Sudah dua hari Salsa dirawat inap di rumah sakit. Selama itu pula, hampir setiap waktu ia merengek ingin pulang. Tak peduli pagi, siang, atau malam, keluhannya selalu sama: ingin pulang.
Lian, yang sejak awal setia mendampingi di sisi ranjang, sudah beberapa kali mencoba membujuk dokter agar istrinya bisa rawat jalan saja. Tapi dokter menolak dengan tegas. Kondisi Salsa belum stabil, trombositnya masih rendah, dan tubuhnya terlalu lemah untuk dipulangkan.
Siang itu, Lian sedang menyuapi istrinya makan siang. Sesekali ia meniup sendok, memastikan makanan tidak terlalu panas, lalu dengan lembut menyuapkannya ke mulut Salsa. Setelah itu, ia meminumkan obat dan membantu Salsa duduk lebih nyaman dengan menata bantal di belakang punggungnya.
"Pengin pulang, Lian..." ucap Salsa tiba-tiba, dengan nada rengekan yang lembut namun lelah.
Lian tersenyum kecil, seperti sudah hafal betul dengan permintaan itu. Ia menyeka sudut bibir Salsa dengan tisu, lalu mengusap pelan pipi istrinya.
"Iya, sabar ya, Sayang. Makannya dihabisin, makan buah, sayur juga, minum air putih yang banyak. Biar cepat sembuh," ujarnya dengan suara hangat.
"Tapi nggak selera... Mulut aja pahit. Gimana mau makan?" keluh Salsa pelan.
Lian mengangguk mengerti. Ia duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan istrinya erat-erat.
"Iya, aku ngerti. Tapi tetap harus dimakan sedikit-sedikit ya... Badan kamu butuh tenaga, biar cepet sembuh juga."
Salsa mengerucutkan bibir, lalu memalingkan wajah ke arah jendela.
"Bosen... Pulang sekarang aja," gumamnya, nyaris seperti anak kecil.
"Baru tadi dokter datang, Sayang. Trombosit kamu masih belum stabil. Satu malam lagi ya, besok kita pulang."
"Gamau... Mau pulang sekarang, Lian..." rengeknya lagi, kali ini disertai mata yang mulai berair.
Lian menghela napas pelan, lalu mencium punggung tangan Salsa.
"Jangan nangis, ya. Aku di sini kok. Besok, insyaAllah kita pulang, janji deh."
"Janji ya?" tanya Salsa pelan, sambil mengangkat kelingkingnya ke arah Lian.
Lian tertawa kecil, lalu menautkan kelingkingnya.
"Janji."
Beberapa menit berlalu. Lian sedang merapikan sisa makanan di nampan ketika Salsa kembali memanggilnya.
"Lian..."
"Hmm? Kenapa lagi, Sayang?" jawab Lian, menoleh cepat.
"Pusing..." ucap Salsa singkat.
Lian segera mendekat, menempelkan telapak tangan ke dahi Salsa. Ia menatap istrinya lembut.
"Masih pusing ya? Yuk tidur lagi biar nanti bangun enakan, tadi kan udah minum obat," ucap Lian pelan sambil membenarkan posisi bantal di belakang kepala Salsa. "Tapi kalau kamu terus merengek minta pulang, nanti malah makin capek, Sayang."
"Ya kan bosen..." jawab Salsa dengan suara malas, bibirnya membentuk cemberut kecil.
Lian tersenyum, lalu mengusap pelan rambut istrinya.
"Terus maunya gimana biar nggak bosen?"
Salsa terdiam sejenak. Matanya melirik Lian sambil menarik napas pendek.
"Nggak tau... Mau gendong," ucapnya pelan.
Lian sempat mengedip pelan, lalu tanpa banyak tanya, ia langsung menarik tubuh istrinya ke pelukannya. Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh Salsa dan memeluknya erat seperti sedang menggendong anak kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
