Menuju Tokyo

8.7K 382 8
                                        

Dua minggu telah berlalu sejak Lian terkena demam. Kini, tubuhnya kembali bertenaga, dan senyum lebar kembali menghiasi wajah tampannya. Semangatnya tumbuh seiring pulihnya kesehatan, menyertai tekad bulat dalam hatinya: ia ingin mengajak istrinya berpetualang ke Tokyo. Bukan sekadar liburan biasa, baginya, ini adalah bentuk cinta, karena Salsa sangat ingin pergi ke negri sakura.

Di kamar tidur mereka yang hangat, cahaya lampu berwarna kekuningan memancar lembut, menambah keintiman suasana malam itu. Mereka sedang sibuk menyiapkan koper, melipat pakaian, mencocokkan warna, memilih baju favorit, dan sesekali saling goda sambil tertawa.

"Aku masih nggak nyangka kita beneran mau ke Tokyo ..." gumam Salsa pelan sambil melipat baju dengan hati-hati. Matanya berbinar, membayangkan jalanan bersih yang dipenuhi lampu kota, taman-taman sakura yang menawan, dan kuliner khas Jepang yang siap mereka cicipi bersama.

Sementara itu, Lian duduk bersandar di pinggir ranjang, menyandarkan kepalanya pada bantal dengan mata yang mulai berat. Meski sudah lebih sehat, rasa kantuk masih mudah menyerangnya.

"Sayang, udah selesai belum? Aku ngantuk banget ... Mau bobo ..." rengek Lian dengan suara serak manja yang khas.

Salsa meliriknya dan tersenyum. "Sebentar, tanggung ini. Aku bentar lagi selesai kok. Kamu istirahat duluan aja, ya?"

Namun Lian menggeleng kecil, wajahnya penuh ekspresi memelas.

"Tapi aku pengen nen sambil bobo bareng kamu ..." rengeknya lagi, seperti anak kecil yang minta ditemani tidur.

Salsa menahan tawa. "Astaga, bayi gede ini ya ... Kebiasaan banget sih kamu!"

"Aku nggak bisa bobo kalau nggak nen, Ca ..." ucap Lian, kini benar-benar terdengar seperti anak balita yang minta susu sebelum tidur.

Salsa tertawa kecil mendengarnya. Ia meletakkan pakaian yang sedang dilipat, lalu berjalan pelan ke arah Lian dan duduk di sampingnya.

"Iya, iya. Tapi kamu bobo duluan aja, ya. Aku kasih nen, tapi aku nggak ikut tidur dulu. Masih ada yang harus aku beresin. Nanti setelah kamu bobo, aku lanjutin packing-nya."

Lian mengangguk, menyerahkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat istrinya. Ia menyandarkan kepala ke dada Salsa dengan pasrah, seperti menemukan pelabuhan ternyaman dalam hidupnya.

"Kalo aku belum bobo, jangan dilepas nen-nya, ya ..." bisiknya pelan.

"Iya, bayi ... Buruan nih," ucap Salsa sambil tersenyum, membuka beberapa kancing baju piyamanya.

Tanpa menunggu lama, Lian pun menyambut dengan senyum kecil dan segera memasukkan puting istrinya ke dalam mulutnya. Perlahan, matanya mulai terpejam, seiring tubuhnya yang semakin rileks.

Salsa menatap wajah suaminya penuh kasih. Dielusnya kepala Lian dengan lembut, jemarinya menyusuri rambut yang sedikit berantakan. Gerakan tangannya teratur, menenangkan.

"Emang bayi gede kamu tuh ... Kalau nggak nen, nggak bisa bobo," gumam Salsa sambil terkekeh kecil.

Lian hanya menggumam pelan, tak lagi membalas, tandanya ia mulai tertidur. Salsa terus mengusap lembut rambut suaminya, sabar menunggu hingga napasnya benar-benar teratur dan wajahnya tampak damai dalam tidur.

Setelah yakin Lian benar-benar tertidur pulas, Salsa perlahan mengalihkan tubuhnya tanpa membangunkan sang suami. Ia menyelimuti Lian, mengecup keningnya pelan, lalu kembali menyelesaikan packing yang belum selesai.

***
Sinar mentari pagi menerobos perlahan lewat sela-sela tirai jendela, menyinari dapur mungil  penuh kehangatan. Di sana, Salsa tengah sibuk menyiapkan sarapan. Aroma harum dari nasi goreng dan telur mata sapi menguar memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang begitu damai dan menyenangkan. Hari ini, mereka akan memulai petualangan baru, berangkat ke Tokyo, sebuah perjalanan impian yang akhirnya menjadi kenyataan.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang