Rumah Baru

8.4K 376 4
                                        

Tujuh hari telah berlalu sejak kepergian Almarhumah Nenek Rika. Malam itu, rumah keluarga Aris dan Yati tampak ramai. Tahlil tujuh harian tengah dilaksanakan, dihadiri anak-anak yatim piatu dan warga sekitar yang datang untuk mendoakan almarhumah.

Karpet merah tergelar rapi, membentang dari ruang tengah hingga teras. Aroma harum bunga dan dupa memenuhi udara. Di sudut ruangan, sebuah bingkai foto Nenek Rika terpajang anggun, dikelilingi kelopak melati dan mawar putih yang ditata dengan penuh cinta.

Lian duduk di barisan depan bersama Aris. Wajahnya tampak tenang, meski matanya masih menyimpan kesedihan. Di sisi lain, Salsa duduk menemani Yati yang masih sesekali mengusap air matanya.

"Bun, kalau nenek lihat dari sana, pasti senang lihat banyak yang sayang sama beliau," bisik Salsa lembut, menatap ke arah para tamu.

Yati mengangguk pelan. "Iya, Nak... Nenek itu memang nggak pernah berhenti berbuat baik, mangkanya banyak banget yang sayang dan kehilangan dia. Dari dulu yang dia pikirin cuma orang lain."

Salsa menggenggam tangan ibu mertuanya dengan lembut. "Kebaikan Nenek nggak akan pernah hilang, Bun. InsyaAllah jadi bekal beliau di sana."

Doa pun mulai dipanjatkan. Sang ustaz mengangkat kedua tangannya, diikuti seluruh hadirin.

"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa hamba-Mu Rika binti Abdullah. Lapangkan kuburnya, terang lah jalannya, tempatkan dia di sisi terbaik-Mu," suara ustaz bergetar pelan, mengisi ruang dengan kesyahduan.

Lian menunduk dalam-dalam saat semua melantunkan "aamiin", hatinya terasa bergetar. Ia menoleh sedikit ke arah foto Nenek dan berbisik dalam hati, " Semoga doa kita semua nyampe ke sana, Nek..."

Selesai doa, anak-anak yatim dipersilakan menikmati hidangan yang telah disiapkan. Salsa dan Lian turun langsung membantu membagikan santunan.

"Terima kasih ya, Kak," ucap seorang anak kecil sambil menerima bingkisan dari Lian.

Lian tersenyum, mengusap kepala anak itu. "Sama-sama. Doain Nenek Rika ya, biar tenang di sana."

Salsa yang berdiri di sampingnya hanya menatap penuh haru. Ia tahu, luka di hati suaminya belum sembuh, tapi melihat Lian mencoba kuat dan terus berbuat baik, membuatnya semakin kagum.

Setelah acara selesai dan para tamu mulai berpamitan, keluarga inti duduk melingkar di ruang tengah.

"Makasih ya, Salsa, Lian... udah bantu semuanya," ucap Aris lirih.

"Gausah makasih, Yah," jawab Lian pelan. "Karena dari dulu, Nenek yang selalu ngajarin kami soal berbagi."

"Semoga kita bisa terus jaga apa yang Nenek tinggalkan," tambah Salsa, menatap mereka satu per satu.

Yati menatap keduanya dengan mata berkaca. "Kalian udah jadi bagian dari kekuatan keluarga ini. Nenek pasti bangga lihat kalian."

Dan malam itu ditutup dengan pelukan hangat, air mata yang tak lagi hanya duka, tapi juga rasa syukur atas warisan cinta dan kebaikan dari sosok yang begitu mereka cintai.

***

Pagi harinya, mentari belum tinggi saat Lian dan Salsa bersiap untuk pergi. Koper dan beberapa barang penting sudah rapi di bagasi mobil. Hari itu, mereka resmi berpamitan untuk pindah ke rumah baru yang telah disiapkan Lian, tempat di mana mereka akan memulai kehidupan sebagai pasangan yang lebih mandiri, jauh dari rumah orang tua, tapi tak pernah jauh dari cinta keluarga.

Di ruang tamu, Yati dan Aris sudah menunggu. Wajah mereka menyimpan haru, namun tetap tersenyum untuk melepas kepergian anak dan menantu tercinta.

Lian menghampiri sang ayah lebih dulu, menunduk dan mencium tangan beliau.

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang