Ngidam

4.7K 314 8
                                        

Setelah beberapa suap bubur kacang hijau hangat dari tangan Ayah Aris, Salsa mulai bersandar perlahan di sofa. Perutnya terasa nyaman, tubuhnya sedikit lebih ringan, dan wajahnya pun mulai kembali berseri. Di sisi lain, Lian tetap setia duduk di sebelahnya, sesekali membenahi selimut kecil yang menutupi kaki istrinya.

Ayah Aris pun kembali menyandarkan tubuhnya di sofa, melepaskan napas lega. Sementara itu, Bunda Yati yang sudah turun dari kamar tengah menyiapkan jus buah di dapur untuk mereka semua. Aroma jeruk dan melon mulai menguar lembut ke seluruh ruang tamu.

Namun tak lama kemudian, Salsa menoleh pelan ke arah suaminya. Ekspresi di wajahnya berubah. Kini tampak sedikit lebih serius, dengan mata besar yang berkedip pelan seperti sedang berpikir dalam.

"Sayang ..." panggilnya lirih.

"Hmm?" Lian langsung menoleh penuh perhatian. "Kenapa, Sayang?"

Salsa menggigit bibir bawahnya sebentar, lalu menatap mata Lian dengan wajah polos dan penuh harap. "Aku tiba-tiba ngidam tahu bulat yang digoreng dadakan itu ... Tapi harus yang dari mobil keliling. Yang suaranya itu, 'tahu bulat digoreng dadakan ... lima ratusan ...'. Pokoknya yang itu, ya."

Lian sempat terdiam beberapa detik, lalu tertawa kecil dengan wajah tak percaya. "Sekarang, Ca? Ini udah jam sembilan malam, lho."

Salsa mengangguk mantap, wajahnya begitu serius seolah sedang menyampaikan permintaan yang paling krusial dalam hidupnya. "Iya, sekarang. Soalnya aku tadi mimpi tahu bulat, terus dari tadi rasanya ngiler banget, kebayang terus di kepala."

Bunda Yati yang mendengar celotehan putrinya dari dapur, spontan mendekat sambil tertawa kecil. Ia duduk di sisi lain Salsa, mengusap punggung putrinya dengan kasih sayang. "Aduh, cucu Bunda ada-ada aja deh. Mintanya tahu bulat jam segini ..." candanya sambil tersenyum geli.

Ayah Aris yang duduk di seberang ikut tertawa. "Cucu Opa ini unik betul. Lian, gih cari sana, jangan sampe nggak nurutin, kasian cucu Ayah," ucap Aris sambil melirik ke arah anak lelakinya.

Lian mengangkat kedua tangan pasrah. "Bukan nggak mau, Yah. Tapi itu tahu bulat keliling kayaknya udah nggak ada jam segini. Ini di Jakarta, bukan di desa. Malam-malam begini udah jarang banget," keluhnya dengan nada bercanda.

"Ya cari dulu lah, masa gamau nurutin keinginan cucu Ayah," celetuk Ayah Aris sambil tertawa.

"Kalau nanti nggak nemu, boleh diganti sama gorengan abang-abang depan gang, ya, Sayang?" bujuk Lian sambil mengelus lembut lengan istrinya.

Salsa mendengus pelan, wajahnya tampak kecewa namun masih memaksakan senyum. "Nggak mau, aku pengennya tahu bulat yang itu. Sama es kelapa muda juga, ya. Yang air kelapanya manis, dikasih jeruk nipis sedikit ... terus pakai sedotan warna pink. Harus yang pink."

Lian membelalakkan mata sambil menahan tawa. "Wah, makin lengkap request-nya. Ini anak Ayah beneran mulai banyak maunya," ucapnya sambil menatap perut Salsa dengan senyum geli.

Bunda Yati sampai menepuk jidat pelan saking gemasnya. "Astagfirullah, Nak ... mintanya macam-macam banget ya. ," kelakarnya.

Ayah Aris tergelak, bahkan sampai memegang perutnya sendiri karena terlalu banyak tertawa. "Semangat ya, Li. Tantangan jadi suami siaga tuh gini, lho," katanya sambil menepuk bahu Lian.

"Pokoknya harus ada videonya, ya. Aku pengen banget denger lagi suara 'tahu bulat digoreng dadakan' itu. Harus! Biar puas," rengek Salsa, kini semakin terdengar seperti anak kecil.

Lian tertawa, lalu menunduk untuk mencium kening istrinya. "Baiklah, Tuan Putri. Saya akan keluar mencari tahu bulat dan es kelapa muda jam sembilan malam di Jakarta. Tapi kalau nggak ada, gapapa, ya? Nanti besok cari lagi,"

Our MarriageTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang