Kabar Itu Tiba

5K 309 16
                                        

Setelah waktu istirahat tiba, Lian bangkit dari kursinya dengan tenang. Ia berjalan menuju tempat wudhu yang berada di dalam ruang kerjanya, ruang kecil yang memang ia sediakan agar tetap bisa menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta di tengah padatnya aktivitas sebagai pemimpin perusahaan.

Air wudhu yang menyentuh kulitnya seakan membawa ketenangan tersendiri. Ia melaksanakan salat Dzuhur dengan khusyuk, menenggelamkan diri dalam doa-doa lirih yang mengalir dari hati terdalam. Dalam sujud dan tahiyatnya, Lian menyebut nama istrinya, Salsa, dan calon anak yang mulai tumbuh dalam rahimnya. Hatinya penuh syukur, diselimuti harapan dan permohonan agar semua berjalan dengan lancar, agar buah hatinya sehat, istrinya kuat, dan keluarga kecil mereka selalu dilimpahi keberkahan.

Usai mengucap salam dan merapikan sajadah, Lian berdiri pelan lalu menghampiri istrinya yang masih duduk manis di sofa. Salsa tampak santai, sesekali mengunyah potongan stroberi sambil menggulir layar ponselnya, namun pandangannya langsung teralihkan saat melihat suaminya mendekat.

Dengan gerakan lembut, Lian berlutut di hadapan istrinya, lalu meletakkan kedua tangannya di atas perut Salsa. Ia mengusapnya perlahan, seolah ingin menyapa sang janin lewat sentuhan dan rasa sayang yang tak terbendung.

"Assalamu’alaikum ... anak Ayah ..." bisik Lian, suaranya nyaris tak terdengar, namun penuh getar cinta.

Lalu, dengan suara pelan namun merdu, ia mulai melantunkan ayat-ayat dari Surah Maryam. Suaranya lirih, nyaris seperti doa yang terbang menembus langit. Ruangan itu tiba-tiba terasa begitu tenang, begitu sakral. Hanya ada suara lembut Lian yang mengalun dan detak jantung kecil dalam dada Salsa yang berdebar haru.

Sesekali, Lian mengecup perut istrinya dengan penuh kasih, seolah tengah berbicara langsung pada kehidupan mungil yang kini hadir dalam hidup mereka. Seolah ia ingin memperkenalkan diri, bahwa ia adalah ayah yang akan selalu ada, menjaga, mencintai, dan melindungi.

Sementara itu, Salsa tak mampu menahan senyum yang terus merekah di wajahnya. Ia mengelus rambut Lian dengan gerakan penuh cinta. Ada rasa damai yang merambat pelan ke hatinya, menyusup dalam diam, membasuh seluruh lelah dan keraguan yang sempat ia rasakan.

Tak ingin melewatkan momen indah yang begitu menyentuh, Salsa meraih ponselnya dan secara diam-diam merekam detik-detik penuh cinta itu. Beberapa detik video yang ia tahu akan menjadi kenangan berharga, saksi bisu dari cinta seorang suami yang perlahan menjelma menjadi seorang ayah.

Usai membacakan doa dan ayat-ayat suci, Lian mengecup perut Salsa satu kali lagi, lalu berdiri dan mencium kening istrinya dengan hangat.

Salsa menatap wajah suaminya dengan mata berbinar. Ada rasa syukur yang tak mampu ia ucapkan dengan kata.

"Sayang..." ucapnya pelan, "aku mau telpon Mama sama Bunda, ya? Kalau Papa sama Ayah pasti kerja. Aku mau sekalian kasih tau kabarnya. Pasti mereka happy,"

Lian mengangguk sambil tersenyum lembut. "Ayo, kita kabarin mereka bareng."

Salsa membuka aplikasi video call di ponselnya, lalu memilih untuk menghubungi dua perempuan yang paling ia cintai: Mama Rita dan Bunda Yati. Tak butuh waktu lama, layar ponsel menampilkan wajah keduanya, satu di rumah, satu lagi di mal, namun sama-sama terkejut melihat wajah anak dan menantu mereka muncul bersamaan.

"Halo, Assalamualaikum!" sapa Bunda Yati ceria. "Kenapa, Lian? Tumben video call bareng gini, siang-siang begini pula."

"Iya nih, ada apa, Nak? Kok tiba-tiba nelpon?" sahut Mama Rita yang terdengar penasaran, meski wajahnya terlihat hangat.

Salsa dan Lian saling bertukar pandang sejenak. Mereka tersenyum bersamaan, lalu Salsa menjawab dengan suara yang sedikit gemetar karena menahan haru, "Waalaikumsalam, Mama ... Bunda ... Kami mau kasih kabar baik."

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang