Siang itu, tak lama setelah Lian berangkat ke kantor, suasana rumah kembali sunyi. Hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak pelan di ruang tamu. Di lantai atas, Salsa tengah bersiap-siap di kamar. Ia berdiri di depan cermin besar, memperhatikan penampilannya dengan cermat. Hijabnya dirapikan hati-hati, riasan wajah dipoles tipis, cukup untuk membuatnya tampak segar dan cantik, namun tidak berlebihan.
Begitu selesai mengenakan sepatunya, suara notifikasi terdengar dari ponsel yang tergeletak di meja rias. Salsa melirik layar dan membaca pesan singkat yang baru saja masuk.
"Sa, aku udah di depan."
Tanpa berpikir panjang, ia mengambil tasnya dan berjalan cepat menuruni tangga. Langkahnya ringan, nyaris terburu-buru. Sesampainya di pintu, ia langsung membukanya dan keluar menuju mobil hitam yang sudah menunggu di depan rumah.
Di balik kemudi, Didan menyambut dengan senyum lebar, seperti biasanya.
"Masuk, Sa. Kamu cantik banget hari ini," ucap Didan dengan nada ceria yang terdengar ringan.
Salsa hanya tersenyum tipis, lalu duduk di kursi penumpang. Ia tak menjawab, hanya menatap ke depan. Mobil pun perlahan melaju meninggalkan halaman rumah, membawa mereka menuju pusat perbelanjaan.
Sekitar pukul sebelas lewat sedikit, mereka sampai di mall. Suasana cukup ramai. Didan turun lebih dulu, lalu membukakan pintu mobil untuk Salsa dengan sigap. Mereka berjalan berdampingan menuju dalam gedung, sesekali tertawa kecil membicarakan hal-hal ringan seputar pekerjaan, kenangan lama, atau sekadar candaan sederhana.
Bagi orang yang melihat sekilas, mereka tampak seperti pasangan yang sudah terbiasa menghabiskan waktu bersama.
Namun, di tengah kebersamaan itu, ponsel dalam tas Salsa terus bergetar. Ia tahu betul siapa yang mungkin menghubungi. Ada perasaan tidak tenang yang perlahan mengisi hatinya. Setelah menimbang beberapa saat, akhirnya ia mengambil ponselnya dan menulis pesan singkat.
"Lian, aku udah sampai di mall ya."
Ia mengetik tanpa menyebut dengan siapa ia pergi. Tidak ada nama, tidak ada keterangan lebih lanjut. Hanya kalimat datar, cukup untuk sekadar memberi kabar.
Sementara itu, di kantor, Lian tengah tenggelam dalam tumpukan dokumen. Di antara jeda rapat, ia sempat melirik ponselnya yang bergetar. Pesan dari istrinya masuk, pendek, sederhana. Ia membaca sekali, lalu membacanya lagi.
Tatapannya kosong sesaat, kemudian ponsel itu dikunci tanpa dibalas.
"Kamu makin jago ya, Ca, bikin aku nebak-nebak," gumamnya pelan, hampir tanpa suara.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangannya. Mungkin udara segar bisa sedikit membantu menjernihkan pikirannya.
**
Sementara di sisi lain, Salsa dan Didan masih menghabiskan waktu di mal. Mereka baru saja keluar dari area Timezone, masih terdengar sisa tawa dari permainan yang mereka mainkan barusan. Di tangan Salsa, tergenggam boneka kecil hadiah dari salah satu mesin capit, pemberian Didan yang tadi menang dengan satu kali percobaan.
"Mau ke mana lagi, Sa?" tanya Didan sambil menoleh ke arah Salsa yang tampak sedikit lelah.
"Ke kafe, yuk. Capek juga dari tadi muter-muter terus," jawab Salsa sembari menyandarkan tangan ke pinggul.
"Ayo, boleh," ucap Didan tanpa pikir panjang.
Mereka kemudian berjalan turun ke lantai bawah, menuju salah satu kafe bergaya minimalis dengan nuansa hangat. Musik lembut terdengar di dalam, menambah suasana yang tenang. Begitu masuk, Didan langsung mencari tempat duduk dekat jendela, lalu mempersilakan Salsa untuk duduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
