Keesokan paginya, Lian dan Salsa sudah berada di kediaman Aris dan Yati, memenuhi permintaan Nenek Rika yang ingin ditemani oleh cucu dan cucu menantunya. Suasana rumah tampak tenang, penuh kehangatan.
Di ruang keluarga, Nenek Rika duduk di tengah sofa, dengan Lian di sisi kanan dan Salsa di sisi kiri. Tangan keriputnya mengelus lembut jemari keduanya, seolah ingin menyimpan rasa hangat itu lebih lama.
"Bahagia selalu ya, cucu-cucu Nenek..." ucap Nenek Rika dengan suara pelan namun penuh makna. "Buatlah keluarga impian kalian dengan penuh kasih sayang, saling jaga dan saling pahami."
Nenek lalu menggenggam tangan Lian dan Salsa, lalu menyatukannya di atas pangkuannya.
"Janji sama Nenek... jangan pernah saling melepaskan, ya? Sekarang... Nenek sudah lega kalo Nenek pergi. Lian sudah bersama perempuan yang tepat," lanjutnya sambil tersenyum tulus ke arah keduanya.
Lian menunduk, menggenggam tangan Nenek erat. Suaranya tercekat saat bicara, "Nek... Lian nggak suka Nenek ngomong gitu. Nenek harus kuat, ya? Biar bisa gendong anak pertama Lian nanti."
Nenek Rika tersenyum tipis, matanya mulai berkaca-kaca. Ia mengalihkan pandangannya ke Salsa.
"Terima kasih, Salsa... sudah menerima Lian dengan tulus. Jaga dia, ya? Jangan biarkan dia terlalu keras sama dirinya sendiri."
Salsa mengangguk, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Iya, Nek... Salsa janji akan jaga Lian baik-baik. Dan terima kasih... karena sudah percaya sama Salsa."
Nenek Rika mengangguk pelan, lalu mengecup pipi Salsa dan Lian bergantian dengan lembut. "Nenek bahagia... bisa lihat kalian menikah. Rasanya itu sudah cukup buat Nenek."
Kemudian, perlahan, napas Nenek Rika mulai melemah. Matanya terpejam dengan tenang, seolah tertidur di antara orang-orang yang ia cintai.
"Nek? Nenek..." panggil Lian panik, tangannya memeriksa nadi di pergelangan tangan sang nenek, tak ada denyut.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..." lirih Lian, tubuhnya lemas.
Salsa menutup mulutnya, menahan isak tangis yang kian sulit dibendung. Tubuhnya sedikit gemetar saat ia menggenggam tangan Lian erat, mencoba menguatkan suaminya yang kini terpaku dalam diam. Mata Lian terus menatap wajah tenang sang nenek, wajah yang kini tertidur untuk selamanya.
Tak lama, Aris dan Yati datang tergesa masuk ke ruang keluarga. Langkah mereka terhenti saat melihat tubuh Nenek Rika bersandar tenang di sofa, dengan Lian dan Salsa duduk di sampingnya.
"Ma..." lirih Yati. Ia langsung jatuh berlutut di hadapan ibunya, air matanya tumpah saat tangannya mengelus rambut sang ibunda yang sudah tak bernyawa. "Ya Allah... Innalillahi wa inna ilaihi raji'un..."
Aris menahan napas panjang, menggigit bibir bawahnya saat ia menunduk memegang tangan ibunya. "Bu... maafin Aris ya, Bu. Kalau selama ini Aris banyak salah, belum bisa jadi anak yang baik..."
Suasana berubah sangat hening. Hanya terdengar isak tangis yang pecah perlahan dari masing-masing anggota keluarga.
Beberapa jam kemudian, rumah keluarga itu mulai dipenuhi oleh kerabat dan tetangga yang datang melayat. Suasana dipenuhi isak pelan, doa, dan pelukan hangat yang silih berganti.
Mama dan Papa Salsa turut hadir, menyambut duka itu dengan wajah sendu. Mereka menghampiri Lian dan keluarganya, memberikan pelukan erat serta ucapan belasungkawa.
"Turut berduka ya, Nak Lian," ucap Papa Salsa dengan suara berat, menepuk bahu menantunya.
"Semoga almarhumah husnul khatimah. Kami ikut mendoakan," sambung Mama Salsa sambil memeluk Yati yang tengah duduk lemas di sofa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
