Pukul 02.00 dini hari, Lian merasa tubuhnya panas. Ia membuka matanya dan menyadari bahwa hawa panas tersebut berasal dari istrinya yang memeluknya dengan begitu erat.
Lian mencoba melepaskan pelukan Salsa, lalu dengan cemas mengecek keningnya menggunakan tangan. Tubuh Salsa begitu panas, namun ia sendiri merasa dingin dan menggigil.
"Panas banget, sayang," lirih Lian, penuh khawatir.
"Caa, bangun yuk. Kita ke klinik, badan kamu panas banget, sayang," bujuk Lian lembut.
"Enggak mau, mau dipeluk aja," jawab Salsa, memeluk tangan Lian lebih erat lagi.
"Tapi badan kamu panas banget, Ca. Aku takut kamu kenapa-kenapa. Nurut ya?" Lian berusaha membujuk dengan lembut.
"Enggak mau.." rengek Salsa, suara hampir menahan tangis.
Lian menarik napas panjang, sabar.
"Iyaudah, kalo gitu minum obat dulu ya? Aku ambilin dulu," ucap Lian membujuk, Salsa hanya mengangguk lemah.
"Iyaaa. Tapi jangan lama-lama," jawab Salsa dengan suara serak, matanya masih terpejam.
"Iya, bentar ya, Ca," Lian tersenyum lembut sambil merapikan rambut Salsa yang menutupi wajah cantiknya. Lian segera turun ke bawah untuk mengambil air hangat dan obat. Saat di bawah, ia melihat ada Bye Bye Fever yang sebenarnya dibeli untuk ponakannya tiga hari lalu, namun ia tetap memutuskan untuk menggunakannya pada Salsa, karena lebih mudah dan tidak mudah jatuh seperti kompresan biasa.
Lian kembali ke kamar dengan membawa semua yang dibutuhkan. Begitu membuka pintu, ia melihat Salsa sedang menutupi tubuhnya dengan selimut, tampak gelisah.
Lian duduk di pinggiran kasur dan membangunkan Salsa perlahan untuk meminum obat.
"Sayang, bangun dulu sebentar ya. Ini obatnya, biar mendingan," ujar Lian lembut, mencoba membangunkan istrinya.
Salsa membuka matanya perlahan, Lian membantu Salsa duduk bersandar di headbord. "Minum dulu, biar panasnya turun," Lian memberikan obat itu, dan Salsa dengan lemah menerimanya, menelan obat tersebut.
"Itu apa? tanya Salsa pelan, matanya masih setengah terpejam, saat Lian membuka bungkus Bye Bye Fever tersebut.
"Bye Bye Fever, Ca. Biar cepet turun panasnya," jawab Lian, lalu dengan hati-hati memasangkan kompresan itu di kening Salsa.
"Ada yang kerasa, sayang?" tanya Lian dengan lembut, mengelus rambut Salsa yang berantakan.
"Pusing, mual, dingin," jawab Salsa sambil menggigil, Lian langsung mengelus lembut kepala istrinya, berusaha menenangkannya.
"Dingin banget, Lian. Mau peluk," pinta Salsa, suara seraknya penuh keinginan.
"Iya, sebentar, Ca," jawab Lian, ikut bersandar di dipan kasur. Salsa dengan cepat memeluk Lian erat, dan Lian pun membalas pelukan itu. Mereka berdiam dalam keheningan yang nyaman, meski Salsa merasa tidak begitu nyaman.
Namun beberapa menit kemudian, Salsa melepaskan pelukannya, merasa tak nyaman. Ia kemudian naik ke pangkuan Lian, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Lian. Hal itu membuat Lian merasa kikuk, hembusan nafas Salsa yang hangat membuat bulu kuduk Lian berdiri.
"Caa, jangan gini, sayang," ujar Lian, tak kuat menahan perasaan yang bercampur.
"Gak mau, mau gini aja, plis... nyaman kayak gini," jawab Salsa dengan suara memelas, tak mau melepas pelukannya.
"Peluk sambil tiduran aja, ya?" Lian berusaha membujuk, namun Salsa malah menatapnya dengan mata setengah terbuka.
"Kamu gak mau aku peluk kayak gini?" tanya Salsa, sedikit kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
