Weekend Manja

5.4K 329 10
                                        

Hari ini adalah akhir pekan. Matahari bersinar, menembus tirai kamar dan menyapu ruangan dengan cahaya yang hangat.

Lian baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih basah dan hanya mengenakan kolor abu-abu tipis. Rambutnya berantakan, dan aroma sabun masih melekat di kulitnya.

Sementara itu, Salsa tengah berbaring menyamping di atas tempat tidur dengan santai. Ia mengenakan pakaian rumah berwarna hijau sage berbahan kaos rib yang lembut, membalut tubuhnya dengan pas dan menonjolkan lekuk perutnya yang semakin terlihat.

Di sampingnya, Puffy tidur meringkuk dengan tenang, bulunya mengembang dan bersinar dalam cahaya pagi.

Tangan Salsa bergerak pelan, mengelus bulu halus si kucing dengan ritme teratur. Wajahnya terlihat begitu tenang dan damai, senyumnya kecil namun tulus. Lian yang memperhatikan dari pintu hanya bisa memanyunkan bibir, sorot matanya jelas-jelas cemburu.

Dengan langkah malas, ia menaiki tempat tidur dan ikut berbaring di belakang istrinya. Tangannya melingkar ke depan, mengelus lembut perut Salsa yang hangat dan membuncit.

"Kenapa sih? Cemberut terus dari semalem," tanya Salsa lembut tanpa menoleh. Ia meletakkan tangannya di atas tangan Lian yang sedang mengelus perutnya, menyatukan keduanya dalam kehangatan yang akrab.

 Ia meletakkan tangannya di atas tangan Lian yang sedang mengelus perutnya, menyatukan keduanya dalam kehangatan yang akrab

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Lian menghela napas pendek. "Kamu nyebelin," gumamnya pelan, suaranya terdengar sedikit merajuk.

Salsa tersenyum kecil, geli. "Loh, kok nyebelin? Orang aku nggak ngapa-ngapain," ucapnya sambil menoleh sedikit, mencoba melihat wajah suaminya yang terdengar begitu manja.

Lian menggerutu lagi, kali ini lebih jelas. "Kamu tuh nyebelin. Semenjak ada Puffy, satu minggu ini kamu lebih perhatian ke dia. Lebih sering sama dia. Aku nya malah kamu cuekin."

Salsa langsung tertawa kecil, bahunya naik-turun pelan karena geli mendengar nada cemburu dari suaminya. "Masa sama kucing aja cemburu?" godanya, masih sambil mengelus lembut kepala Puffy.

Lian mendengus, kali ini suaranya makin jelas merengek. "Ya kamu tuh gitu. Aku pulang kerja, kamu nggak peluk kayak biasanya. Tidur juga, yang biasanya kamu peluk aku, sekarang peluk si Puffy terus. Aku di pinggir ranjang kayak figuran."

Salsa tak bisa menahan tawa, meski juga merasa sedikit bersalah. Ia tahu Lian bukan benar-benar marah, tapi memang merindukan perhatian darinya.

Tanpa berkata-kata, Lian duduk perlahan, tubuhnya sedikit membungkuk ke arah sisi tempat tidur tempat Puffy sedang meringkuk manja di samping istrinya. Dengan hati-hati, ia menyelipkan kedua lengannya untuk mengangkat si kucing berbulu lebat itu. Puffy mengeong pelan, suaranya terdengar seperti keluhan kecil yang malas. Namun ia tak melawan, hanya menggeliat sedikit sebelum membiarkan dirinya dipindahkan.

Lian membawanya ke sofa kecil berwarna krem di sudut kamar, meletakkannya di atas bantal lembut yang sudah ditata. Puffy mengeong pelan, lalu meringkuk kembali dengan mata yang perlahan terpejam, seolah memahami bahwa kali ini, tuannya sedang tak bisa diganggu.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang