Tak Ada Celah

4.1K 316 13
                                        

Sore itu, suasana rumah terasa begitu hangat. Lian dan Salsa tengah bersiap-siap untuk menghadiri acara buka bersama dengan karyawan kantor Lian. Sesuai dress code bertema monochrome, Lian tampil gagah dengan blazer hitam yang dipadukan kaos polos berwarna senada serta celana bahan rapi. Aroma parfum maskulin yang ia semprotkan semakin menegaskan pesonanya.

Di sisi lain, Salsa terlihat begitu anggun. Ia mengenakan dress hitam sederhana, namun jatuhnya begitu indah. Hijab hitam yang ia kenakan membuat wajah manisnya kian bersinar. Meski sederhana, penampilannya memancarkan aura elegan.

Saat Lian sibuk merapikan penampilannya di depan cermin, Salsa mendekat sambil membawa sesuatu di tangannya. "Pakai, Sayang," ucapnya lembut sambil menyodorkan kacamata hitam ke arah Lian. Tatapannya penuh harap, seolah ingin melihat sesuatu yang lebih dari sekadar aksesori.

Lian menghentikan gerakannya sejenak, lalu menoleh ke arah istrinya. Sorot matanya teduh, seakan berkata bahwa ia tak akan pernah bisa menolak permintaan wanita itu. Dengan senyum kecil, ia mengambil kacamata tersebut dan memasangnya dengan santai di wajahnya.

Begitu kacamata itu menempel, Salsa seketika terdiam. Matanya melebar, bibirnya ternganga kagum, lalu dalam hitungan detik berubah menjadi sorot berbinar penuh semangat. "Aaaa ... Ganteng banget suami aku!" serunya spontan, tak bisa menahan rasa girangnya. Ia langsung meraih wajah Lian dan menciumi pipinya bertubi-tubi dengan penuh cinta, seolah tak peduli meski riasannya bisa sedikit berantakan.

Lian tak kuasa menahan tawa kecil. Ia hanya terkekeh melihat betapa polosnya reaksi sang istri. "Istrinya aja cantik, masa suaminya jelek," ucapnya santai, suaranya sarat kasih. Lalu dengan gerakan alami, ia menarik Salsa ke dalam pelukannya.

Pipi Salsa sontak merona, hatinya berdebar kencang. Meski sudah menjadi istri sah Lian, pujian-pujian itu masih mampu membuatnya salah tingkah. "Gombal," gumamnya pelan, mencoba menutupi rasa malu dengan mengalihkan pandangan. Namun senyum di bibirnya tak bisa ia sembunyikan.

Lian menatap wajah istrinya lekat-lekat, seakan tak pernah bosan meski sudah setiap hari bersama. Ia mengusap pipi Salsa dengan lembut, lalu berbisik, "Nggak gombal, Sayangku. Istriku ini emang paling cantik, nggak ada yang bisa ngalahin. Cantik luar dalam, sempurna di mata aku." Ucapannya diakhiri dengan kecupan manis di pipi Salsa, membuat wanita itu semakin salah tingkah.

Salsa menepuk dada suaminya pelan dengan wajah yang semakin memerah. "Udah ah, ayo, nanti kita telat," ujarnya sambil menunduk malu, berusaha mengalihkan suasana sebelum dirinya semakin digoda habis-habisan.

Lian hanya terkekeh kecil, kemudian meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. Ia menunduk sedikit untuk mencuri kecupan singkat sekali lagi di pipi Salsa. "Iya, Sayang. Ayo kita pergi," katanya penuh kelembutan.

Salsa hanya bisa tersenyum malu, namun hatinya dipenuhi rasa bahagia yang tak terlukiskan. Dengan jemari yang saling bertaut, keduanya melangkah bersama keluar rumah. Senja yang mulai merona di langit seakan menjadi saksi, bahwa cinta sederhana namun tulus itu membuat setiap langkah mereka terasa begitu istimewa.

**

Begitu sampai di lokasi acara, Lian dengan penuh perhatian menggenggam erat tangan istrinya. Sentuhan itu bukan hanya sekadar kebiasaan, melainkan sebuah cara untuk menegaskan bahwa ia selalu ingin Salsa berada di sisinya, apapun keadaannya. Mereka pun melangkah masuk ke ruang VIP yang telah dipesan khusus untuk acara buka bersama karyawan PT Mahendra Global Persada.

"Selamat sore semuanya," sapa Lian ramah dengan suara tegas namun bersahabat begitu memasuki ruangan.

"Sore, Pak Bos!" sahut para karyawan serempak, disertai tawa kecil dan semangat yang hangat.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang