Limpahan Cinta

3.9K 303 6
                                        

Hari itu, sekitar pukul sepuluh pagi, Lian dan Salsa baru saja tiba di rumah. Mereka baru saja menempuh perjalanan udara dari Surabaya, berangkat pukul 07.30 pagi dengan penerbangan yang memakan waktu hampir satu setengah jam, hingga akhirnya mendarat di Bandara Internasional Soekarno-Hatta pukul 08.30 pagi. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil, dan kini kendaraan Lian telah terparkir rapi di garasi rumah.

"Alhamdulillah, nyampe juga. Cape, sayang?" tanya Lian sambil menoleh, tangannya refleks mengusap perut istrinya yang mulai membuncit.

Salsa menggeleng kecil, bibirnya langsung membentuk senyum penuh harap. "Nggak. Boneka aku mana? Katanya udah di rumah," ucapnya cepat, nada suaranya terdengar seperti anak kecil yang tak sabar menantikan hadiah.

Lian tertawa kecil, matanya berbinar melihat tingkah istrinya. "Ada di dalem, Sayang. Ayo turun, yuk," jawabnya sambil melepaskan sabuk pengaman. Ia lalu turun dari mobil, berjalan memutari kap mobil, dan membukakan pintu untuk Salsa dengan sikap penuh perhatian.

Begitu Salsa turun, Lian segera menuju bagasi untuk mengambil koper-koper mereka. Dengan langkah santai, keduanya masuk ke dalam rumah.

Saat pintu rumah terbuka dan mereka melangkah ke ruang keluarga, mata Salsa langsung membesar. Senyumnya melebar, dan kedua matanya berbinar-binar seperti anak kecil. Di hadapannya, berjajar rapi boneka-boneka Jellycat berbagai bentuk dan ukuran, mulai dari yang mungil hingga yang besar dan empuk untuk dipeluk. Ada kelinci Bashful Bunny, panda, jerapah, unicorn, koala, stroberi, bulan, dan masih banyak lagi. Uniknya, setiap ukuran dibeli Lian dalam dua karakter yang berbeda.

"Aaaa ... Sayang, makasih!" seru Salsa girang, langsung memeluk suaminya erat-erat.

Lian tersenyum lebar, merangkul Salsa dengan penuh kasih. "Sama-sama, Sayang. Happy?" ucapnya sambil menatap mata istrinya yang berbinar bahagia.

"Banget ... " jawab Salsa penuh semangat. Ia lalu menciumi pipi Lian berkali-kali, seperti tak bisa menahan rasa gembiranya.

Lian hanya terkekeh, merasa lelah perjalanannya langsung terbayar lunas melihat senyum dan tawa perempuan yang ia cintai.

Salsa perlahan melepaskan pelukan hangatnya pada Lian, lalu melangkah mendekati deretan boneka-boneka itu dengan mata berbinar. Tangannya terulur, memilih salah satu boneka berukuran besar berbentuk jerapah. Begitu memeluknya, senyum di wajahnya semakin lebar.

Boneka itu terasa begitu lembut di kulitnya, ringan, dan luar biasa nyaman dipeluk. Aromanya bahkan masih harum kain baru, membuat Salsa enggan melepaskannya. Ia memeluk boneka itu erat-erat seolah tak ingin ada orang lain yang menyentuhnya.

Lian ikut mendekat, memperhatikan ekspresi istrinya yang begitu bahagia. Senyum hangat muncul di wajahnya. Dengan gerakan lembut, ia membelai kepala Salsa, jemarinya menyusuri lembut kain kerudung yang membingkai wajah istrinya. Lalu, tanpa berkata apa-apa, ia menunduk dan mengecup keningnya penuh sayang.

"Aku beresin koper dulu, ya. Habis itu aku suapin kamu makan," ucap Lian dengan nada pelan, seperti tak ingin memecahkan momen manis itu.

Salsa hanya mengangguk singkat, matanya masih terpaku pada jerapah di pelukannya. "Iya ... " jawabnya lirih, seakan semua perhatiannya sudah tersedot oleh boneka barunya.

Lian tersenyum lagi sebelum berbalik, berjalan menuju kamar untuk menaruh koper. Sementara itu, Salsa duduk di sofa dengan jerapahnya, sesekali mengusap-usap kepalanya, lalu tersenyum sendiri seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan impian.

**

Tiga puluh menit kemudian, Lian kembali ke ruang keluarga. Ia menemukan Salsa masih duduk manis di sofa, dikelilingi boneka-boneka barunya. Kedua tangannya sibuk memeluk dua boneka sekaligus, jerapah di sisi kanan dan stroberi di sisi kiri, sementara matanya berbinar penuh rasa puas.

Our MarriageCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang