Momen Pertama

6.1K 342 14
                                        

Salsa dan Lian melangkah memasuki rumah sakit dengan langkah pelan namun pasti. Jemari mereka saling bertaut erat, seolah genggaman itu menjadi satu-satunya pegangan di tengah gelombang perasaan yang berbaur antara bahagia, gugup, dan haru.

Senyum tak henti menghiasi wajah mereka, memantulkan kebahagiaan yang tak bisa mereka sembunyikan. Ada binar harapan di mata mereka, yang seakan bersinar lebih terang daripada lampu-lampu lorong rumah sakit siang itu.

Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah awal dari sebuah babak baru dalam kehidupan pernikahan mereka, kunjungan pertama untuk memeriksa kondisi calon buah hati mereka. Momen yang telah lama mereka nantikan, penuh doa, harap, dan rasa syukur.

Setelah menyelesaikan proses pendaftaran, mereka duduk di ruang tunggu yang tenang. Sofa empuk berwarna biru muda berjajar rapi, dindingnya dihiasi gambar-gambar edukatif tentang kehamilan. Suara pelan musik instrumental mengalun dari pengeras suara di langit-langit, menenangkan suasana.

Salsa menggenggam tangan Lian lebih erat. Suaminya itu hanya menoleh sesekali, lalu tersenyum lembut, memberikan ketenangan lewat tatapan dan sentuhannya.

"Deg-degan ya?" tanya Lian pelan. Suaranya lembut, nyaris seperti bisikan, tapi cukup untuk membuat Salsa menoleh.

Salsa mengangguk pelan. "Kayak mimpi. Baru minggu lalu aku pikir cuma masuk angin biasa ... Sekarang kita duduk di sini, nunggu giliran periksa kehamilan."

Lian mengusap punggung tangannya penuh kasih. "Alhamdulillah ya, Sayang. Sekarang kita beneran masuk fase baru."

Beberapa menit kemudian, seorang perawat perempuan muncul dari balik pintu ruang praktik dokter. Seragamnya rapi, wajahnya ramah, dan suaranya lembut saat memanggil.

"Ibu Salsa, silakan masuk."

Salsa menoleh ke arah Lian. Tatapannya penuh harap, ada sedikit kecemasan yang mengendap di sana, tapi lebih dominan rasa bahagia yang membuat sorot matanya tampak hidup.

"Kamu ikut, ya?" pintanya lirih.

Lian membalas dengan senyuman hangat, lalu menggenggam tangan istrinya lebih erat. "Iya, Sayang. Aku temenin."

Mereka berdiri dan melangkah masuk ke ruang praktik. Ruangan itu terang dan bersih, dengan nuansa hangat yang memeluk siapa saja yang masuk. Aroma antiseptik samar-samar tercium, memberikan kesan steril namun tetap menenangkan. Di ujung ruangan, seorang dokter wanita paruh baya menyambut mereka dengan senyum keibuan yang meneduhkan. Namanya tertera di atas meja: dr. Rina Kartika, Sp.OG.

"Selamat siang, Ibu Salsa, ya? Apa kabar?" sapanya ramah sambil berdiri menyambut mereka.

Salsa menjawab sedikit gugup, "Iya, Dok ... Alhamdulillah, saya baik." Senyumnya tipis namun tulus.

"Alhamdulillah, senang mendengarnya." Dokter Rina mempersilakan mereka duduk di kursi berhadapan dengannya. Setelah mereka duduk, ia menoleh ke arah Lian dan tersenyum ramah.

"Ini suaminya, ya?"

Salsa melirik ke arah Lian dan tersenyum kecil. "Iya, Dok. Ini suami saya."

Dokter tersenyum lalu mengangguk, Ia membuka buku catatan pasien dan mulai mencatat sambil bertanya, "Sebelum kita mulai pemeriksaannya, saya ingin tau dulu ... Ini kehamilan pertama atau sudah pernah sebelumnya?"

Salsa mengangguk kecil, pipinya memerah. "Iya, Dok. Ini kehamilan pertama saya."

"Alhamdulillah ... Selamat ya. Ini momen luar biasa. Dan berarti ini juga kunjungan pertama kalian untuk memeriksakan kehamilan ini?"

Lian, yang sejak tadi tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, menjawab dengan antusias, "Iya, Dok. Kami baru tau beberapa hari lalu. Hari ini kami langsung ke sini supaya bisa tau kondisi janinnya."

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang