Sore itu, sekitar pukul empat, suasana rumah terasa tenang. Salsa sedang duduk di ruang tengah sambil bermain dengan kucing peliharaannya, Puffy. Jari-jarinya dengan lembut mengelus kepala kucing berwarna abu-abu itu, sementara senyum kecil menghiasi wajahnya.
"Udah lima hari main sama anak bebek, bosan juga ternyata," gumamnya pelan sambil bercanda dengan Puffy. Anak bebek yang sebelumnya selalu menempel padanya kini sudah dikembalikan ke kandang. "Sekarang giliran kamu yang nemenin aku, ya, Puf," ucapnya manja pada kucing itu.
Tak lama, Lian muncul dari arah kamar, baru saja selesai mandi. Rambutnya masih sedikit basah, dan aroma sabun maskulin yang segar menyebar ke seluruh ruangan. Ia berjalan santai lalu duduk di sebelah istrinya, memeluknya dari samping dengan hangat.
"Sayang," panggil Lian sambil menyandarkan dagunya di bahu Salsa, "jalan-jalan, yuk."
Salsa menoleh, keningnya berkerut sedikit. "Jalan-jalan ke mana?"
"Ngabuburit," jawab Lian sambil tersenyum. "Pinjem motor Papa, terus kita cari takjil. Aku pengen es jeruk, kamu pasti pengen jajan juga, kan?"
Salsa tertawa kecil, lalu menatap suaminya dengan mata berbinar. "Ayo! Tapi kita beli buat Papa Mama juga, ya?"
"Pastinya dong. Sekalian biar bisa cuci mata juga, bosen dirumah terus," ujar Lian sambil berdiri dan mengulurkan tangan ke istrinya.
Salsa menerima tangan itu sambil tersenyum lebar. "Tunggu, aku ganti baju dulu. Masa ngabuburit pakai daster kumel, sih," candanya sambil berlari kecil menuju kamar.
Lian menggeleng pelan, masih dengan senyum geli di wajahnya. "Jangan lari, Sayang. Kamu cantik pakai apa pun juga, Ca," ucapnya dengan nada lembut yang membuat Salsa refleks memperlambat langkahnya. Ia menoleh sebentar dan tersenyum malu-malu sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Sementara itu, Lian melangkah ke teras depan, di mana Papa Denis tampak sedang memandikan burung peliharaannya di bawah pohon jambu. Aroma sabun burung khas memenuhi udara, bercampur dengan suara gemericik air dari selang yang digunakan Papa Denis.
"Pa," sapa Lian sopan, "boleh pinjam motor sebentar? Aku sama Salsa mau cari takjil."
Papa Denis menoleh sambil mengangguk ramah. "Boleh, ambil aja motor matic di garasi. Panasin dulu ya, udah dua hari nggak dipakai."
"Siap, Pa. Makasih ya!" balas Lian, lalu berjalan ke garasi untuk mengeluarkan motor matic berwarna hitam metalik itu. Ia membersihkan sedikit debu di joknya sebelum mulai memanaskan mesin.
Tak lama, Salsa keluar dengan tampilan yang sederhana tapi tetap anggun. Ia mengenakan dress katun yang longgar dan nyaman, berwarna cokelat susu, serta jilbab instan berwarna senada. Wajahnya bersih, hanya sedikit bedak dan lip balm untuk menyegarkan.
"Sayang, ayo," panggil Salsa lembut dari ambang pintu. Satu tangan memegang ponsel, sementara tangan satunya dengan refleks menyangga perutnya yang mulai membuncit.
"Iya, sebentar. Ini lagi manasin dulu mesinnya," sahut Lian sambil menunduk memeriksa indikator bensin pada motor. Ia melirik ke arah istrinya dan tersenyum, "Kamu cantik banget, Sayang."
Salsa tertawa pelan, pipinya merona. Ia mendekat dan berdiri di samping suaminya, lalu menyentuh lengan Lian dengan lembut. "Gombal."
"Nggak gombal. Serius." Lian membalas dengan tatapan penuh cinta, lalu mengecup kening istrinya dengan hangat. Gerakan kecil itu seolah mengunci semua perasaan sayang yang sulit terucap.
Salsa mengusap keningnya yang baru saja dicium, lalu berseru dengan antusias, "Ayo dong, aku pengen es jeruk,"
Lian tertawa kecil. "Iya, iya, sebentar. Nih, pake dulu helmnya," ucapnya sambil mengambil helm dari setang dan memakaikannya ke kepala Salsa dengan hati-hati. Setelah memastikan pengaitnya terkunci, Lian sendiri mengenakan helmnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
