo punya golongan darah yang gampang-gampang biar dicari mudah." Duke menyalahkan golongan darah Delano.

"Stres lo, emang bisa nawar?" Delano dengan gelengan kepalanya.

"Lo semua kenapa pada di sini? Gak ada yang sekolah?" Delano merasa heran karena ini masih pagi.

Maxwel menguap mengisyaratkan kalo dia mengantuk. "Sekali-kali bolos. Gue ngantuk banget gak tidur semalaman."

"Gak tidur tapi yang ngorok semalam siapa? Kuyang?" Duke menimpali ucapan Maxwel.

Elena yang mendengarnya tertawa kecil dengan kelakuan mereka. Ternyata mereka sangat renyah sekali ketika bercanda. Sayangnya mereka yang telah membunuh Alana.

Mengingat tentang Alana, Elena merasa aneh. Kenapa dia bisa ada diantara orang yang membunuh kembarannya?

•••••

Sejak tadi Emil berada di depan sekolahnya. Dia  ingin membolos untuk hari ini. Apalagi alasannya kalo dia telah diusir oleh orang tuanya. Dia tidak mempunyai seragam sekolah.

Meskipun dia tengah mengalami masalah yang begitu berat. Tapi, dia ingin sekali lulus dari sekolah. Emil berharap bisa menjadi lulusan dari SMA Sembilan Enam.

SMA ini menjadi SMA favorit dan kebanyakan lulusan sini melanjutkan pendidikannya di universitas ternama. Salah satunya Emil, meskipun dirinya memang nakal tapi percayalah. Kalo dia sangat menjunjung tinggi pendidikan.

Pendidikan baginya nomor satu makanya dia menjebak Alana untuk pinjol karena uangnya untuk dirinya membayar sekolah. Memang caranya ini salah tapi Emil tidak ada pilihan lain. saat itu,ibunya beum bekerja di kediaman Chloe dan uang yang didapat ayahnya tidak mencukupi.

Selain gengsinya yang tinggi ini menjadi alasan dia juga menjebak Alana untuk pinjol. Emil tau hal ini tidak benar tapi dia tetap melakukannya.

"Sorry, Alana. Tapi, berkat lo, gue bisa terus lanjut sekolah." Emil mengatakannya tanpa merasa ada penyesalan. "Dimana Duke? Kenapa waktunya pulang dia belum aja keluar?"

Emil ada urusan dengan Duke. Dia ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Bukan hanya itu saja, dia juga ingin menemui Elena yang telah mengacaukan hidupnya.

"Gue gak bisa lama-lama nunggu. Gue belum makan dari semalam." Emil kemudian mengirimkan pesan kepada Duke.

Sedangkan Duke yang kini masih di rumah sakit tiba-tiba mendapat notifikasi yang baginya begitu menyeramkan.

Emil: Transfer sekarang uangnya. Gue tunggu sampai lima menit.

Duke membacanya hanya tertawa kecil. Dia pikir Emil bisa memorotinya terus-menerus.

"Sialan! Perempuan ini lama-lama makin ngelunjak." Duke merasa kesal dan dia membiarkannya saja tanpa membalas. Hingga tidak ada jawaban membuat Emil kembali mengirimkan pesan.

Emil: Oh, jadi lo milih orang lain buat tau?

Emil: Lo lupa vidio Chloe yang viral itu? Gue bisa viralin lo juga.

Benar kalo Emil memanfaatkan vidio Chloe yang viral kepada Duke. Supaya dia takut dan memberinya uang.

Duke membaca lagi pesan dari Emil mengerang penuh marah. "Jadi, beneran dia yang kirim vidio Chloe? Gila banget tuh anak. Padahal teman sendiri aja bisa dikhianati apalagi gue."

Duke berpikir caranya supaya dia tidak mentransfer uang kepada Emil. "Apa yang harus gue lakukan?"

Duke tersenyum kecil. Kenapa selama ini dia tidak kepikiran akan hal ini.

Duke: Lo pikir gue takut? Viralin aja sekalian, artinya lo juga bakal diselidiki juga karena kejadian itu tepat sebelum Alana meninggal.

Setelah itu, dia tersenyum merasa senang dan akhirnya dapat bernapas dengan lega.

Maxwel melihat Duke sibuk dengan ponselnya sendiri segera bertanya. "Lo kenapa? Kayaknya tadi kesal banget sekarang malah senyum-senyum." Dia sejak tadi mengamatinya. "Lo punya dua kepribadian?"

"Sekali lagi lo bilang gitu gue sekap lo juga di villa biar mati juga kaya Alana!" Duke tanpa sadar mengatakan hal itu membuat tiga orang di dalam ruang langsung menatapnya.

Sontak seisi ruangan menjadi hening akan ucapan Duke barusan. Terutama Elena yang tadinya tengah mengupas apel langsung tergores tanpa dia sadari. "Apa? Lo pernah sekap orang sampai mati, Duke?"

Delano menghela napas panjang. Dia merutuki kebodohan Duke yang berkata tanpa pikir panjang.

Delano sudah tau semua kalo Elena adalah kembaran Alana dan dia juga tau kalo Elena datang untuk mencari tau siapa saja yang berkaitan dengan kematian kembarannya tersebut.

Dari mana Delano tau? Dia tau dari Omnya, Rizal yang menyuruhnya mencari berlian mereh delima itu. Makanya Delano mendadak menginginkan Elena sebagai kekasihnya dan juga sengaja  mengorbankan dirinya kemarin.

Namun, hal ini justru membuat Delano menjadi bingung karena Elena yang telah menyelamatkan ibunya dan mempertemukannya.

Delano & ElenaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang