Hari ini adalah hari pertama Salsa menjalani pemotretan bersama tim modeling barunya. Sejak pagi, suasana rumah sudah terasa berbeda, sedikit lebih sibuk tapi tetap hangat.
"Aku anterin kamu ke studio pemotretannya ya, Ca?" ucap Lian sambil duduk rapi di kursi makan, sementara Salsa berdiri di hadapannya, membetulkan dasi sang suami.
"Ca" atau "Caca" adalah panggilan manja Lian untuk istrinya.
Salsa mengerling sejenak sambil tersenyum. "Nggak usah, nanti kamu malah kesiangan. Katanya tadi ada meeting, kan?"
"Ngga akan, Ca. Lagian, kalau pun aku telat, siapa yang mau marahin? Aku kan bos-nya," jawab Lian santai sambil tersenyum lebar. "Lagipula meeting-nya juga siangan."
Salsa mencubit pelan bahu Lian. "Ck, si paling bos. Tapi jangan mentang-mentang kamu bos terus bisa seenaknya dong. Kalau memang ada urusan penting dan kamu nggak bisa nganter, aku nggak apa-apa, kok."
Lian menghela napas dramatis lalu menatap Salsa dengan wajah memelas. "Ayolah sayang, boleh yaaa? Ini kan hari pertama kamu kerja lagi, masa nggak diantar sama suaminya?"
Salsa tertawa geli melihat ekspresi Lian yang mendadak clingy. "Ya ampun, bisaan banget deh muka clingy gitu."
"Hehe... tapi boleh, kan?" tanya Lian lagi, memastikan.
"Iya boleh, Lian," jawab Salsa akhirnya, sambil menyentuh lembut pipi suaminya.
"Yey!" seru Lian pelan.
"Udah nih beres dasinya, tinggal pake jas." ucap Salsa
"Aku juga tinggal pake sepatu," sambung nya sambil beranjak.
Saat melihat Salsa hendak duduk untuk memakai sepatunya, Lian refleks ingin membantu. Namun, Salsa menolak halus.
"Ngga usah, aku sendiri aja. Nggak enak diliat, nanti kamu malah ribet bantuin aku padahal lagi rapi-rapinya."
Lian mengangguk. "Baiklah, Nyonya."
Beberapa menit kemudian, Salsa berdiri dan menepuk pelan pundak Lian. "Udah, aku siap."
"Yaudah, ayo!" kata Lian sambil menggandeng tangan istrinya dan membawanya menuju mobil.
Perjalanan pagi itu dimulai dengan tawa dan obrolan ringan. Meski hari baru saja dimulai, hati mereka sudah terisi penuh dengan cinta dan perhatian.
**
Sekitar dua puluh menit kemudian, Lian dan Salsa tiba di studio tempat pemotretan berlangsung. Mobil mereka berhenti tepat di depan gedung bergaya modern dengan logo agensi terpampang jelas di bagian atas.
Sebelum turun, Salsa membalikkan badan menghadap suaminya. Ia mengulurkan tangan, dan Lian langsung menyambutnya dengan senyuman, menyalaminya lalu mengecup keningnya dengan lembut seperti kebiasaannya setiap kali mereka berpisah.
"Kabarin aku ya kalau udah sampai kantor," ucap Salsa sambil menatap mata Lian.
"Iya, sayang. Kamu juga jangan lupa kabarin aku kalau udah selesai pemotretan, ya," balas Lian hangat.
"Iyaaa… Yaudah, kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut-ngebut, inget, kamu bawa nyawa," ucap Salsa
"Siap, Bu Bos!" sahut Lian sambil memberi hormat ala tentara. Gesturnya yang konyol sukses membuat Salsa tertawa kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
