Suara takbir bergema indah di malam yang penuh keberkahan. Kumandangnya bersahut-sahutan dari masjid-masjid sekitar, menembus dinding rumah, menggema ke langit, menghadirkan suasana haru sekaligus damai. Malam itu terasa begitu khidmat, menandakan tibanya hari kemenangan setelah sebulan penuh berpuasa.
Di ruang tamu, Lian tampak sibuk. Ia berjalan ke sana kemari dengan sapu di tangannya, menyapu debu yang menempel di sudut-sudut ruangan, merapikan bantal sofa agar terlihat serasi, lalu memastikan meja tamu tertata rapi. Tangannya lincah, seakan tak ingin ada satu hal pun yang terlewat. Ia ingin rumah mereka menyambut hari Raya dengan suasana hangat, bersih, dan nyaman.
Di sofa, Salsa hanya duduk diam sambil memperhatikan gerak-gerik suaminya. Perutnya yang kian membesar membuat tubuhnya cepat lelah, sehingga tak bisa banyak membantu. Meski terkadang hatinya gatal ingin turun tangan, Lian tak pernah mengizinkan. Setiap kali Salsa mencoba berdiri, selalu ada teguran lembut dari suaminya.
"Sayang, ini kuenya taro di sini aja?" tanya Lian sambil menata toples-toples kue kering di meja ruang tamu.
"Iya, di situ aja," jawab Salsa sambil tersenyum tipis. Tangannya refleks mengusap perutnya, tatapannya tak pernah lepas dari sosok Lian, penuh kasih sekaligus rasa bangga.
Sempat hening sejenak sebelum Salsa akhirnya memanggil pelan, "Yang ... "
Lian menoleh sambil menghentikan pekerjaannya. "Iya, Sayang?" sahutnya penuh perhatian.
Salsa menggigit bibir, lalu mengeluarkan pertanyaan yang sudah berkali-kali ia tanyakan sebelumnya. "Aku beneran nggak boleh masak? Sedikit aja, ya?" Nada suaranya setengah memohon.
Sejak awal trimester kedua, Lian memang melarangnya berada di dapur. Bahkan semua kue lebaran mereka beli dari luar, bukan buatan tangan Salsa.
Lian mendekat lalu duduk di samping istrinya. Ia meraih tangan Salsa, menggenggamnya erat namun lembut. "Bukan nggak boleh, Sayang. Aku cuma nggak tega. Perut kamu udah makin besar, jalan aja kadang ngos-ngosan. Kalau kamu maksa masak, nanti malah capek, bahkan bisa bahaya. Aku nggak mau lihat kamu kesusahan." Suaranya terdengar tulus, tatapannya penuh kekhawatiran.
Salsa mendengus kecil, bibirnya mengerucut manja, tanda masih belum puas dengan jawaban itu. "Tapi..."
Lian buru-buru menyela dengan senyum lembut. "Nanti Bunda datang pagi-pagi sebelum salat Ied. Bunda katanya bawa makanan lengkap, ada opor, ketupat, sama rendang. Jadi kamu tinggal duduk manis, santai, nikmatin semuanya. Oke?"
Ia meraih bantal sofa, lalu menyelipkannya di belakang punggung Salsa agar istrinya lebih nyaman bersandar. Setelah itu, Lian mengusap pipi istrinya penuh kasih sayang. "Nurut ya, Ibun. Ayah gamau Ibun sama adek kenapa-kenapa."
Salsa terdiam beberapa detik, hatinya luluh oleh kelembutan itu. Senyum kecil akhirnya muncul di wajahnya, lalu ia mengangguk pelan. "Iya, aku nurut ... " ucapnya lirih.
Lian tersenyum lega lalu menunduk, mengecup lembut kening istrinya. "Pinter," bisiknya dengan penuh kasih.
Tangannya terulur, mengelus lembut perut istrinya yang semakin membulat. "Tidur yuk, udah jam sepuluh malem," ucapnya dengan suara hangat yang terdengar seperti ajakan penuh sayang, bukan sekadar perintah.
Salsa mengangguk manja sambil memeluk lengan suaminya erat. "Gendong ke kamarnya," pintanya dengan mata berbinar, seakan ingin dimanja lebih lama.
Lian terkekeh kecil, lalu bangkit berdiri. Dengan hati-hati ia menunduk, menyelipkan satu lengannya ke punggung istrinya, dan satunya lagi menyangga kaki Salsa. Dalam sekejap, tubuh mungil itu sudah berada dalam gendongan bridal milik Lian.
"Bilang aja pengen dimanja, ya?" ucapnya sembari tersenyum lebar dia menggesekkan hidungnya dengan hidung Salsa. Salsa hanya tertawa kecil, pipinya memerah menahan malu sekaligus bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
