As You Wish

6.4K 338 22
                                        

Hari ini adalah hari terakhir Lian dan Salsa berada di Jepang. Setelah enam hari penuh petualangan menyusuri berbagai tempat wisata, mencicipi aneka kuliner khas, ngopi cantik di kafe-kafe aesthetic, dan memborong kenangan dalam bentuk foto-foto manis, kini mereka memanfaatkan waktu tersisa untuk berbelanja oleh-oleh.

Sejak siang tadi, mereka berada di sebuah toko kecil yang terletak di sudut jalan Shibuya. Toko itu tampak sederhana dari luar, namun begitu melangkah masuk, mata langsung dimanjakan oleh berbagai barang khas Jepang yang menggemaskan.

Dinding-dinding toko dipenuhi gantungan stiker-stiker kawaii, pouch karakter anime, alat tulis warna-warni, dan cemilan unik dalam kemasan lucu. Dari speaker tersembunyi di sudut toko, mengalun lembut lagu J-Pop yang ceria, menambah suasana hangat dan menyenangkan.

"Aku pengen beli yang lucu-lucu tapi berguna juga," kata Salsa sambil memegang sebuah gantungan kunci berbentuk sushi. Ia memencet bagian atasnya, dan tiba-tiba sushi itu berubah menjadi pulpen kecil. Matanya berbinar. "Lucu banget, kan?"

Lian mencondongkan badan, memperhatikan barang itu lebih dekat. "Lucu sih ... tapi kamu yakin ini berguna? Jangan-jangan nanti cuma dipajang aja di meja kerja, terus dilupain."

Salsa lalu tersenyum manis. "Emang niatnya buat dipajang juga, Sayang. Biar jadi pengingat kalau kita pernah jalan-jalan ke Jepang."

Lian tertawa pelan, kemudian mengambil sebuah kotak warna pastel dari rak sebelah. Isinya mochi dengan berbagai rasa: matcha, strawberry, red bean, dan sakura.

"Kalau ini gimana? Buat Mama sama Bunda, kayaknya cocok deh. Mereka kan suka cemilan manis," ucap Lian sambil membolak-balik kotaknya.

Salsa menoleh cepat, wajahnya antusias. "Setuju! Jangan lupa beli lebih ya, aku juga mau. Apalagi yang rasa matcha, itu favoritku!"

Lian mengangguk, lalu berjalan sedikit ke arah rak sebelah, menemukan deretan mug cantik bergambar Gunung Fuji dengan warna biru keabu-abuan. Desainnya simpel tapi berkelas.

"Ini juga bagus nih. Buat Ayah, Papa, sama temen-temen. Minimalis tapi elegan," katanya sambil mengambil beberapa buah.

"Bagus! Aku ambil ini juga ya buat temen-temen," ucap Salsa sambil memilih beberapa kaus bertuliskan "Shibuya Crossing" lengkap dengan ilustrasi penyeberangan jalan yang ikonik itu.

Mereka berdua terus menyusuri rak demi rak, memilih dengan cermat. Sesekali terdengar tawa kecil saat menemukan barang-barang unik seperti topi bergambar semangkuk ramen, kaus kaki berpola sushi, atau kipas tangan bergambar samurai yang bisa bersuara saat digoyang.

"Aku beli ini juga, ya. Stiker karakter ini lucu banget!" ujar Salsa sambil memegang selembar stiker bergambar anak beruang dengan pipi merah dan mata bulat besar.

"Buat siapa?" tanya Lian sambil mengerutkan dahi, heran.

"Buat aku, lah. Nanti aku tempel di dashboard mobil ya? Lucu banget," jawab Salsa cepat sambil terkekeh.

Lian tersenyum, menatap istrinya dengan pandangan penuh sayang. "Iya, ambil aja. Apapun yang kamu suka. Hari ini hari terakhir kita di sini, jadi borong yang bikin kamu senang."

"Beneran, ya?"

"Iya sayang ..." balas Lian sambil mengecup kening istrinya, membuat Salsa tersenyum lebar.

Setelah puas memilih oleh-oleh, mereka berjalan menuju kasir dengan tangan penuh barang belanjaan. Tas-tas kecil berwarna pastel, kotak mochi, bungkusan souvenir, dan kantong plastik bening berisi stiker serta gantungan kunci lucu, menggantung di kedua tangan mereka. Meskipun kaki terasa pegal karena seharian berjalan, hati mereka terasa ringan. Senyum tak pernah benar-benar hilang dari wajah masing-masing.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang