Untuk Nenek

7.3K 350 5
                                        

Dua hari setelah malam penuh keheningan itu, kabar mengejutkan datang pagi-pagi buta. Nenek Rika dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya yang tiba-tiba drop. Tak menunggu lama, Danis, Rita, dan Salsa langsung menuju rumah sakit, hati mereka diliputi kekhawatiran.

Saat tiba di ruang rawat, tubuh nenek Rika tampak lemah terbaring di atas ranjang. Selang infus menempel di tangan, dan selimut putih menutupi tubuhnya yang kurus. Meski begitu, senyum lembut tetap muncul saat melihat sosok Salsa masuk ke ruangan.

"Salsa..." lirih nenek Rika dengan suara pelan, hampir seperti bisikan yang terbawa angin.

"Iya, Nek?" jawab Salsa, langsung menghampiri.

"Temenin Nenek, sayang...," pinta Rika dengan mata berkaca. Ada getar dalam suaranya, seolah rasa sakitnya lebih pada hati yang terluka daripada tubuh yang melemah.

Tanpa ragu, Salsa duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan nenek Rika yang dingin, lalu mengelusnya pelan. "Salsa di sini, Nek... Salsa temenin," ucapnya lembut, berusaha menahan air mata.

Nenek Rika menatap wajah gadis di sampingnya dengan tatapan penuh harap, tatapan seorang wanita tua yang sedang menggantungkan sisa semangat hidupnya pada sosok yang ia cintai. Matanya sayu, tapi masih tersisa cahaya kecil di sana, seperti percikan harapan yang belum mau padam.

"Nenek sayang banget sama Salsa..." bisiknya lirih. "Nenek pengin sekali... lihat kamu pakai kebaya putih, senyum manis di pelaminan. Itu aja, sayang. Biarpun sebentar, nenek pengin lihat kamu sama Lian bahagia. Itu mimpi nenek..."

Salsa menelan ludah pelan. Tangannya menggenggam erat tangan keriput itu, mencoba meredam getar di dadanya. Hatinya tercekat, kalimat neneknya Lian begitu sederhana, namun terasa berat di pundaknya.

"Salsa juga sayang sama Nenek..." ucapnya pelan, berusaha tetap tenang. "Tapi... untuk urusan itu, Salsa minta waktu. Salsa belum bisa jawab sekarang, ya, Nek. Tapi Salsa pikirin lagi. Janji."

Nenek Rika mengangguk pelan. Tak ada paksaan dalam sorot matanya, hanya kerinduan yang tertahan akan harapan yang belum tentu kesampaian.

Di sudut ruangan, Lian berdiri dalam diam. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, enggan mengganggu momen hangat itu. Tatapannya tertuju pada kedua tangan yang saling menggenggam di atas selimut rumah sakit, tangan neneknya dan tangan Salsa.

Ada sesuatu yang mengalir pelan di dalam dadanya. Bukan kesedihan. Bukan juga bahagia. Tapi semacam kelegaan yang halus, saat tahu seseorang masih peduli... walau belum bisa menerima.

Salsa mungkin belum bisa mencintainya. Mungkin belum siap jadi istrinya. Tapi dia tetap datang. Tetap menggenggam tangan neneknya. Tetap jadi bagian dari cerita ini, walau belum tahu akhirnya ke mana.

Dan bagi Lian, itu cukup untuk saat ini.

Setidaknya, harapannya... belum benar-benar hilang.

***

Setelah beberapa saat menemani Nenek Rika, Salsa keluar dari ruang rawat untuk mengambil udara segar. Kepalanya masih penuh dengan pikiran yang terus berputar, belum ada yang benar-benar bisa ia simpulkan sejak malam pertemuan itu.

Langkahnya pelan menyusuri lorong rumah sakit yang sunyi. Saat hendak berbelok ke arah tangga darurat, ia mendengar suara langkah kaki lain menyusul dari belakang.

"Salsa..."

Suaranya lembut, namun cukup untuk membuat langkah Salsa terhenti. Ia menoleh pelan. Lian berdiri beberapa langkah di belakangnya, tampak lelah tapi ada sesuatu di matanya, bukan hanya cemas, tapi juga tulus.

"Makasih ya... kamu masih datang, kamu masih peduli dan sayang sama nenek," ucap Lian pelan.

Salsa mengangguk, suaranya ikut melembut. "Sama-sama, Lian. Aku memang sayang sama Nenek… dari dulu. Beliau selalu hangat, selalu baik. Aku udah nganggep beliau kayak nenekku sendiri."

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang