Siang itu suasana rumah terasa tenang dan hangat. Cahaya matahari masuk perlahan melalui celah gorden, menyinari ruang keluarga tempat Salsa sedang bergelayut manja di pangkuan suaminya. Tubuhnya bersandar nyaman di dada Lian, kepala kecilnya menempel pas di sana, seolah menemukan tempat paling aman di dunia. Kedua lengannya melingkar di leher Lian, jari-jarinya saling mengait malas, enggan melepaskan.
Lian duduk santai sambil satu tangannya mengusap lembut perut istrinya yang kini mulai membulat. Usapan itu teratur dan penuh kasih, seolah bukan hanya menenangkan Salsa, tetapi juga menyapa bayi kecil yang sedang tumbuh di dalam sana.
Dengan suara lembut yang mengandung nada manja khasnya, Salsa berbisik pelan, hampir seperti merayu, "Lian ke rumah Bunda, yuk? Udah lama banget aku nggak ketemu Bunda." Ucapnya sambil sedikit menggesekkan pipinya ke dada suaminya, mencari perhatian lebih.
Lian tersenyum kecil mendengar permintaan itu. Ia menunduk, menatap wajah istrinya yang masih bersandar di dadanya, wajah yang selalu berhasil meluluhkan hatinya dalam sekali pandang. Dengan ibu jarinya, ia mengusap pipi Salsa pelan, penuh sayang.
"Mau kapan, Sayang?" tanyanya lembut, suaranya tenang dan hangat.
Salsa langsung mendongak. Mata bulatnya seketika berbinar, seperti anak kecil yang baru saja ditawari sesuatu yang ia inginkan. "Sekarang, ya?" ucapnya cepat, nadanya penuh harap. Bibirnya sedikit mengerucut tanpa sadar, membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan.
Lian tak bisa menahan tawa kecilnya. Ia mengecup hidung istrinya dengan singkat namun penuh cinta. "Boleh," jawabnya sambil tersenyum. "Siap-siap dulu kalau gitu. Yuk."
Reaksi Salsa begitu cepat. Ia langsung bersorak kecil, suaranya ceria dan penuh semangat. Tangannya semakin erat memeluk leher Lian. "Yaay! Ayo gendong ke kamar. Aku mau ganti baju," pintanya tanpa rasa bersalah, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.
Lian kembali terkekeh, geleng-geleng kepala dibuat gemas oleh tingkah istrinya. Ia mengecup puncak kepala Salsa dengan lembut, menghirup aroma khas yang selalu menenangkan hatinya. Tanpa banyak protes, ia menyelipkan satu tangan ke punggung dan satu lagi ke bawah lutut istrinya, lalu menggendong Salsa dengan posisi bridal style.
"Pegangan yang bener, Bumil," ucap Lian sambil berdiri dan melangkah menuju kamar.
Salsa tertawa kecil, menyandarkan kepalanya kembali di dada suaminya, menikmati setiap langkah yang membawa mereka menuju kamar, ditemani perasaan hangat, manja, dan rasa dicintai yang utuh.
***
Begitu sampai di dalam kamar, Lian masih menggendong istrinya sebentar sebelum akhirnya menurunkannya dengan hati-hati. Ia lalu menuntun Salsa masuk ke walk-in closet yang cukup luas, dikelilingi deretan pakaian yang tersusun rapi namun kini terasa seperti musuh bagi Salsa.
"Pelan-pelan ya, Sayang," ucap Lian sambil memastikan langkah istrinya stabil sebelum ia melepas pegangan.
Salsa hanya mengangguk kecil, lalu berdiri di depan lemari pakaian sambil membuka satu per satu gantungan baju. Awalnya ia masih bersenandung kecil, tapi makin lama gerakannya melambat. Keningnya mulai berkerut, bibirnya mengerucut, dan bahunya sedikit turun tanda mulai lelah.
Waktu berlalu tanpa terasa. Hampir tiga puluh menit kemudian, Lian yang sejak tadi menunggu di ambang pintu akhirnya menegakkan tubuhnya. Ia menatap istrinya yang masih berdiri di depan lemari dengan ekspresi frustrasi yang sama sejak sepuluh menit lalu.
"Sayang," panggil Lian lembut sambil melangkah mendekat. "Kenapa? Dari tadi belum kelar juga."
Salsa menoleh perlahan. Wajahnya sedikit manyun, matanya berkaca-kaca tipis meski belum sampai menangis. Tanpa banyak pikir, ia langsung melangkah maju dan memeluk suaminya erat, wajahnya menyembur ke dada Lian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fiksi Penggemar"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
