"Udah nyaman, Sayang?" tanya Lian pelan, memastikan sabuk seatbelt terpasang dengan benar di tubuh Salsa. Tangannya merapikan letak sabuk itu dengan hati-hati agar tidak menekan bagian perut istrinya.
"Udah, makasih," jawab Salsa lembut, sambil menepuk perlahan tangan suaminya. "Tolong bawain Puffy, ya?"
Lian mengangguk sigap. Ia membuka pintu belakang dan meraih carrier berwarna biru tempat Puffy beristirahat di dalamnya. Dengan penuh kehati-hatian, Lian mengangkat kucing kesayangan mereka itu lalu membawanya ke kursi depan, menaruhnya perlahan di pangkuan Salsa.
"Ini, Sayang," ucapnya sambil memastikan carrier terbuka dan Puffy bisa bergerak sedikit agar lebih nyaman.
Salsa tersenyum, menatap suaminya dengan rasa syukur yang sulit diungkapkan. Tangannya langsung mengelus kepala Puffy yang tampak sedikit bingung karena perjalanan panjang.
Setelah memastikan semuanya beres, Lian menutup pintu penumpang perlahan, lalu beralih duduk di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin mobil sambil menoleh memastikan kondisi Salsa dan Puffy baik-baik saja.
Mereka kini sudah tiba di Surabaya, dan Lian memutuskan untuk menggunakan mobil pribadinya yang memang sengaja ia titipkan di kantor cabang perusahaannya di kota ini. Pilihan itu jauh lebih praktis agar perjalanan lanjutan menuju Probolinggo terasa lebih nyaman, apalagi mengingat kondisi Salsa yang sedang hamil.
Sebenarnya, perjalanan kali ini tergolong cukup mendadak. Semalam, Salsa menangis tersedu-sedu di sampingnya sampai membuat dada Lian terasa sesak. Dengan suara bergetar, Salsa mengungkapkan kerinduannya pada orang tuanya di Probolinggo, terutama sekarang ketika usia kandungannya semakin besar dan perasaan rapuhnya kerap muncul.
Lian tak banyak bertanya apalagi berdebat, karena ia tahu betul bagaimana rindunya seorang anak kepada keluarganya, terlebih di masa kehamilan seperti ini. Tanpa menunda, ia langsung memesan tiket penerbangan ke Surabaya, lalu menyiapkan segala sesuatunya agar perjalanan darat ke Probolinggo bisa berlangsung nyaman dan aman.
Dari Jakarta, mereka menempuh perjalanan udara kurang lebih satu setengah jam, lalu berganti menggunakan mobil untuk menyelesaikan perjalanan. Lian merencanakan segalanya agar Salsa tidak perlu repot dan bisa beristirahat lebih banyak.
Sebelum benar-benar melajukan mobil, Lian sempat meraih tangan istrinya, menatap wajah Salsa dengan lembut.
"Nggak capek, kan?" tanyanya pelan, suaranya penuh perhatian.
Salsa menggeleng kecil sambil mengulum senyum manis. "Nggak kok, Sayang. Aman," jawabnya sambil menatap Lian dengan mata berbinar.
Lian balas tersenyum, menenangkan, lalu mengecup punggung tangan istrinya singkat. "Kalau mau beli apa-apa bilang ya. Kamu mau mampir beli cemilan dulu nggak?"
Salsa langsung mengangguk antusias, rona matanya berbinar seketika. "Mau ... mau stroberi, yogurt, sama es krim juga, boleh kan?" pintanya sambil sesekali mengelus bulu Puffy yang nyaman di pangkuannya.
Lian terkekeh kecil melihat tingkah istrinya yang manja, sekaligus gemas. "Boleh, boleh. Nanti kita cari supermarket atau minimarket dulu, ya." jawabnya dengan nada santai lalu mengelus perut istrinya.
Salsa menatap suaminya penuh rasa sayang. "Makasih, Ayah," ucapnya pelan, sambil menoleh ke arah jalanan Surabaya yang perlahan mulai dipenuhi kendaraan siang itu.
Lian kemudian menatap lurus ke depan, menekan pedal gas perlahan. Ia memastikan mobil melaju stabil, sembari sesekali mencuri pandang ke arah istrinya untuk memastikan Salsa nyaman.
**
"Kenapa sih mesti macet begini? Itu yang paling depan ngapain coba, diem aja dari tadi," gerutu Salsa sambil menyuapkan potongan stroberi ke mulutnya, nada kesalnya terdengar jelas. Sudah hampir dua puluh menit mereka terjebak di jalanan yang padat merayap, membuat suasana semakin gerah dan membosankan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Hayran Kurgu"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
