Setelah acara resepsi yang melelahkan tapi penuh tawa dan haru, malam pun datang menyambut dengan tenangnya. Para keluarga dan kerabat mulai masuk ke kamar hotel masing-masing untuk beristirahat. Begitu pula dengan Lian dan Salsa, pasangan baru yang kini melangkah ke fase kehidupan yang sama sekali berbeda, sebagai suami istri.
Saat pintu kamar hotel mereka terbuka, aroma lavender langsung menyambut. Cahaya lampu temaram berpadu dengan kelopak bunga mawar yang tersebar indah di atas ranjang, menciptakan suasana romantis yang hangat namun tetap lembut.
Salsa berdiri di ambang pintu, mematung. Matanya menyapu seluruh ruangan dengan perasaan campur aduk antara gugup, canggung, bahagia, juga sedikit takut. Tangannya menggenggam ujung kerudung yang masih ia kenakan, seolah berusaha mencari sandaran.
Lian menoleh ke belakang, melihat istrinya yang belum juga melangkah masuk. Ia tersenyum kecil.
"Kenapa diem gitu? Ayo masuk," ucap Lian lembut. Ia lebih dulu melangkah ke dalam, meletakkan koper di sudut kamar, lalu berbalik dan menghampiri Salsa.
Salsa masih belum bergerak.
Lian berdiri di hadapan istrinya, tak terburu-buru menyentuh, hanya menatap dengan penuh pengertian dan kelembutan.
"Hei, ayo masuk. Kamu pasti capek banget, kan? Gerah juga, ya? Mandi dulu, bersihin diri biar lebih enak. Habis itu kita istirahat," ucap Lian, suaranya hangat.
Salsa mengangguk pelan, lalu melangkah masuk. Ia menatap sekeliling kamar sejenak sebelum akhirnya duduk di depan meja rias. Tangannya mulai bergerak pelan, melepas perhiasan satu per satu, lalu mulai membersihkan riasan di wajahnya dengan tisu basah.
Cermin di depannya memantulkan wajah lelah tapi bahagia. Sesekali ia tersenyum kecil, seperti masih tak percaya hari ini benar-benar terjadi.
Sementara itu, Lian sibuk membuka koper dan mengeluarkan pakaian ganti. Ia berjalan ke arah lemari untuk menaruh koper dan beberapa barang pribadi mereka.
"Itu koper udah aku taruh di lemari, ya. Aku mandi dulu, biar segeran. Kamu santai aja dulu," ucap Lian sambil tersenyum, lalu berjalan masuk ke kamar mandi.
Salsa hanya mengangguk kecil sambil terus membersihkan wajahnya. Suara air dari kamar mandi terdengar samar, menyatu dengan aroma lavender yang masih menguar di udara. Di antara lelah yang belum tuntas, hatinya mulai terasa hangat dan nyaman. Rumah baru mereka mungkin belum berbentuk bangunan, tapi kehadiran Lian membuat semuanya terasa seperti pulang.
***
Dua puluh menit kemudian, Salsa selesai membersihkan wajahnya. Ia merapikan beberapa barang kecil di meja rias sebelum akhirnya ingin berbalik badan.
Namun tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka, dan Lian keluar dengan rambut basah, hanya mengenakan celana pendek, tanpa kaus.
"Astaghfirullah!" seru Salsa refleks, kaget sekaligus panik.
Lian terhenti, matanya membulat, lalu buru-buru mengambil kaus yang tadi ia taruh di atas tempat tidur.
Salsa menutup mata dengan tangan dan mengalihkan pandangan. "Ya Allah... Kenapa nggak dipake dulu kausnya baru keluar?!"
Lian terkekeh kecil, merasa bersalah sekaligus geli melihat reaksi istrinya. "Maaf, Sal! Kebiasaan... Kalo habis mandi malem suka langsung tidur tanpa atasan,"
"Udah, sana gih mandi. Nanti masuk angin," ucapnya lembut sambil menunjuk ke arah kamar mandi.
Tanpa banyak bicara, Salsa segera berdiri dan melangkah cepat masuk ke kamar mandi. Ia menutup pintu lalu bersandar sejenak di baliknya, wajahnya memerah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
