"Keluarga dari pasien atas nama Salsabila Azzahra?" tanya dokter sambil menatap sekeliling.
"Saya, saya suaminya, Dok," sahut Lian cepat, langkahnya segera menghampiri sang dokter. Wajahnya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran.
Dokter mengangguk pelan. "Baik, Pak. Boleh ikut saya ke dalam sebentar?"
Lian mengangguk dan langsung mengikuti dokter menuju ruang IGD. Sesampainya di dalam, ia melihat perawat tengah memasang infus di tangan Salsa. Wajah istrinya terlihat lemas, matanya masih berat, dan keringat dingin tampak membasahi pelipisnya.
Lian segera mendekat, menggenggam lengan istrinya dengan hati-hati sambil membelai lembut.
"Kenapa, Dok? Istri saya kenapa?" tanyanya pelan, tapi penuh kekhawatiran.
Dokter mengambil posisi di samping ranjang dan menatap Lian dengan tenang.
"Jadi begini, Pak. Dari gejala yang kami lihat dan hasil pemeriksaan awal, sepertinya Bu Salsa terkena gejala tipes. Diduga akibat kelelahan dan pola makan yang tidak teratur. Kami juga menemukan indikasi bahwa beliau memiliki masalah lambung, atau lebih tepatnya maag."
Lian spontan menatap Salsa dengan ekspresi sedikit kesal, namun masih diwarnai kekhawatiran. Salsa hanya membalas tatapan itu dengan tatapan bersalah.
"Untung saja Bapak cepat membawanya ke sini," lanjut dokter. "Kalau terlambat sedikit saja, kondisinya bisa memburuk. Apalagi suhu tubuhnya sempat mencapai 39°C, itu cukup tinggi dan berbahaya. Karena itu, Bu Salsa perlu dirawat inap agar kondisinya bisa dipantau dan ditangani lebih lanjut."
Dokter kemudian menutup penjelasannya, "Silakan segera menyelesaikan administrasi, ya, Pak. Saya permisi dulu."
"Terima kasih, Dok," ucap Lian singkat.
Beberapa saat setelah dokter keluar, perawat yang tadi memasang infus pun ikut berpamitan.
"Infusnya sudah terpasang. Nanti akan dipindahkan ke ruang rawat sekitar tiga puluh menit setelah administrasi selesai, ya. Saya pamit dulu."
"Baik, terima kasih, Suster," balas Lian.
Begitu pintu tertutup, suasana mendadak hening. Lian dan Salsa hanya saling diam. Lian menunduk, pikirannya sibuk berkecamuk. Ada kekhawatiran yang masih menggelayut, tapi juga rasa jengkel karena baru tahu kalau istrinya menyimpan kondisi tubuhnya sendiri.
Sementara Salsa hanya bisa menatap suaminya dengan mata sendu, merasa bersalah tapi tak punya tenaga untuk menjelaskan.
Beberapa detik kemudian, Lian berdiri.
"Aku urus administrasinya dulu," ucapnya singkat, tanpa menatap Salsa.
Salsa mengangguk pelan. "Iya..."
Lalu, sunyi kembali menyelimuti ruangan, hanya suara mesin infus dan detak jantung Salsa yang pelan, menunggu kehangatan kembali mengisi ruang yang sempat terasa dingin oleh ke tidak terus terangan dan kekhawatiran.
**
Sudah lebih dari satu jam berlalu, tapi Lian belum juga kembali ke ruang IGD. Salsa yang duduk di ranjang rumah sakit mulai resah. Padahal, suster bilang proses administrasi paling lama hanya dua puluh menit. Perasaannya bercampur aduk, gelisah, malu, dan bersalah. Ia tahu betul Lian pasti marah. Dan Salsa terlalu malu untuk menghubunginya lebih dulu, takut suaminya itu tak membalas atau malah makin kesal.
Tak lama kemudian, seorang suster masuk ke ruangan.
"Mbak Sal, kita pindah ruangan ya," ujar suster itu lembut sambil tersenyum.
"Eum... bentar ya, Sus. Saya tunggu suami saya dulu," jawab Salsa pelan. Matanya menatap pintu, berharap Lian muncul di detik itu juga.
Suster itu mengangguk mengerti lalu meninggalkan Salsa sendirian sejenak. Dalam hati, Salsa menimbang-nimbang, lalu akhirnya memberanikan diri meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Lian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
