⚠️⚠️ warning!!! Teman-teman semua, sebelum melanjutkan untuk membaca, aku mau ngingetin di chapter ini ada adegan dewasa. Jadi, untuk yang masih anak-anak atau yang merasa nggak nyaman, boleh skip aja, ya. Harap bijak dalam memilih bacaan!!!
•••
Sudah sebulan berlalu sejak mereka kembali dari Tokyo, namun euforia kebahagiaan itu belum juga memudar. Bahkan, justru semakin hari hubungan Lian dan Salsa makin menjadi sorotan publik. Semuanya bermula dari sebuah unggahan sederhana milik Lian yang tanpa diduga langsung mencuri perhatian warganet.
Satu foto. Satu kata.
"Mine!🤍" tulis Lian sebagai caption, di bawah potret mereka berdua yang tengah menikmati senja di tepi Sungai Sumida.
Unggahan itu sontak dibanjiri ribuan komentar. Mayoritas memberikan doa dan pujian atas kebersamaan pasangan muda itu yang terlihat begitu serasi. Namun, seperti biasa, dunia maya tak pernah sepenuhnya ramah. Di tengah gelombang dukungan, tetap saja ada segelintir komentar miring, terutama dari mereka yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Salsa bukan lagi milik publik, tapi sudah menjadi milik Lian sepenuhnya.
Bagi Lian, unggahan itu bukan sekadar pamer kebahagiaan. Itu adalah bentuk pernyataan tegas. Ia memang sedang cemburu diam-diam gerah melihat banyak yang menjodoh-jodohkan Salsa dengan Bhaskara, partner kerja Salsa yang memang karismatik dan tak kalah populer.
Tapi bukannya tersinggung atau merasa risih, Salsa justru membalas sikap Lian dengan kasih sayang yang lebih besar. Ia makin nyaman menunjukkan rasa cintanya, tak lagi malu-malu tampil mesra di depan umum. Bahkan kini, rutinitas barunya adalah mampir ke kantor Lian, sekadar mengantar makan siang atau mencuri waktu singkat untuk saling melepas rindu di sela padatnya kesibukan.
Siang itu, seperti biasa, Salsa sudah tiba di kantor sang suami. Dandanan natural, dan tangannya menenteng tas berisi kotak makan berisi menu favorit Lian, nasi hangat, ayam kecap buatan sendiri, dan salad segar.
Senyumnya langsung disambut hangat oleh Tiara, resepsionis yang sudah hafal betul dengan kehadirannya.
"Mau ketemu Pak Lian, Bu?" sapa Tiara ramah sambil berdiri dari kursinya.
"Iya, meeting-nya sudah selesai, kan?" tanya Salsa sembari melirik jam di pergelangan tangannya. Jarum panjang hampir menyentuh angka dua belas.
"Sudah, Bu. Baru saja selesai. Sekarang Bapak sudah ada di ruangannya. Mau saya antar ke sana?" tawar Tiara sopan.
Salsa menggeleng pelan, bibirnya tersungging senyum manis. "Ah, nggak usah repot-repot. Saya bisa sendiri, kok. Saya langsung ke ruangan suami saya, ya?"
"Baik, Bu. Silakan," jawab Tiara sambil mengangguk. Matanya mengikuti langkah Salsa yang anggun menuju lift, seperti seorang ratu yang sudah tahu betul bahwa seluruh istana ini miliknya.
Salsa menatap pantulan dirinya di dinding lift saat pintu tertutup perlahan. Dulu, ia sempat merasa canggung saat masuk ke lingkungan kantor ini, apalagi dengan status sebagai istri bos besar. Tapi kini, semua kecanggungan itu telah berganti dengan rasa percaya diri dan ketenangan. Tidak ada lagi perasaan takut akan penilaian orang. Tidak ada lagi rasa asing.
Ketika lift terbuka di lantai tempat ruangan Lian berada, Salsa melangkah keluar dengan mantap. Senyum di wajahnya tak pernah pudar, terlebih saat membayangkan ekspresi suaminya nanti saat tahu ia datang membawa makan siang kesukaan.
"Siang, Say—" langkah Salsa terhenti di ambang pintu. Matanya langsung menangkap pemandangan di dalam ruangan: Lian tengah duduk di belakang meja, berbincang serius dengan sekretarisnya, Flora.
Refleks, Salsa mundur setengah langkah.
"Eh, maaf. Aku nggak tau kalian lagi ngobrol. Aku keluar lagi aja, ya," ucapnya buru-buru, hendak menarik kembali pintu dan menutupnya pelan. Tapi Lian lebih cepat bersuara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
