Setelah selesai makan dan berbincang hangat, Ayah Aron dan Bunda Yati berpamitan untuk pulang. Mereka memeluk Salsa dan Lian dengan penuh kasih, seolah menitipkan doa agar rumah tangga keduanya selalu diberkahi. Senyum lega dan bahagia tampak jelas di wajah mereka sebelum akhirnya melangkah keluar rumah dengan langkah pelan.
Suasana rumah mendadak terasa lebih sepi, namun kehangatannya masih tertinggal. Salsa dan Lian kemudian duduk berdampingan di ruang tengah, menikmati sisa malam yang syahdu. Lian meraih ponselnya, membuka aplikasi panggilan video, lalu menekan nomor Mama dan Papa Salsa.
Tak butuh waktu lama, layar ponsel menyala, menampilkan wajah Mama Rita dan Papa Denis. Senyum hangat mereka muncul dari balik layar, seolah jarak ribuan kilometer tak mampu menghalangi cinta yang tersambung di hari yang fitri ini.
"Minal aidzin walfaizin ya, Ma, Pa," ucap Salsa sambil tersenyum, meski suaranya terdengar bergetar. "Caca minta maaf ya kalau selama ini belum bisa jadi anak yang baik ... masih sering keras kepala, kadang suka membantah, belum bisa selalu nurut sama Mama Papa. Maafin Caca, ya ..."
Mama Salsa menatap putrinya dengan penuh kasih. Matanya berkaca-kaca, lalu ia mengangguk pelan. "Mama sudah maafin dari dulu, Ca. Kamu itu anak yang baik, Sayang. Jangan merasa kurang, ya? Mama justru bangga banget sama kamu. Kamu kuat, kamu penyayang, dan kamu selalu berusaha jadi lebih baik."
Salsa menunduk, menahan air mata yang sudah siap jatuh. Lian yang duduk di sampingnya langsung menggenggam tangan istrinya erat, memberi kekuatan lewat genggaman itu. Ia lalu ikut menundukkan kepala dan berbicara dengan suara tenang.
"Ma, Pa ... Lian juga mau minta maaf. Kalau selama ini Lian belum bisa jadi menantu yang sempurna, kalau ada sikap atau ucapan Lian yang mungkin pernah bikin Mama Papa nggak nyaman. Lian benar-benar minta maaf. Tapi Lian janji, Lian akan terus berusaha jadi suami yang baik untuk Caca, dan insya Allah juga jadi menantu yang bisa bikin Mama Papa tenang."
Papa Salsa tersenyum bijak dari balik layar, mengangguk perlahan. "Kamu nggak perlu khawatir soal itu, Lian. Papa Mama malah bersyukur, Caca bisa punya pendamping seperti kamu. Kamu sudah jadi suami yang baik buat dia. Itu yang paling penting."
"Terima kasih, Pa ... Ma ..." ucap Lian pelan, matanya tampak berkaca.
Salsa ikut menimpali, kali ini suaranya penuh harap. "Ma, Pa ... nanti kalau ada waktu senggang, Mama sama Papa datang ke sini, ya? Caca kangen banget. Rasanya pengen peluk Mama Papa."
Mama Rita tersenyum hangat. "Iya, Sayang. Insya Allah nanti Mama sama Papa atur waktu untuk ke sana. Mama juga kangen sama kamu."
"Jangan lama-lama ya, Ma, Pa? Kalau bisa minggu depan udah datang," pinta Salsa dengan nada manja khas anak perempuan pada orang tuanya.
Papa Denis tertawa kecil, lalu menjawab dengan penuh kehangatan. "Nanti Papa usahain, ya, Sayang. Papa juga udah kangen banget sama kamu. Sama cucu Papa juga."
Mendengar itu, Salsa refleks mengusap perutnya sambil tersenyum, sedangkan Lian mencium punggung tangannya penuh cinta.
Percakapan berlanjut ringan, mereka saling bertukar kabar, mendoakan kesehatan, hingga berbagi tawa kecil di sela-sela cerita. Meskipun hanya melalui layar ponsel yang kecil, kebersamaan itu terasa nyata. Jarak bukan lagi penghalang, karena hati mereka tetap saling terhubung, terlebih di hari yang fitri ini.
Obrolan akhirnya ditutup dengan doa bersama, suara Mama Papa Salsa bergetar namun penuh ketulusan. "Semoga kalian selalu dilindungi Allah, selalu sehat, bahagia, dan rumah tangganya penuh berkah," ucap Mama Rita.
Air mata Salsa akhirnya jatuh juga, sementara Lian merangkul bahu istrinya dengan lembut. "Aamiin," ucap mereka hampir bersamaan, disertai senyum tipis yang menghangatkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
