"Ca mau makan malam sama apa? Mau beli atau Mama bikinin?" tanya Mama Rita, sambil menepuk pelan bahu putrinya yang masih tampak manja bersandar di pangkuan suaminya.
Salsa menoleh dengan mata berbinar, senyum kecilnya mengembang sambil merapikan posisi Puffy di pangkuannya. "Pengen soto bikinan Mama," pintanya dengan nada manja dan senyum menawan.
Mama Rita terkekeh kecil melihat tingkah putri sulungnya yang makin manja sejak hamil. "Iya, Mama masakin. Tunggu sebentar, ya." jawabnya ramah sebelum beranjak ke dapur dengan langkah ringan.
Salsa mengangguk puas, lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada Lian. Aroma parfum suaminya membuatnya merasa semakin nyaman. Suasana sore itu begitu hangat, dengan udara yang masih sejuk menyelinap lewat ventilasi ruang keluarga.
Namun tak lama kemudian, matanya menangkap sosok Papa Denis yang sedang merapikan topi dan menepuk-nepuk sendalnya.
"Papa mau ke mana?" tanya Salsa, rasa penasarannya muncul begitu saja.
Papa Denis menoleh sambil tersenyum. "Mau nengok sawah sama kebun di belakang rumah, Nak. Udah lama Papa nggak ke sana," jawabnya tenang.
Mendengar itu, Salsa langsung merengut manja. Ia menatap ayahnya, lalu cepat-cepat menoleh ke Lian. "Aku mau ikut ... boleh ya, Pa?" rengeknya dengan suara pelan, seperti takut permintaannya ditolak.
Papa Denis tampak ragu sejenak, menatap wajah putrinya yang sedang hamil dengan perut semakin membesar. "Nanti kamu kecapekan, Nak. Lagi hamil kan harus banyak istirahat ... Papa bawain stroberi aja nanti, ya." ujarnya pelan, menasihati dengan nada hati-hati.
Salsa menggeleng cepat, matanya semakin memohon. "Nggak, mau ikut ... cuma lihat-lihat aja, biar nggak bosen di rumah terus, nggak akan capek, janji. Please boleh ya, Pa?" ucapnya dengan nada merayu.
Papa Denis masih menatapnya khawatir, namun Lian ikut menimpali dengan nada lembut. "Nggak apa-apa, Pa, nanti Lian jagain Salsa. Biar dia nggak bosen juga di rumah," ucap Lian sambil menatap ayah mertuanya dengan yakin.
Papa Denis akhirnya mengalah, menahan tawa kecil. "Ya udah kalau gitu, ayo ikut. Tapi nanti kalau capek langsung bilang, jangan dipaksa," pesannya lembut.
Salsa langsung sumringah. Dengan semangat, ia berdiri dari pangkuan Lian lalu meraih cardigan tipis warna krem dan hijab instan senada yang sudah disiapkan di dekat sofa. Ia memakainya dengan cekatan, dress santainya tampak semakin anggun ketika dipadukan dengan cardigan itu.
Lian ikut berdiri, lalu merapikan letak hijab istrinya dengan sabar, jemarinya menata ujung kain dengan sentuhan lembut. Tatapan matanya penuh cinta, menelusuri wajah Salsa yang tampak bersemangat meski masih lelah.
"Udah cantik banget," puji Lian sambil tersenyum hangat, matanya berbinar seolah tak pernah bosan menatap perempuan yang kini menjadi dunianya.
Salsa menepuk lengan suaminya pelan, semburat merah tipis muncul di pipinya karena tersipu. "Ayo, aku pengen jalan-jalan. Udah lama banget nggak ke kebun, kangen suasana di sana," ucapnya penuh semangat, lalu mencium pipi Lian sekilas. Wajahnya berbinar, membuat Lian tak kuasa menahan gemas.
"Iya, ayo, Sayang," balas Lian sambil meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat seolah tak mau dilepas.
Dengan langkah perlahan namun antusias, mereka berjalan keluar rumah bersama Papa Denis. Angin sore yang lembut menyapa kulit mereka, menciptakan suasana menenangkan di halaman rumah yang rimbun. Pepohonan di sekitar masih hijau dan rindang, menambah nuansa damai dan teduh.
***
Saat mereka tiba di kebun, Salsa langsung tersenyum lebar, matanya berbinar melihat hamparan hijau yang membentang di depannya. Udara segar khas pedesaan menyapu wajahnya, membuat dadanya terasa lebih lapang dan tenang. Deretan tanaman buah, bunga-bunga bermekaran, serta sayur-mayur yang tumbuh subur seolah menyambut kedatangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
