Cemburu Manis

5K 342 11
                                        

"Sayang ... bangun, cantik. Kita udah nyampe di studio," bisik Lian lembut, sambil mengelus pipi Salsa yang tertidur pulas dengan kepala bersandar di dadanya.

Hari ini, Lian mengantar Salsa ke studio untuk pemotretan salah satu brand makeup dan fashion ternama yang tengah naik daun. Sejak awal, Lian sebenarnya tak begitu setuju dengan keinginan istrinya itu.

Baginya, kehamilan Salsa yang masih muda perlu perhatian ekstra, dan mengikuti kegiatan padat seperti pemotretan jelas bukan pilihan bijak. Ia khawatir Salsa kelelahan, apalagi sesi foto seperti ini bisa memakan waktu berjam-jam.

Tapi Salsa tetap bersikeras, dengan nada memohon yang lirih, bahkan sempat menangis, dan pelukan manja yang melemahkan segala pertahanan Lian.

"Aku janji nggak maksa kalau ngerasa capek ... Tapi please banget, ya, aku pengen banget ikut ... Please sayang ... " begitu rayuan manja Salsa waktu itu.

Dan tentu saja, Lian kalah. Bukan karena ia lemah, tapi karena cintanya terlalu besar untuk menolak keinginan istrinya, apalagi saat Salsa merengek sambil memeluk Lian, seolah memperlihatkan semangatnya yang tetap ingin berkarier. Akhirnya, Lian pun mengizinkan dengan satu syarat: dia akan ikut menemani dari awal sampai akhir.

Kini, di pelataran parkir studio, Salsa masih terlelap di pangkuannya. Selama perjalanan tadi, Lian dengan sabar menyetir sambil sesekali melirik istrinya yang tertidur.

Tangannya sesekali terulur untuk mengelus kepala Salsa atau membetulkan posisi duduknya agar tetap nyaman. Lian tidak peduli tangan kirinya pegal karena tak bergerak lama, atau tubuhnya harus menyesuaikan agar tak membuat istrinya terguncang. Baginya, menjaga kenyamanan Salsa jauh lebih penting daripada rasa pegal yang bisa hilang dalam beberapa menit.

"Sayang ... " panggil Lian sekali lagi, kali ini dengan nada lebih lembut. Jarinya mengelus pipi Salsa.

Salsa menggerakkan tubuhnya perlahan, bibirnya sedikit mengerucut, ekspresinya masih setengah sadar. Dengan gerakan malas, ia membuka matanya, lalu memandang Lian dengan tatapan kosong yang perlahan berubah menjadi senyum kecil.

"Udah nyampe?" gumamnya, suara serak khas orang baru bangun terdengar sangat lucu di telinga Lian.

"Iya, Sayang. Kita udah sampai," jawab Lian sambil tersenyum, matanya menatap penuh cinta. Ia membantu Salsa duduk lebih tegak, menopang tubuhnya dengan hati-hati.

Salsa mengusap matanya yang masih berat, lalu menatap Lian dengan tatapan penuh rasa sayang. "Enak banget kalo tidur di pangkuan kamu. Kamu nggak repot kan, nyetir sambil pangku aku?"

Lian terkekeh pelan, lalu menggesekkan ujung hidung nya ke hidung istrinya dengan gemas. "Nggak repot kalau demi istri sendiri. Aku malah seneng. Liat kamu tidur nyenyak, rasanya tenang."

Salsa tersenyum malu, lalu menyandarkan kepalanya sebentar di bahu Lian sebelum akhirnya bersiap turun dari mobil. Lian dengan sigap keluar lebih dulu, lalu membuka pintu untuknya.

Lian menggenggam tangan Salsa, membantunya berjalan menuju pintu masuk studio. Seperti biasa, ia tak pernah melepaskan perhatian dari istrinya, apalagi di kondisi sekarang. Tangannya sesekali terangkat untuk memayungi wajah Salsa dari sinar matahari yang menyilaukan, sementara tangan lainnya tetap menggenggam jemari istrinya dengan erat.

"Pelan-pelan aja jalannya, Sayang. Nggak usah buru-buru," ucap Lian lembut, mengarahkan langkah Salsa agar tetap stabil di jalan masuk yang sedikit menanjak.

Salsa hanya mengangguk kecil, senyumnya mengembang di wajah. Ia merasa sangat dicintai, dan perasaan itu membuat langkahnya jauh lebih ringan meski tubuhnya mudah lelah akhir-akhir ini.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang