"Huek... Huekk..."
Suara muntah itu kembali menggema dari dalam kamar mandi. Untuk kesekian kalinya, Salsa memuntahkan cairan bening dari dalam perutnya. Tubuhnya mulai lemas, napasnya tersengal, dan wajahnya pucat pasi. Terhitung sudah lima hari berturut-turut ia mengalami mual dan muntah tanpa sebab yang jelas. Entah berapa kali ia bolak-balik ke toilet hanya untuk mengosongkan isi perut yang sebenarnya sudah nyaris tak ada isinya lagi.
"Sebenernya kenapa sih aku?" gumamnya lirih, menggenggam perut yang terasa tidak nyaman.
Dengan langkah gontai, Salsa berjalan keluar dari kamar mandi dan menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang. Kedua matanya tertutup, mencoba mengatur napas sambil menahan rasa tak nyaman di ulu hati.
"Huft ... capek banget bolak-balik toilet," keluhnya pelan. Tangan kanannya menutup mata, sementara tangan kirinya memegangi perut. Rasanya seperti berperang dengan tubuh sendiri.
Belakangan ini ia nyaris tak bisa makan dengan benar. Setiap makanan yang masuk ke mulut, baru sempat dikunyah, langsung membuatnya mual. Bahkan mencium aroma sabun di kamar mandi pun cukup untuk memicu refleks muntahnya. Semua ini terasa asing. Tubuhnya terasa begitu sensitif terhadap segala hal.
Pagi ini, meskipun hati Lian berat bukan main, ia tetap berangkat ke kantor setelah Salsa memaksanya.
"Aku nggak apa-apa, kamu kerja aja. Nanti kalau butuh, aku telepon," katanya berusaha tersenyum di tengah rasa tidak enaknya.
Tapi ia tahu benar, senyum itu hanya topeng. Lian pun pergi dengan wajah yang tak kalah khawatir, masih menoleh ke belakang sebelum akhirnya benar-benar keluar rumah.
Drrt... Drrt... Drrt...
Getaran dari ponsel yang tergeletak di meja samping tempat tidur mengalihkan perhatian Salsa. Dengan gerakan lambat, ia meraih ponsel itu. Layar menunjukkan panggilan suara masuk.
Mama
Senyum tipis muncul di wajahnya. Salsa menyentuh layar dan menjawab panggilan itu.
"Halo, assalamualaikum, Ma..." suaranya terdengar lemah, nyaris seperti bisikan.
"Waalaikumsalam, Ca. Gimana kabarnya, Nak? Kamu sehat, kan?" tanya Mama Rita dari seberang, suaranya lembut dan penuh kasih.
Salsa menarik napas panjang sebelum menjawab, "Alhamdulillah, sehat, Ma. Mama gimana? Sehat?"
"Alhamdulillah, Mama sehat. Tapi suara kamu kok kayak orang lagi nggak enak badan, Nak? Kenapa? Sakit?" nada suara Mama Rita mulai berubah, terdengar khawatir.
Salsa mencoba tersenyum, meski jelas sekali wajahnya kelelahan. "Enggak, Ma. Cuma lagi mual-mual aja. Dari kemarin muntah terus. Nggak tau kenapa."
"Kamu habis makan apa? Atau kecapean?" Mama Rita makin panik.
Salsa menggeleng. "Enggak, Ma. Aku juga bingung. Tapi anehnya, aku sekarang jadi super sensitif sama bau-bauan. Tadi pagi aku sampai muntah cuma gara-gara nyium bau sabun di kamar mandi."
Mama Rita terdiam sejenak. Wajahnya tampak berpikir. Lalu, dengan nada penuh harap dan sedikit antusias, ia bertanya, "Ca ... kamu hamil, ya?"
Salsa terkejut. Ia bahkan sempat terdiam, matanya membesar. "Hah? Masa sih, Ma?"
"Coba diingat-ingat ... kapan terakhir kamu haid?" desak Mama Rita lembut.
Salsa menggigit bibir bawahnya, mencoba mengingat. Matanya mengarah ke langit-langit kamar, seolah mencari jawaban di sana. "Kayaknya ... satu atau dua bulan yang lalu deh, Ma aku lupa. Pokoknya sebelum berangkat ke Tokyo," jawabnya ragu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
