Malam itu, sekitar pukul setengah sembilan. Suasana rumah cukup tenang setelah tarawih pertama di bulan Ramadan. Lian dan Papa Denis baru saja pulang dari masjid, bau harum kayu manis dari kolak buatan Mama Rita masih tersisa di udara.
Begitu membuka pintu rumah, langkah Lian terhenti. Matanya langsung menangkap pemandangan yang membuat dadanya mencelos, Salsa tengah terisak di pelukan Mama Rita di ruang tengah. Bahunya berguncang pelan, suara tangisnya terdengar tertahan.
Tanpa pikir panjang, Lian menghampiri dan langsung menarik Salsa ke dalam dekapannya. Ia duduk di sofa dan mendudukkan istrinya di pangkuannya, memeluk erat tubuh mungil itu. Tangannya mengelus punggung Salsa dengan lembut, mencoba menenangkan gejolak emosi yang membuncah.
"Kenapa nangis, Sayang?" bisik Lian, suaranya penuh kelembutan.
"Aku sedih ... hiks," isak Salsa, suaranya bergetar. "Aku nggak bisa ikut tarawih pertama ... nggak bisa puasa juga ... Padahal ini Ramadhan pertama kita bareng, Sayang ..." ucapnya pelan, matanya berkaca-kaca.
Lian menghela napas pelan, lalu mencium puncak kepala istrinya dengan lembut. "Sayangku ... kamu nggak perlu sedih. Kamu lagi hamil, dan itu alasan paling mulia untuk tidak berpuasa. Ibu hamil memang dibolehkan untuk nggak puasa kalau kondisinya nggak memungkinkan."
Salsa masih menunduk, menggigit bibirnya, mencoba menahan tangis yang kembali ingin pecah. "Tapi aku pengen banget, Sayang ... pengen ikut ngerasain semuanya bareng kamu. Bangunin kamu sahur, shalat tarawih bareng, buka puasa bareng. Tapi sekarang malah nggak bisa ... "
Lian menangkup wajah istrinya dengan dua tangan, matanya menatap dalam ke arah mata Salsa yang basah. Ia tersenyum tipis, lalu mengecup kening istrinya lama, seolah ingin memindahkan ketenangan dari hatinya ke dalam dada Salsa.
"Sayang ... justru Ramadhan ini jadi lebih istimewa karena kamu lagi bawa baby kita. Kamu lagi menjalani ibadah dalam bentuk lain. Kamu nggak puasa karena kamu menjaga amanah Allah ... kehidupan kecil yang ada di dalam rahim kamu. Itu juga ibadah yang luar biasa nilainya."
Salsa menatap perutnya yang membuncit pelan. Jemarinya secara refleks membelai lembut permukaan kain baju yang menutupi perutnya, seolah ingin menyapa si kecil di dalam sana.
Lian kemudian menempelkan tangannya ke perut Salsa, membelai pelan. "Aku nggak mau kamu maksa diri, Sayang. Kalau kamu capek, lemes, bisa bahaya buat kamu dan baby. Aku lebih pilih kamu sehat, baby sehat, daripada kamu puasa tapi malah jadi lemah. Nggak ada paksaan dalam agama, Sayang. Allah itu Maha Pengasih."
Salsa mengangguk pelan, tapi tatapan matanya masih mengandung kesedihan.
"Aku ngerti, kamu pengen ikut semua momen Ramadhan bareng aku ... Tapi kita masih bisa kok. Kamu tetep bisa bangunin aku sahur meskipun kamu nggak makan, kamu tetep bisa duduk nemenin aku. Kita bisa shalat bareng, bisa duduk sama-sama waktu buka, bisa cari takjil berdua ... Kamu tetep bagian dari semuanya, Caca."
Salsa mulai tenang dalam pelukan Lian, napasnya yang semula tersendat kini perlahan kembali teratur. Namun dalam sisa isaknya yang masih samar, ia menatap Lian dengan mata berkaca-kaca, lalu berkata pelan, penuh harap.
"Tapi janji ya ... nanti bolehin aku masak? Buat buka, buat sahur kamu?" pintanya lirih.
Lian menatap istrinya, sempat terdiam sejenak. Permintaan itu terasa sederhana, tapi ia tahu betapa besar keinginan Salsa untuk tetap terlibat dalam setiap momen kebersamaan mereka selama Ramadan bahkan jika itu hanya soal menyiapkan makanan.
Belakangan ini, Lian memang melarang Salsa untuk berada terlalu lama di dapur. Ia lebih memilih memasak sendiri atau membelikan makanan dari luar. Semua itu semata-mata karena kekhawatirannya. Kondisi kehamilan Salsa yang semakin membesar membuat Lian ekstra hati-hati. Ia tak ingin istrinya kelelahan, apalagi jika harus berdiri lama di dapur.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
